Apel Kebangsaan Rumah Kepemimpinan: 5 Pesan untuk Pemuda dalam Meneruskan Estafet Mempertahankan Kemerdekaan

17 Agustus 1945 menjadi hari yang sakral bagi Bangsa Indonesia. 75 Tahun sudah sejak hari bersejarah tersebut, Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.  Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan, Rumah Kepemimpinan menyelenggarakan Apel Kebangsaan Virtual bersama seluruh peserta angkatan 10.

Dalam kesempatan tersebut, Pak Bachtiar Firdaus, selaku Pembina apel memberikan 5 pesan kepada seluruh peserta yang hadir tentang bagaimana peserta Rumah Kepemimpinan melanjutkan estafet perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pertama, Tempa iman dan karakter. Rumah Kepemimpinan selalu mengingatkan kepada seluruh peserta, alumni, serta pengurus bahwa hal utama adalah karakter. Indonesia ini tidak akan pernah merdeka tanpa karakter yang kuat. Oleh karena itu, Pak Bachtiar mengajak seluruh peserta apel untuk meng-install  seluruh karakter baik dan meng-uninstall karakter-karakter buruk yang tidak bermanfaat dalam perjuangan

Kedua, Mengatur Produktivitas. Pak Bachtiar selanjutnya mengingatkan bahwa setiap orang diberikan otak, hati, waktu yang sama akan tetapi tidak semua dapat mengoptimalkannya. Kunci optimalisasi tersebut adalah mengelola, merencanakan, dan mengevaluasi  produktivitas.

Ketiga, Pesan yang disampaikan Pak Bachtiar adalah Fokus dan Bekerja Keras. Tanpa fokus dan bekerja keras, mimpi-mimpi besar, karya-karya besar, dan hal-hal besar lainnya tidak akan bisa dicapai. Fokus. Ingat selalu prinsip pareto, “Fokus pada 20% yang menghasilkan 80%”

Keempat adalah hal yang sangat penting. Membangun Titik Temu. Pak Bachtiar sangat menekankan hal ini. Jangan membangun tembok-tembok penghalang tapi bangunlah jembatan-jembatan penghubung. Caranya bangun titik temu. Dengan begitu, sumberdaya yang luar biasa akan teraktivasi. Ingat bukan hanya ada 100, 1000, atau  10000 tetapi sangat banyak perbedan dan untuk menyatukannya hanya perlu satu, dua, atau tiga titik temu. Maka dengan bergabung di Rumah Kepemimpinan, jadilah solidarity maker.

Terakhir, dengan banyaknya masalah yang ada di negara Indonesia, maka hal yang paling penting dalam mengisi kemerdekaan dan mempertahankannya adalah dengan menjadi problem solver. Masalah-masalah tersebut, tidak akan selesai dengan hanya berdiskusi panjang lebar mengenai masalah, akan tetapi butuh mereka yang bergerak dengan solusi.

Mengenang dr. Arief Basuki, Sp.An. : Pejuang Kemanusiaan dan Kerja Peradaban

Panitia diskusi WA mengajukan topik yang berat untuk mengenang dr. Arief Basuki, Sp.An. Seorang dokter ahli anestasi yang bertugas di RS Haji Surabaya dan mencapai syahidnya saat setia merawat pasien Covid-19. Topik itu di luar disiplin ilmu yang Penulis tekuni. Tapi, Penulis coba memaparkan beberapa momen perjumpaan dengan Dokter Arief yang tercatat sebagai salah seorang Pendiri BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) dan Pembina Rumah Kepemimpinan Regional IV Surabaya. Ia memberi contoh: bagaimana melakukan kerja-kerja peradaban secara sederhana.

Perkenalan pertama sekitar tahun 1985, ketika Penulis kuliah di Universitas Airlangga. Saya harus berpindah-pindah tempat kost untuk mencari lingkungan yang tepat demi menghemat biaya karena berusaha hidup mandiri. Orangtua saya tinggal di Jakarta dan bekerja di perusahaan swasta, sehingga harus bekerja keras untuk menafkahi keluarga.

Salah satu tempat kost yang pernah saya tinggali di Jalan Kedung Tarukan, Surabaya bersama teman-teman dari Fakultas Kedokteran Unair. Saya sendiri kuliah di FISIP Unair, jurusan Hubungan Internasional. Entah mengapa, beberapa kali saya berbagi tempat kost dengan mahasiswa FK, malah tidak pernah tinggal bersama mahasiswa FISIP. Saya juga tidak pernah tinggal satu kost dengan Mas Arief, begitu saya memanggilnya, karena dia tinggal di sekitar Kedung Sroko.

Dalam interaksi antar mahasiswa itu, saya memahami perbedaan karakter dan cara belajar: mahasiswa jurusan eksakta versus humaniora. Mahasiswa eksakta terlihat lebih disiplin waktu, tertib belajar tiap paket dan termotivasi untuk mencapai nilai terbaik dan selesai secepatnya: menjadi dokter, misalnya. Sedangkan mahasiswa humaniora, wa bil khusus FISIP sebaliknya: mengatur waktu lebih santai, mau belajar banyak hal (terutama membaca buku, yang belum tentu dipakai di kampus), dan tidak terdorong menyelesaikan studi tepat waktu. Sebab, jika sudah selesai studi, mau kerja sebagai apa? Itu pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Kuliah saya pun jadi berkepanjangan, bahkan nyaris DO (drop out). Padahal, pada tahun-tahun pertama, nilai hasil studi saya termasuk yang terbaik di angkatan. Saya bersama kawan-kawan FISIP membentuk kelompok studi dan akhirnya jadi LSM bernama Pusat Bina Swadaya Ummat (PBSU). Salah satu kegiatan PBSU adalah membina anak-anak yatim dan dhuafa, termasuk kalangan anak-anak jalanan di sekitar Kampus Unair. Saya ikut meramaikan Masjid Nuruzzaman di lingkungan Kampus Unair dengan kegiatan Pendidikan Bocah. Aksi sosial seringkali diisi dengan pemeriksaan kesehatan, dan mas Arief mengerahkan calon-calon dokter muda untuk melakukan pelayanan medis standar.

Momen aksi yang paling mengesankan adalah Kafilah Kebajikan (Qafilat al-Birr) di Pulau Sapeken, Madura. Kita harus menyeberang ke Pulau Madura hingga sampai di ujung Sumenep, dari pelabuhan Kalianget menyeberang ke Pulau Kangean, dari sini nyeberang lagi menuju Sapeken. Pada era 1990-an masih ada kapal feri antar pulau, berangkat sepekan dua kali dari Surabaya dengan menempuh perjalanan laut sekitar 12 jam lamanya. Bila memakai kapal cepat bisa 5-6 jam, namun harus tahan dengan terjangan gelombang laut lepas.

Saya bertugas sebagai koordinator untuk kegiatan aksi sosial selama 3 bulan di Pulau Sapeken, jadi mirip KKN di pulau penghasil kerang mutiara, kepiting dan kerapu, serta berbagai jenis hasil laut. Alhamdulillah, kami didukung penuh KH Dailamy pimpinan Pondok Pesantren Abu Hurairah yang menjadi basecamp, sehingga berbagai kegiatan dapat dirancang tetap sasaran. Kami tak hanya melayani warga Sapeken yang berjumlah 5.000 jiwa, melainkan juga berkunjung ke pulau-pulau di sekitarnya: Pagerungan, Paliat, Sasiil, Sabunten dan lainnya (ada 21 pulau kecil berpenghuni di Kecamatan Sapeken, masih banyak lagi yang belum berpenghuni).

Kegiatan utama tim sosial adalah melatih santri dan berdakwah kepada beragam kelompok masyarakat. Sementara tim medis bergilir sepekan atau dua pekan sekali, melakukan layanan kesehatan keliling pulau. Dokter Arief yang mengatur jadwal tim medis dari Surabaya. Warga paling antusias menanti kedatangan tim medis agar mendapat vitamin dan tambahan makanan bergizi. Selain itu, kami dibantu tim insinyur dari ITS yang membangun pemancar radio/televisi, sehingga acara pengajian dari Masjid Abu Hurairah dapat dipancarkan ke seluruh rumah penduduk. Sayangnya, pemancar darurat belum bisa menembus gelombang lintas pulau yang dipisahkan oleh laut bebas. Pulau yang paling jauh dari Sapeken adalah Masalembo, berbatas Laut Sulawesi.

Belajar Islam di Kota

Selain menggerakkan kegiatan sosial, teman-teman kampus juga mendirikan lembaga pengajaran bahasa Arab dan ilmu keislaman (Ma’had Ukhuwah Islamiyah) dengan dukungan alumni Ponpes Gontor dan Universitas Islam dari Timur Tengah yang baru kembali ke Tanah Air. Saya bertugas sebagai Sekretaris dan ikut mengajar Tarikh Islam. Program bahasa Arab dan Ulum Islam diikuti peserta dari beragam latar belakang, termasuk mahasiswa kedokteran. Mas Arief termasuk yang rajin mengikuti kajian yang bisa disebut nyantri ala anak muda kota.

Saya sering memperhatikan sejumlah pengamat yang mengkritik cara belajar santri kota dengan menyindir belajar Islam di tengah jalan. Setelah saya cermati, persoalannya pada metodologi/kurikulum, referensi standar, dan kompetensi guru yang mengajar. Di Ma’had UI, kami berupaya memenuhi standar pengajaran Islam yang berlaku formal, meskipun kegiatan belajar masih berupa kursus/nonformal. Beberapa tahun kemudian, sesuai dengan kemampuan lembaga, proses belajar dibuat lebih formal dan berakreditasi.

Sebenarnya, belajar ala pesantren lebih berkesan karena setiap santri akan fokus kepada substansi dan target belajar, bukan nilai dan bukti formalitas (rapor/ijazah). Tetapi, kurikulum modern membuat proses belajar menjadi formal berjenjang, sehingga ada kualifikasi khusus untuk mengikuti jenjang lebih tinggi, meski substansi pelajaran belum tentu dikuasasinya. Demi melengkapi proses belajar, saya nyantri kalong ke Pesantren Persatuan Islam, Bangil, yang amat bersejarah karena didirikan oleh Ahmad Hassan, salah seorang guru bagi para pemikir modernis Muslim. Saya berinteraksi intensif dengan Ustadz Hud Abdullah Musa, yakni cucu A. Hassan, terutama belajar tentang sejarah dan falsafah Islam. Disamping dengan guru-guru lain yang kompeten di bidang Hadits dan Fiqh Islam.

Tidak hanya belajar tentang Islam, di Bangil akhirnya saya mengembangkan profesi sebagai penulis atau jurnalis, dengan menerima tugas redaksi di majalah al-Muslimun. Saya menulis berita khas dan opini aktual, serta sempat menerjemahkan beberapa artikel/buku tentang pemikiran Islam klasik. Tak disangka, artikel di majalah itu ternyata menjadi bacaan dan rujukan teman-teman di kampus, termasuk Dokter Arief. Kami sering berdiskusi tentang isu-isu kontemporer seperti perang di Afghanistan yang menyebabkan runtuhnya kedigdayaan Uni Sovyet. Saya meresapi cara berpikir Mas Arief sebagai orang eksakta dan dokter, tapi berjiwa kemanusiaan. Sebagai jurnalis, saya harus merekam semua sudut pandang dan merangkumnya jadi pandangan otentik. Saya baru merintis karir sebagai jurnalis, sementara beliau sudah menjadi dokter profesional.

Menghayati Profesi Jurnalis

Setelah menyelesaikan kuliah nyaris di akhir batas waktu, saya langsung bekerja di perusahaan media nasional. Sebenarya sejak masih mahasiswa saya sudah bekerja sebagai kontributor dan penulis lepas untuk beberapa media lokal. Di Jakarta, saya meniti karir selaku reporter, kemudian redaktur dan koordinator liputan. Saya tak sempat magang jadi redaktur pelaksana dan selanjutnya berpeluang menjadi pemimpin redaksi, karena perbedaan sikap dengan pemilik modal. Saat itu, sedang menggelora semangat suksesi nasional dan gerakan reformasi (1996-1998).

Sebagai jurnalis, saya bertugas ke seluruh wilayah di Indonesia untuk meliputi beragam peristiwa. Mulai dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan penyenderaan warga oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sesekali saya bertugas ke Jawa Timur, misalnya meliputi peristiwa pembunuhan berantai terhadap dukun santet di kawasan Banyuwangi, Jember dan Malang. Mas Arief kadang mengontak dan saya mendapat informasi lapangan dari seorang dokter yang akrab bergaul dengan masyarakat kelas bawah. Saya jadi tahu fakta dan informasi tidak hanya di permukaan dan formal belaka dari aparat keamanan.

Dalam rangka tugas jurnalistik pula, saya meliput hingga ke daerah konflik seperti Palestina, Iraq dan Bosnia-Herzegovina. Selain mewawancarai tokoh-tokoh penting di semua wilayah bergolak, saya menemukan jejak-jejak pahlawan kemanusiaan seperti dokter (Medicins Sans Frontieres) yang membantu menyelamatkan korban perang. Mas Arief tak mengumbar kisahnya di berbagai wilayah bergolak sebagai relawan kemanusiaan, tetapi refleksinya saat bertemu sangat menyentuh.

Dari berbagai refleksi dan bacaan, akhirnya saya merumuskan sejumlah aspek vital dalam pengembangan diri (self mastery). Saya membagi tahapan perkembangan hingga mencapai kematangan seseorang dalam menggali potensi dirinya. Mulai dari HOBI (mengisi waktu luang dan menghibur diri) => OKUPASI (bekerja mengerahkan keterampilan untuk mendapatkan upah dan ganjaran) => PROFESI (bekerja penuh tanggung-jawab dan menjaga kode etik) dan akhirnya => DEVOSI (bekerja dengan semangat pengabdian yang tulus untuk kemanusiaan dan ibadah kepada Sang Pencipta).

Dalam sepi, saya acapkali bertanya pada diri sendiri: untuk apa saya bekerja sebagai jurnalis? Saya mewawancarai dan menulis berita tentang sejumlah orang yang kemudian menjadi tokoh terkenal (public figure). Tokoh-tokoh reformasi yang kemudian menjadi pejabat tinggi di lembaga negara. Sambil membayangkan perjuangan para dokter pahlawan kemanusiaan di garis depan, mereka bertaruh nyawa di wilayah bencana atau konflik/perang. Diam-diam Mas Arief menjadi salah seorang role model, disamping ayah saya almarhum yang pernah mendirikan sebuah perusahaan nasional sebelum dicaplok oleh pemilik modal besar.

Menjadi Aktivis

Di tengah aktivitas profesional sebagai jurnalis, saya juga bergabung dengan teman-teman Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Organisasi Nonpemerintah (NGO). Saya berkenalan dengan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) yang didirikan mantan Menteri Keuangan Marie Muhammad dan komunitas pengawas kebijakan, sempat menjadi Sekretaris Eksekutif. Melalui MTI. saya berinteraksi dengan teman-teman aktivis antikorupsi dari Indonesian Corruption Watch (ICW) dan organisasi antikorupsi lokal di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 2001, akhirnya kita membentuk Gerakan Rakyat Antikorupsi (GeRAK) Indonesia dan saya dipercaya sebagai Konsulat Nasional. Banyak isu penting yang diadvokasi, salah satunya adalah produk kebijakan/Keputusan Presiden Soeharto yang dianggap menyimpang, ditelaah secara cermat dan dijadikan salah satu referensi untuk peradilan kasus korupsi Soeharto di masa pemerintahan Orde Baru.

Saya bersyukur, karena teman-teman aktivis dakwah juga membentuk organisasi swadaya semisal Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) di bawah Yayasan Nurul Fikri pada bulan Agustus 2002. Ini lembaga pembinaan mahasiswa yang bervisi jauh ke depan (create future leaders) tapi tetap berpijak pada akar sejarah bangsa. Saya ikut bergabung sejak angkatan pertama PPSDMS mengontrak rumah di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan dan melatih 20 mahasiswa terpilih dalam keterampilan jurnalistik. Pada waktu yang hampir bersamaan, berdiri pula Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang menampung tenaga kesehatan dan relawan kemanusiaan. Saya beberapa kali diundang pengurus BSMI untuk melakukan pelatihan media relation dan bertemu dengan Dokter Arief dalam banyak kesempatan. Sebagaimana biasanya, kami berdiskusi tentang masalah organisasi dan isu kontemporer.

Kerja Peradaban

Saya ingin berbagi refleksi sedikit tentang urgensi pembinaan SDM sebagai bagian dari kerja peradaban (civilizational action). Membangun karakter manusia berbeda dengan melatih keterampilan fisik (sebagai inti peradaban berburu), mengolah tanah (peradaban pertanian), mengelola pabrik dengan dukungan teknologi mesin (peradaban industri), dan mengolah data-informasi (peradaban informasi). Pembinaan SDM dibutuhkan pada setiap zaman demi menopang peradaban. Intinya, tidak akan berjalan maju suatu peradaban, bila SDM tidak sesuai dengan prasyarat yang diperlukan. Ibaratnya, lokomotif kereta yang berlari kencang (bak kereta cepat shinkansen) yang menarik gerbong kereta uap, akhirnya porak-poranda.

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang penuh dilema, kemajuan fisik dan infrastruktur tidak diikuti kualitas SDM memadai, Nenek moyang kita adalah pelaut dan Indonesia (Nusantara dahulu) merupakan kerajaan maritim yang disegani, tapi cerita SDM kelautan saat ini hanya derita WNI anak buah kapal yang tersiksa sebagai budak di kapal asing. Indonesia dikenal juga sebagai negeri agraris dengan stereotipe sawah yang menguning dan kebun yang menghijau, tapi kini mayoritas produk pangan diimpor dari negeri lain.

Untuk mengejar ketertinggalan dan kesenjangan peradaban (civilizational gap) itu kita perlu memperhatikan strategi pengembangan basis SDM (qaidah insaniyah) yang diperlukan. Kita memerlukan kelompok aktivis/penggerak (qaidah harakiyah) di berbagai bidang (teknisi/tenaga operasional) yang menyelesaikan persoalan di sekitarnya, bukan menjadi beban lingkungan. Selanjutnya kita memerlukan tenaga pembina (qaidah takwiniyah) yang mengerti bagaimana proses melejitkan segenap potensi, termasuk bakat tersembunyi, karena itu apresiasi harus diberikan kepada tenaga guru/dosen/trainer/mentor/tutor di semua bidang. Tahap krusial, kita menghajatkan kelompok pemikir (qaidah fikriyah) yang merancang dan mengevaluasi bekerjanya sistem nasional yang disepakati, di sinilah pentingnya kolaborasi semua disiplin keahlian.

Pada puncaknya, memang diperlukan basis kepemimpinan dan pengarah kebijakan (qaidah siyasiyah) yang arif-bijaksana, memandang semua persoalan secara komprehensif dan mencari solusi paling efektif. Dokter Arief, sesuai namanya, tipe pemimpin yang mendorong inisiatif untuk mencari solusi, bahkan berpikir jauh ke depan tentang generasi yang akan melanjutkan perjuangan. Saya bertambah syukur, karena Dokter Arief akhirnya bergabung dalam PPSDMS sebagai Pembina Regional IV Surabaya. PPSDMS kini sudah bermetamorfosis menjadi Rumah Kepemimpinan dan membina mahasiswa hingga angkatan ke-10, dengan prestasi dan kontribusi masing-masing.

Saya ingin menegaskan-ulang argumentasi yang pernah saya ajukan tentang dimensi-dimensi pergerakan yang banyak diabaikan. Gerakan Moral menyentuh dan menyebarkan nilai-nilai normatif sebagai panduan masyarakat yang baik (good society), gerakan dakwah biasa bermula dari titik ini. Selanjutnya Gerakan Intelektual yang memberi alas rasional bagi perubahan masyarakat menuju kondisi lebih baik (betterment of society), kemampuan merancang teori dan menunjukkan bukti menjadi kunci. Gerakan moral dan intelektual tidak akan berbuah nyata, bila tak ada Gerakan Sosial yang membangun basis kongkrit untuk melakukan perubahan, sehingga perubahan bisa diuji dalam skala mikro (keluarga atau komunitas) sebelum diterapkan dalam skala makro (masyarakat atau negara). Gerakan Politik kemudian memberi legitimasi bagi proses perubahan dari atas (top down) dengan melahirkan kebijakan yang sejalan dengan kepentingan bersama (maslahat al-ammah) serta mengalokasikan sumberdaya publik secara adil-merata. Sayangnya, banyak aktivis yang mengalami disorientasi perjuangan setelah berkenalan dengan kekuasaan, atau menjadi penguasa dalam level tertentu. Dari dedikasi Dokter Arief dan kawan-kawan pejuang kemanusiaan, saya mempelajari bagaimana bersikap konsisten dengan idealisme di masa muda. Karena, keberhasilan politik sehebat apapun tidak akan bertahan lama, tanpa Gerakan Kultural dan Peradaban yang menanamkan nilai-nilai bersama (shared values), bahkan membangun praktek bersama (collective action) yang disimbolkan oleh tertata dan terlembaganya layanan publik (public good and services) serta kearifan umum (general wisdom).

Bila artefak peradaban kuna ditandai oleh prasasti, candi dan istana/keraton, maka peradaban baru harus mengekalkan tanda pada sistem kerja birokrasi, pusat layanan pendidikan dan kesehatan, serta pasar-pasar tradisional yang tetap eksis dan berkembang di era modern dan masyarakat digital.

Kontak Terahir

Rangkaian kontak terakhir dengan Dokter Arief pada 8 Juni 2020, kami berdiskusi tentang: evolusi Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan kepemimpinan Xi Jinping yang membawa RRC sebagai adidaya dunia. Dokter Arief mengirim video UAS (Ustadz Abdul Shomad)  yang memberi ucapan selamat Milad kepada BSMI (2002-2020).

Esoknya (9 Juni), kami berdiskusi lagi tentang gerakan Antifasis (Antifa) di AS yang melawan kesombongan Presiden Trump. AS sedang berada di tubir kebobrokan negara adidaya. Pada 14 Juni 2020 (pukul 17.51), Dokter Arief bertanya tentang WNI di Amerika Serikat yang menjelek-jelekkan negeri sendiri. Saya tak sempat jawab, tapi menyitir Imam Shamsi Ali yang membuat catatan kritis tentang hal itu.

Setelah itu, saya dengar Dokter Arief dirawat di RSUD Dr. Soetomo. Saya terhenyak. Sebelumnya saya membaca berita tentang RSUD Dr. Soetomo yang terpaksa ditutup karena daya tampung terbatas, sedang jumlah pasien semakin membludak.

Tanggal 23 Juni 2020 (16.34), saya menulis pesan: “Dokter Arief Basuki ykh. Assalamu’alaikum, semoga segera pulih kembali.” Tidak ada balasan… Hingga sepekan kemudian (30 Juni 2020), sore hari yang mendung di Depok, saya mendapat kabar duka wafatnya seorang sahabat: pejuang kemanusiaan. Beberapa jam sebelumnya, saya juga mendapat kabar duka dari Lembang, Jawa Barat. Dua orang “Guru” berpulang pada hari yang bersamaan.

Profesinya sebagai dokter spesialis dibaktikan bukan untuk mencapai kekayaan, kemasyhuran atau kedudukan terhormat di mata manusia. Tapi, melayani semua orang. Bahkan, jiwanya dikorbankan demi menyelamatkan jiwa manusia lainnya. Sebuah Devosi nyaris tanpa pamrih. Semoga Allah Ta’ala meridhai segala amal perjuangannya, dan murid-muridnya menyadari: ada banyak perkerjaan besar (proyek peradaban) yang dimulai dari langkah kecil dan sederhana. []

Pandemi COVID-19 dan Ragam Inspirasi Pembinaan Jarak Jauh Rumah Kepemiminan

Terkadang, keterbatasan membuka banyak jalan keluar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya —Anonim

Di angkatan ke IX ini (periode pembinaan 2018-2020), Rumah Kepemimpinan menggunakan Learning Outcomes yang merupakan turunan dari 8 Kompetensi Dasar dalam Pembinaan Berasrama Rumah Kepemimpinan sebagai acuan capaian keberhasilan setiap peserta binaannya. Learning Outcomes membantu mengukur keberhasilan intervensi program yang diberikan kepada para peserta binaan. Adanya Learning Outcomes juga membuat program pembinaan tidak melulu asrama based atau hanya bisa dilakukan di asrama. Adanya Learning Outcomes, menstimulus inisiasi program-program online, seperti Listen to Inspigo, Leaders and Leadership Online, Sharing Alumni Virtual, Dialog Tokoh/Diskusi Pasca Kampus Online, dan lain sebagainya.

Pengalaman melaksanakan program pembinaan secara online ternyata memberikan manfaat tersendiri dalam kondisi Pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Sejak diterbitkannya instruksi untuk social distancing, Rumah Kepemimpinan melakukan penyesuaian dengan memberlakukan kebijakan Pembinaan Jarak jauh. Para peserta diberikan pilihan untuk melakukan karantina diri di asrama atau di rumah masing-masing. Sementara, untuk program pembinaannya sebagian dilakukan secara mandiri, sebagian lainnya difasilitasi oleh Bidang Beneficiaries dan para Supervisor Asrama melalui beragam pilihan program online.

Sejak kebijakan Pembinaan Jarak Jauh diberlakukan, ada banyak inovasi program online yang muncul dan dilaksanakan oleh beberapa asrama. Sebut saja misalnya program Coaching 1 on 1 secara online antara peserta dan Supervisor Asrama yang membahas tentang perkembangan diri masing-masing peserta. Selain itu, ada juga program Pembinaan Jarak Jauh yang mengundang narasumber seperti Kajian Parenting dengan tema “7 Keterampilan Dasar Penunjang Kesuksesan Hidup”, dengan Pak Ading (Alumni RK, Childhood Optimizer Trainer) sebagai pembicaranya. Ada juga program Semacam Tempat Kumpul dengan tema “Seberapa Bahaya COVID-19” dengan pembicara Amala RP, SKM (Alumni RK, Epidemiolog Ahli Pertama Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Soekarno Hatta) dan Ns. Adinda FF, S.Kep (Perawat IGD RS Universitas Indonesia).

Masih ada beberapa program online yang sedang dirancang sebagai bentuk Pembinaan Jarak Jauh di Rumah Kepemimpinan. Beberapa program online yang siap rilis diantaranya adalah, Self Upgrading: “Bagaimana Mengukur Pencapaian Kompetensi Diri”, Kajian Pra Nikah: “Mencari Pasangan Sevisi”, Kajian Finansial: “Bagaimana Mengatur Keuangan Setelah Bekerja”, Cluster Deep Exploration: “Memantapkan Pilihan Karir Pasca Kampus”, dan masih banyak program-program Pembinaan Jarak Jauh yang sedang dirancang oleh para Supervisor Asrama bersama para peserta RK.

Rumah Kepemimpinan merupakan Lembaga Non Profit yang setiap angkatannya memberikan Beasiswa Pembinaan Berasrama kepada 300 Mahasiswa terpilih yang berasal dari 11 PTN yang tersebar di 9 kota besar di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 2002 lalu, Rumah Kepemimpinan kini telah menghasilkan 1316 Alumni yang telah menyebarkan banyak kontribusi di berbagai sektor kehidupan baik di dalam maupun di luar negeri. (EAM)

Membuka Awal Tahun dengan Kunjungan Strategis NAMA Foundation ke Rumah Kepemimpinan

Di awal tahun 2020 ini, NAMA Foundation melakukan kunjungan ke Kantor Pusat Rumah Kepemimpinan pada Jumat, 17 Januari 2020. Dalam kunjungan tersebut, hadir perwakilan NAMA Foundation yaitu Dr. Saleh Bazead (CEO NAMA Foundation), Khaleed bin Mahfoudz (BOD NAMA Foundation), dab Rantala Sikayo ( BOD NICE Indonesia). Rumah Kepemimpinan diwakili oleh Adi Wahyu Adji, S.Si, MSM (Direktur Eksekutif Rumah Kepemimpinan), Fachriadi Tanjung SE., M.Si (Direktur Kemitraan & Fundraising), M Fathan Mubina (Manager Fundrising), Enung Azizah Mulyawati. S.Si (Project Officer of BRIGHT Program), dan Wahyudi (Project Officer of NAMA FUND Program) menyambut baik kedatangan NAMA FOUNDATION tersebut.

Continue reading “Membuka Awal Tahun dengan Kunjungan Strategis NAMA Foundation ke Rumah Kepemimpinan”

ACT Gandeng Rumah Kepemimpinan, Perkuat Peran dan Kontribusi Pemuda Untuk Kemanusiaan

Jakarta (16/1), di awal tahun ini Rumah Kepemimpinan menyambut kunjungan silaturahim dari lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT). Silaturahim hari ini ditujukan untuk mendiskusikan rencana kolaborasi bersama ACT dengan Rumah Kepemimpinan untuk bersama memperkuat peran dan kontribusi di tengah masyarakat.

Hadir mewakili pihak ACT, Fitrah Saputra dan Arina, menyampaikan permasalahan mendasar yang sedang dihadapi bersama yakni kemiskinan. Ketimpangan terjadi di banyak tempat di Indonesia. ACT mengajak Rumah Kepemimpinan untuk bersama ambil bagian untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan di masyarakat dengan berbagai program yang bisa dikerjakan bersama.

Di antara program yang direncanakan adalah peningkatan kapasitas pemuda untuk turut berkontribusi pada permasalahan kemanusiaan, meningkatkan kemampuan untuk siap siaga saat terjadi bencana, perihal kerelawanan serta untuk memperkuat partisipasi pemuda pada agenda dan lembaga kemanusiaan.

Pada kesempatan ini pun Rumah Kepemimpinan menyambut baik peluang kolaborasi ini. Sejalan dengan visi dari RK untuk membangun lebih banyak lagi pemuda Indonesia yang berkompeten dan peduli dengan permasalahan masyarakat. Ke depannya akan terdapat beberapa kolaborasi program antara Rumah Kepemimpinan dengan ACT, insyaa Allah.

Semoga kunjungan hari ini membawa semangat baru dan membuka ruang kolaborasi positif antara Rumah Kepemimpinan dan ACT untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. (MFM)

Indonesia Menjadi Tuan Rumah Program Pelatihan Internasional dalam Pembentukan Karakter dan Kontribusi Pemuda bersama NAMA Foundation

Pendidikan adalah hal yang penting untuk kemajuan suatu bangsa agar menjadi bangsa yang maju serta merupakan cita-cita setiap negara di dunia. Pendidikan merupakan proses melahirkan generasi penerus yang berkualitas dan Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang masih memiliki banyak problematika dalam dunia pendidikan. Bukan hanya tugas pemerintah yang hari ini telah mengusung menteri baru dari sektor professional Nadiem Makarim (Ex-CEO Gojek), melainkan adalah tugas setiap elemen masyarakat dalam memperbaiki kualitas pendidikan agar sumber daya manusia semakin baik dan mampu meneruskan cita-cita bangsa dalam dunia internasional.

Kerjasama Internasional saat ini telah banyak menawarkan kolaborasi langsung untuk lembaga-lembaga masyarakat seperti LSM/NGO/CSO yang berfokus pada isu krusial dan kebermanfaatan di masyarakat. Salah satunya adalah kerjasama dengan NAMA Foundation (Malaysia) dalam program BRIGHT. Program Internasional yang mendatangkan para trainer/pendidik terpilih dari beberapa Negara seperti Indonesia, Kyrgistan dan Tanzania akan diberikan pelatihan pembentukan karakter agar mampu mengeluarkan potensi terbaik untuk melakukan pemberdayaan serta perbaikan sektor pendidikan di negara mereka masing-masing. Program BRIGHT sendiri terselenggara atas kerjasama NAMA Foundation dengan Beasiswa Pemimpin Indonesia Rumah Kepemimpinan dan NICE Indonesia.

Rangkaian acara BRIGHT dibuka pada hari Senin (28/10) pukul 13.00 WIB di Hotel Margo, Depok. Diawali dengan sambutan via online dari CEO Nama Foundation Dr. Saleh Bazead, serta perwakilan dari Rumah Kepemimpinan dan NICE Indonesia sebelumnya. Para trainer program BRIGHT sendiri adalah mereka yang telah diberikan program peningkatan kapasitas oleh NAMA Foundation ditahun-tahun sebelumnya, kini menjadi ajang pembuktian dalam memberikan dampak positif dan kebermanfaatan langsung untuk Indonesia disektor pendidikan.

Selama 4 hari kedepan, para peserta program Bright akan ditargetkan beberapa goals ini antara lain, Pertama, dimulai dengan mengeksplorasi bakat para pendidik agar memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang keadaan mereka saat ini dengan melakukan penilaian bakat dan menemukan tujuan kehidupan pribadi mereka. Kedua, pendidik akan dibimbing untuk merancang impian mereka dan membangun jalan untuk mencapainya melalui perencanaan kehidupan. Ketiga, mereka akan dibantu untuk memulai perjalanan mereka dengan membentuk tekad melalui pendampingan dan membangun lingkungan yang mendukung dan jaringan yang kuat untuk lebih dekat dengan impian mereka dengan melakukan simulasi kecil seperti proyek kepemimpinan.

NAMA Foundation Visit 2019

Pada hari kamis (19/09/2019) NAMA Foundation melakukan kunjungan ke Kantor Pusat Rumah Kepemimpinan Jakarta. Kunjungan ini merupakan salah satu rangkaian dalam kegiatan NAMA FOUNDATION VISIT 2019. NAMA FOUNDATION VISIT merupakan kunjungan NAMA Foundation ke mitra-mitra strategis yang ada di Indonesia. Salah satu mitra strategis tersebut yaitu Rumah Kepemimpinan yang telah berkomitmen untuk melakukan kolaborasi dalam menyukseskan program-program kerjasama yang ada.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, NAMA Foundation dihadiri oleh Dr. Saleh Bazead (CEO NAMA Foundation), Zulfirdaus (Head of Program NAMA Foundation), Khaleed bin Mahfoudz (BOD NAMA Foundation), Rantala Sikayo (Wafaa Indonesia), dan Dasril Guntara (CEO NICE Indonesia). Rumah Kepemimpinan yang diwakili oleh Adi Wahyu Adji, S.Si, MSM (Direktur Program Rumah Kepemimpinan), Fachriadi Tanjung SE., M.Si (Direktur Kemitraan & Fundraising), Andi Junasa Anhika, SE (Manajer SDM), M Fathan Mubina (Manager Fundrising), dan Enung Azizah Mulyawati. S.Si (Staf Program Pembinaan) sangat menyambut baik kedatangan NAMA Foundation tersebut.

Kegiatan NAMA VISIT 2019 ini bertujuan untuk membahas perkembangan program kerjasama yang sedang berjalan, yang meliputi evaluasi proses yang telah dan sedang berjalan, capaian program, serta rencana-rencana strategis yang akan dilakukan ke depan oleh Rumah Kepemimpinan agar program kerja yang ada dapat berjalan dengan optimal. Diharapkan kunjungan ini dapat meningkatkan capaian program, serta mengembangkan rencana strategis di periode yang akan datang.

Pada periode 2018/2019 Rumah Kepemimpinan menjalankan dua program kerjasama dengan NAMA Foundation, pertama Program BRIGHT dan kedua Program NAMA FUND. Program BRIGHT adalah program yang membekali para trainer tentang cara membantu siswa dalam menemukan bakat, pasion, serta perencanaan hidup mereka agar ke depannya dapat memberikan pengaruh positif untuk sekitar. Program NAMA FUND sendiri merupakan program bantuan pendidikan berupa pemberian pembiayaan kuliah, dan tunjangan buku untuk mahasiswa-mahasiswi di Indonesia yang memiliki antusiasme tinggi untuk melanjutkan studi ke jenjang magister (s2) dan doktoral (s3).

Selain dua program diatas, Rumah Kepemimpinan juga mendukung program NAMA Foundation yang dikelola oleh NICE Indonesia. Terdapat 8 pengurus dan alumni Rumah Kepeimpinan yang menjadi associate trainer dan konsultan program pada NAMA Global Initiative program 2019. Program tersebut merupakan inisiatif dari NAMA Foundation untuk meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan dalam bidang pendidikan dan NGO di Indonesia.

Dalam kunjungan ini, Dr. Saleh Bazead selaku CEO Nama Foundation menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Rumah Kepemimpinan atas dedikasi dan kerjasama yang terjalin saat ini. Beliau berharap para associate trainer NICE Indonesia berperan aktif dalam mengembangkan program dan berkontribusi kepada masyarakat yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada program yang diinisiasi oleh NICE Indonesia. Lebih lanjut lagi, Dr. Saleh berharap agar program NAMA FUND dapat diperluas lagi cakupannya ke lebih banyak universitas di Indonesia sehingga akan lebih banyak lagi pemuda di Indonesia yang menjadi generasi unggul.

NAMA Foundation
NICE Indonesia
Rumah Kepemimpinan

Silaturahim Internasional Sekretariat Mahasiswa Rahmah dari Kementrian Agama Malaysia

Jakarta (12/9), Rumah Kepemimpinan pusat kedatangan tamu negara sekaligus saudara serumpun dari Sekretariat Mahasiswa Rahmah, Malaysia. Sekertariat Mahasiswa Rahmah adalah salah satu lembaga inisiatif dibawah Kementrian Agama Negara Malaysia yang memiliki visi untuk melatih mahasiswa di seluruh Malaysia dalam melahirkan pemimpin-pemimpin yang berjiwa besar, berwawasan dan berprestasi tinggi.

Pertemuan yang diagendakan pada 12 September 2019 kemarin berjalan lancar dengan suasana kekeluargaan. Sekretariat Mahasiswa Rahmah diwakili oleh Bapak Khairol Najib Hashim selaku Pengarah Sekretariat Mahasiswa Rahmah dan tim, sementara Rumah Kepemimpinan diwakili oleh Bapak Adi Wahyu Adji selaku Direktur Eksekutif Rumah Kepemimpinan bersama perwakilan dari tim program dan kemitraan.

Sekretariat Mahasiswa Rahmah sangat terkesan dengan kurikulum dan program pembinaan yang dilakukan oleh Rumah kepemimpinan dalam misinya melahirkan pemimpin masa depan.
Momentum ini sekaligus menjadi peluang strategis dalam mengembangkan beasiswa Rumah Kepemimpinan ke ranah internasional dengan menawarkan kerjasama untuk menjadi fasilitator development program untuk sekolah kepemimpinan, student exchange, pelatihan dan pendampingan penyusunan program kepemimpinan pemuda hingga pembukaan Rumah Kepemimpinan di Malaysia.

Sebelum diskusi berakhir, tim Sekretariat Mahasiswa Rahmah diajak untuk berdiskusi santai dengan perwakilan peserta Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta sambil melihat-lihat kondisi asrama. Pak Khairol Najib selaku ketua rombongan mengucapkan terima kasih banyak dan berharap pertemuan kemarin dapat dilanjutkan di kemudian hari.

Semoga dengan pertemuan ini makin mengeratkan hubungan internasional antara Kementrian Malaysia dengan Rumah Kepemimpinan dalam berkolaborasi membangun sumber daya strategis dan unggul sehingga mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

“Melatih Skill, Kreatifitas, Inisiatif dan Tujuan besar Bersama” Dalam Sharing Alumni bersama Nur Agis Aulia

Solo, Kamis (1/8). Pagi-pagi pukul 05.30 kami kedatangan tamu yang luar biasa alumni rumah kepemimpinan Jogjakarta. Beliau Mas Agis Aulia owner Jawara Farm.

Kang Agis memberikan kisah-kisahnya perjalanan hidupnya hingga sekarang, termasuk kehidupan di asrama dahulu. Kang Agis berterimakasih kepada pembinaan RK yang membentuknya menjadi pribadi seperti ini. Dulu di asrama kang Agis pernah menjadi kepala Asrama setahun. Dan baginya ia banyak belajar dari sana.

Secara terperinci di kesempatan lain kang Agis membagikan kisah berjuangnya menjadi seperti sekarang ini, yang awalnya dari jurusan biologi eh pindah ke jurusan fisipol yang klaim kang Agis lebih santai. Kemudian mulai dekat dan mempunyai kecintaan dengan masyarakat pedesaan, dan akhirnya melahirkan jawara farm, yaitu agrosociopreneur di Indonesia. Pesan Kang Agis selagi masih muda ada tiga; Belajar menghadapi ketidakenakan, Investasi Masa Depan, dan cari mentor yang sesuai dengan yang kamu tekuni.

Jangan lupa tetap belajar diatas rata-rata. Melatih skill, kreatifitas dan inisiatif, tetap dengan tujuan besar kita walaupun di tertawakan sekitar kita.

“Rumah Kepemimpinan adalah Motor Pergerakan Pemuda dan masyarakat” Dialog Tokoh bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin

Solo, Kamis (25/07/2019). Kunjungan mahasiswa penerima manfaat beasiswa Rumah Kepemimpinan Universitas Sebelas Maret (UNS) disambut hangat oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin di kediamannya. Kegiatan dialog tokoh yang biasanya dilaksanakan di asrama mahasiswa tersebut terasa berbeda dengan berkunjung langsung sekaligus silaturahmi dengan beliau.

Ditemani dua staff dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Yasin menjelaskan masih banyak Kabupaten di Jawa Tengah yang berada di zona merah dalam pembangunan ekonomi. Ia berharap bahwa dengan hadirnya Rumah Kepemimpinan di Solo mampu berkontribusi kepada masyarakat melalui program resmi dari kampus seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), magang, ataupun kegiatan yang digagas oleh Rumah Kepemimpinan sendiri.

“Saat ini fokus Pemprov adalah membangun sumber daya manusia yang baik. Sayangnya masih banyak warga kita yang terbelakang. “Sampeyan ini, anak-anak muda yang memiliki potensi mengubah itu”, ujar Yasin.

Selain itu, beberapa agenda prioritas Pemprov Jawa Tengah turut ditanyakan oleh peserta Rumah Kepemimpinan. Sebagai mahasiswa, banyak masukan yang berkenaan dengan penyediaan Pendidikan tinggi serta kegiatan akademik yang berorientasi terhadap penelitian. Pak Yasin menyambut baik saran tersebut dan menganjurkan jika mendapatkan kesulitan agar melapor langsung ke Pemprov dan segera akan ditindaklanjuti dengan memberkan disposisi kepada kampus.

Tak hanya kegiatan akademis, Pak Yasin turut menceritakan perjalanan hidupnya sebagai mahasiswa hingga berhasil menjadi orang nomor dua di Jawa Tengah dengan usianya yang masih muda. Ia mengenyam Pendidikan tinggi di salah satu Universitas Negri di Syiria. Pada saat itu, islamophobia sangat marak sehingga sering kali beliau mendapat hambatan baik sebelum keberangkatan, masa pendidikan dan ketika hendak pulang ke tanah air.

“Ketika masih menjadi mahasiswa, saya pernah merasakan hidup di rumah tahanan. Entah kenapa, padahal saya tidak macam-macam”, ujarnya.

Di samping itu, beliau menasihati peserta Rumah Kepemimpinan untuk selalu terlibat di organisasi. Menurutnya, partisipasi di organisasi manapun turut membangun mental kepemimpinan sekaligus memperluas jaringan. Setidaknya memaksimalkan waktu yang ada sebelum terjun dalam dunia kerja.

“Saya pas seumuran kalian itu tergabung di Perwakilan Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama Syiria. Enaknya jaringannya itu Internasional. Ada rekan saya yang dari Eropa dan banyak juga yang dari Asia Timur”, ujar beliau sambal sesekali tersenyum menceritakan pengalamannya.

Dengan latar belakang alumni Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Yasin turut menjelaskan tantangan pondok pesantren saat ini. Menurutnya, Pemprov Jawa Tengah tengah menginisiasi mu’addalah yaitu penyetaraan tingkat Pendidikan untuk seluruh ponpes agar mendapatkan kesempatan yang sama dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam meraih pendidikan tinggi di Universitas.

“Kita ini bekerja di tingkat provinsi sehingga bias membantu santri-santri supaya mendapatkan kesempatan yang sama”, jelasnya.

Sebelum pertemuan selesai beliau menegaskan kembali betapa pentingnya leadership skill dalam mengatur segala sumber yang ada. Ia berharap Rumah Kepemimpinan mampu menjadi motor pergerakan pemuda dan masyarakat khususnya di Provinsi Jawa Tengah.

“Perluas perkenalan dan jaringan. Perbanyak pengalaman”, tuturnya.