Petualangan Merawat Keuangan

WhatsApp
Telegram
Facebook
Twitter

Selasa 22 Februari, ia masih sibuk mendorong brankar pasien IGD. Lalu keesokan harinya, Rabu 23 Februari, alumni Ilmu Keperawatan UI ini sudah duduk di depan meja kantor Rumah Kepemimpinan Pusat sebagai officially di tim kemitraan dan fundraising. Tanpa jeda. Jika lumrahnya seseorang mengambil kesempatan berlibur setelah resign dari pekerjaan, tapi tidak berlaku baginya. “Hidup harus terus berlanjut”, ungkap Lusi Cahya Pertiwi atau akrab disapa Mba Lusi yang ‘tidak bisa diam’ dan  selalu mencari aktivitas yang mengajaknya bergerak serta berpikir lebih dalam.

Torehan prestasi alumni dan peserta serta dedikasi pengurus yang mencurahkan segenap kemampuannya membuat Mba Lusi kian minder setelah mendalami seluk beluk Rumah Kepemimpinan. Namun di bawah bimbingan langsung wakil direktur saat itu, Bang Bachtiar Firdaus, ia ditempa dan digembleng habis-habisan, hingga alhamdulillah banyak hal baik yang diterima serta semakin menguatkan karakternya jauh lebih baik. Tiga tahun berkutat dengan dunia funding, Allah swt. masih menakdirkan Mba Lusi berjodoh dengan RK, tetapi dengan peran yang lain: Masuk ke tim keuangan.

Tahun keempat, ia ditempatkan bergabung ke tim keuangan. “Denial, sudah pasti! Perasaan minder, insecure, dan tidak berdaya kembali menghantui. Ya Allah, apalagi ini? Mengapa saya?” ucapnya. Mba Lusi yang merasa tidak punya kompetensi akhirnya mencoba mencari penjelasan dan petunjuk-Nya. “Dipercaya, mbak. Jujur, detail dan disiplin,” ujar rekan kerjanya saat itu. Butuh tiga bulan dirinya menerima. Dari sini ia belajar bahwa karakter dan skill harus dibangun dan dibentuk selama kita mau belajar.

“Jika kita sendiri saja tidak ridho, lalu bagaimana cara kita bisa berharap ridho dari-Nya atas apa yang kita lalui?” semangat Mba Lusi dalam menerima kenyataan. Senantiasa menjadikan dirinya selayaknya gelas kosong yang siap belajar dari siapapun. Pengalaman nombok, difitnah, tidak disukai orang, rasanya mewarnai perjalanannya dalam bertugas. “Kalau belum sampai dibenci, dibilang ribet, maka tandanya belum jadi orang keuangan tulen, Mbak!” nasihat Bang Ichsan, sosok yang menguatkan Mba Lusi kala itu. Amanah ini bukan main-main sebab semua aturan dibuat berasal dari sistem bukan peraturan pribadi.

“Disiplin adalah kunci, tegas adalah harga diri, berani dalam implementasi, dibalut dalam totalitas dan loyalitas. Itulah gambaran seorang Mbak Lusi. Disiplin mencakup seluruh aspek hidupnya termasuk disiplin mengatur keuangan pribadi, menjaga ritme kerja dan liburan, menjaga kesehatan fisik dan mental, menjaga kebiasaan baik seperti mengatur asupan makanan, olahraga, membaca buku, atau bahkan yang berkaitan dengan investasi akhiratnya,” lugas sosok punggawa dengan predikat tidak pernah terlambat datang ke kantor.

Menyukai dunia keuangan pada akhirnya membuka jalan Mba Lusi pada banyak pengalaman seperti dipercaya mengatur dan mengelola keuangan institusi, perusahaan, komunitas, organisasi, lingkungan masyarakat, hingga individu (rumah tangga). Pun tak ketinggalan, melakukan apa yang ia sukai adalah bentuk pengendalian raga, karena awalnya jiwa sudah menyukai. Berolahraga (lari, jogging), jalan kaki, hunting foto, mendaki gunung, menelusuri hutan, bercengkrama adalah sekian dari banyak hobi yang ia geluti. Selain menjalani hobby tersebut, salah satu hal yang ia lakukan adalah mendekat.

“Siapa yang tidak merasa dekat ketika pernah berinteraksi dengan Mbak Lusi? Hampir tidak ada. Entah dia pengurus, donatur, alumni, bahkan peserta sekalipun nih yang belum kenal sebelumnya pasti terasa sudah kenal bertahun-tahun,ya kan?” kata seseorang ketika membicarakan sosok manager keuangan satu ini. Menikmati bekerja di balik layar dan mendekati seseorang untuk menggali banyak hikmah akan kehidupan adalah karakter unik yang ia miliki. Hal ini membuatnya dapat membedakan mana rasa sekadar ingin tahu masalah seseorang dan mana yang mau mengambil pelajaran dari seseorang dalam memecahkan masalahnya.

More to explorer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *