Kolaborasi Rumah Kepemimpinan dan Aksi Cepat Tanggap – Operasi Beras Gratis Santri Yatim dan Dhuafa, 9 September 2021

Pandemi memang masih terjadi, tapi semangat kebaikan tidak boleh berhenti! 

Hari Kamis kemarin (9/9) Rumah Kepemimpinan berkolaborasi dengan Aksi Cepat Tanggap menyelenggarakan kegiatan operasi beras gratis untuk santri yatim dan dhuafa. Kali ini, pesantren yang kami kunjungi adalah Pondok Pesantren Utrujah di Ciseeng, Kab. Bogor.

Operasi beras gratis ini juga merupakan implementasi dari campaign yang dilakukan oleh Rumah Kepemimpinan pada bulan Agustus lalu. Campaign tersebut berhasil menghimpun Rp. 5.510.896 dari 103 sobat leaders. 

Dana tersebut disalurkan untuk 230 santri dan 60 pengajar qur’an di pesantren ini. Pihak Rumah Kepemimpinan juga diwakili oleh beberapa peserta dari @rkbobana dan @rkbogor lho! Pengalaman terjun langsung ke masyarakat ini membawa banyak pelajaran berharga tentunya untuk peserta.

Seperti yang diungkapkan Athaya, peserta @rkbobana: “Salah satu pelajaran penting yang membekas banget dari perjalanan hari ini adalah tentang seriusnya mereka semua untuk menuntut ilmu di tengah berbagai keterbatasan. Aku sendiri tertarik banget dengan mekanisme pembelajaran di sana, karena kebetulan relate dengan studi kampusku tentang Ilmu Keluarga di IPB. Masyaa Allah banget ngeliat mereka bisa dengan senang hati menghafal 2 juz Al-Qur’an hanya dalam 2 bulan aja.”

Hal lain yang sangat membekas dari pesantren tersebut juga adalah kesungguhan dan ketulusan para pendidik memberi pendidikan quran untuk para santrinya. “Dari sana kita bisa lihat keberhasilan santrinya itu dihasilkan dari ketulusan yang luar biasa dari para ustadz/ahnya,” tutur Garnieta selaku peserta Rumah Kepemimpinan yang ikut melihat kondisi di lokasi.

Operasi beras gratis kemarin memang memberikan solusi jangka pendek untuk kebutuhan para santri dan pendidik di sana. Saat tim Rumah Kepemimpinan datang, masih terbatas infrastrukturnya dan perlu diperbaiki. Contohnya sumur pesantren yang merupakan sumur pendek dan sering kering. Juga tentang ruangan kamar sekaligus ruang belajar mereka yang terbatas. Beratap seng dan berlantai semen. Panasnya masya Allah kalau siang.

Semoga perjalanan kemarin menjadi hikmah yang mendalam untuk para peserta Rumah Kepemimpinan yang terlibat, serta menjadi pembuka aliran-aliran kebaikan lainnya untuk pesantren Utrujah membentuk generasi-generasi Indonesia yang mencintai Al-Qur’an.

Nantikan kolaborasi lainnya dari Rumah Kepemimpinan!

#IndonesiaMariPulihBersama!

Life Plan Training Kolaborasi antara Rumah Kepemimpinan dan SMAIT Al-Uswah Surabaya

Telah berlangsung kegiatan kolaborasi antara Rumah Kepemimpinan dan SMAIT Al-Uswah, Surabaya bertajuk Life Plan Training yang diselenggarakan secara online melalui aplikasi Zoom Meeting. Acara ini diawali dengan kegiatan pembukaan pada hari Ahad, 29 Agustus 2021 dan dihadiri oleh siswa kelas 12 berjumlah 90 siswa. Agenda Life Plan Training ini bertujuan untuk memperkuat motivasi diri di masa depan, membantu menyusun langkah-langkah yang tepat untuk menggapai mimpi, dan menentukan target serta cita-cita yang tepat di masa depan. Dalam perhelatan daring tersebut, dihadiri perwakilan dari pondok pesantren yakni Pak Bayu dan Ibu Rini sebagai guru pendamping. Pada acara pembukaan, dihadiri pula 9 fasilitator untuk mendampingi santri dalam mengerjakan lembar kerja yang tersedia.  Coach Adji selaku pemateri utama pada pelatihan ini menyampaikan pesan betapa pentingnya bermimpi dengan mata terbuka dan janganlah takut untuk mencoba hal-hal baru.

Acara ini berlangsung selama enam hari berturut-turut dengan pembahasan yang berbeda setiap harinya. Setiap materi yang disajikan, terdapat lembar kerja untuk membantu siswa merumuskan mimpinya supaya mudah tervisualisasikan. Pada hari pertama, Rumah Kepemimpinan menyediakan Live Zoom bersama 90 peserta untuk membahas cara-cara mengenali diri. Pada hari kedua sampai hari kelima, Rumah Kepemimpinan menyediakan e-learning  berbentuk video dengan topik yang beragam: cara menuliskan 100 mimpi, cara merumuskan mimpi utama, cara menentukan aktivitas yang sesuai dengan tujuan, dan cara membuat peta hidup. Pada hari keenam acara ditutup dengan pemaparan kesimpulan materi oleh Coach Adji, penyampaian testimoni, dan pengumuman 3 peserta terbaik.

“Alhamdulillah anak-anak sudah digembleng oleh para mentor dan diberi motivasi oleh Coach Adji dalam membuat life plan. Semoga anak-anak yang galau-ers ini bisa mendapat pencerahan, gambaran, dan pandangannya dalam meniti masa depan. Kami harapkan pula pada momen hari ini menjadi awal mereka dalam merangkai mimpi dan mencapai kesuksesannya di masa mendatang,” ucap Pak Bayu selaku perwakilan dari Kepala SMAIT Al-Uswah, Surabaya.

Kolaborasi RK dan NAMA Fund Indonesia – Orientation Camp, 28-29 Agustus 2021

Assalamu’alaykum Sob!

Tanggal 28-29 Agustus lalu, Rumah Kepemimpinan menyelenggarakan kegiatan Orientation Camp bagi 22 Orang Penerima Beasiswa Biaya Kuliah Penuh 4 Tahun Plus Pembinaan NAMA Fund Indonesia Batch 3 – 2021, yang dilaksanakan di @themargohotel. Tentunya kegiatannya dilaksanakan dengan menggunakan protokol kesehatan ketat ya 😉

Nah, NAMA Fund sendiri merupakan program beasiswa kuliah kerjasama antara @namafoundation, sebuah NGO Internasional yang berfokus pada pengembangan Sektor Pendidikan dan Sosial, dengan Rumah Kepemimpinan selaku local partner yang menjalankan program ini di Indonesia.

Melalui program Orientation Camp ini, para beswan yang notabene-nya adalah Mahasiswa Baru, dibekali dengan 9 (sembilan) Modul Nurturing Development Program dari Rumah Kepemimpinan.  2 dari 9 modul disampaikan secara langsung selama Orientation Camp, yaitu modul “Campus Orientation”  yang disampaikan oleh Coach @ihsan.obi dan modul “Life Planning” yang disampaikan oleh Coach @adi.wahyu.adji.

Para beswan juga difasilitasi dengan small group coaching, yang diampu oleh para coaches terpilih yang akan membersamai setiap proses perkembangan diri mereka selama 4 tahun ke depan.

Semoga melalui Orientation Camp ini, para beswan bisa saling membangun kebersamaan dan kekeluargaan sebagai langkah awal untuk berjuang bersama menjadi mahasiswa berprestasi selama 4 tahun kuliah hingga lulus nanti sebagai SDM-SDM berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pelaksanaan Orientation Camp, 28-29 Agustus 2021 di @themargohotel

Transisi Dari Peserta Menjadi Alumni

Mutia Rahmatun Husna atau biasa disapa Mutia adalah seorang mahasiswi Ilmu Komputer Univ. Indonesia 2017 sekaligus tengah mengikuti Program Bangkit dari Google, Traveloka, Gojek dan Tokopedia pada Android Learning Path. Mutia juga merupakan Alumni Rumah Kepemimpinan Regional Jakarta Putri Angkatan 9. Fokusnya sejauh ini masih akademisi sembari part time sebagai Front-End Engineer di Core Initiative dan preparation studi Magister. Alasan Mutia menekuni bidang akademik karena ingin belajar banyak bersama para ahli sebelum terjun dan berkembang di dunia professional.

Ada pelajaran berharga yang Mutia dapatkan semasa menjalani perkuliahan dan dunia kerja yakni membangun jejaring. Ternyata, koneksi selama dulu mengikuti kegiatan di kampus sangat berguna baginya salah satunya dalam rangka mempermudah mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Aktivitas Mutia selain kuliah dan part time juga bergabung di komunitas linimuda.id, ekosistem untuk pemuda menjadi versi terbaiknya. Sekarang, alhamdulillah linimuda sudah berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT). Kini komunitasnya tengah membangun produk e-learning dan website try-out UTBK. Dirinya berperan sebagai Social Media Manager.

Semasa jadi peserta, Mutia selalu mencatat kontak-kontak alumni maupun orang-orang yang pernah jadi pembicara di RK karena ia menganggap aktivitas itu sebagai ladang untuk berelasi. Ternyata, hal ini benar terjadi. Saat selesai masa pembinaan di RK, Mutia ikut kegiatan yang diadakan oleh kakak alumni RK dan kakak itu ternyata founder komunitas yang kini Mutia geluti. “Ga nyangka banget sih ternyata alumni-alumni RK bertebar di mana aja haha” ungkap Mutia.

Perempuan kelahiran 19 Juli 2000 ini mengaku kala menjalani pembinaan, ia merasa bukan merupakan peserta yang baik dan sering membuat supervisor kesal. Hingga suatu hari ia mengikuti SPV Academy yang membuatnya mengenal RK lebih dalam. Selama mengikuti kegiatan tersebut, Mutia belajar banyak tentang RK, jadi lebih tahu gimana RK dulu bisa berkembang seperti sekarang dan ternyata semuanya tidak mudah, banyak banget cerita di balik RK yang sekarang bisa berada di 9 regional.

Menurut mahasiswi yang hobi traveling ini, RK berperan untuk dirinya yang sekarang, khususnya sisi ruhiyah. Ia sudah terbiasa dijadwalkan menuntaskan mutaba’ah yaumiah. Alhamdulillah, sekarang masih bertahan walau tidak sebanyak dulu sebab sungguh sulit mempertahankan itu setelah menjadi alumni :”( Dari RK, Mutia belajar banyak tentang merencanakan kehidupan, dulu ia seneng banget pas bang Adji menjelaskan materi “Menuju Puncak Manfaat” dan sekarang Mutia masih tahap Sharpen Me.

“Makna kontribusi tuh peran apa yang bisa kita lakukan untuk membantu orang lain di sekitar kita baik dari segi materi maupun ilmu” ucap perempuan yang bermimpi suatu saat menapaki kaki di Raja Ampat.

InspirationalStory

Geliat Jiwa Kerelawanan

Pungky Triwiya Nugraha merupakan mahasiswa Teknik Kimia Angkatan 2018, Insititut Teknologi Sepuluh Nopember. Pungky adalah salah satu penerima manfaat beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional 4 Surabaya Angkatan X.

Pungky saat ini tergabung dalam Relawan Bencana YMI (Yayasan Manarul Ilmi) ITS. Ia pertama kali mengikuti kegiatan kerelawanan di kampus dalam acara bakti sosial. Ia merasa sangat bahagia dan ketagihan! Ia pun semakin melibatkan diri dalam kegiatan ini, khususnya yang berkaitan dengan bencana.

Ketika terjun di lokasi bencana, Pungky tidak menemukan ekspresi keputusasaan dari dalam diri para pengungsi. Sikap tegar yang diekspresikan melalui saling tolong-menolong di antara mereka sangat jelas terlihat.  

Terjun dalam dunia kerelawanan adalah menghadapi tantangan secara langsung! Saat Pungky dan tim mendapat tugas terjun ke Kalimantan untuk membantu korban banjir, ada banyak challenge yang harus dihadapi. Lokasi yang jauh dan tempat yang terisolasi membuat Pungky dan tim harus berjalan kaki selama 8 jam pulang-pergi untuk mengantarkan logistik. 

Meski dalam situasi sulit itu ia tidak lupa dengan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Ia tetap mengerjakan tugas akademik yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Meski ia sedang dalam keadaan yang sulit dan terbatas.

Pungky merasakan semangat kontribusinya menolong sesama melalui aktivitas kerelawanan juga berkat support yang diberikan Rumah Kepemimpinan, tempatnya dan teman-teman berproses. Selama kurang lebih 10 bulan dibina, Pungky dan teman-teman mendapatkan penanaman nilai yang kuat tentang rendah hati, open mind, objektif, moderat, prestatif dan kontributif.

Saat berkoordinasi dengan lembaga lain, Pungky belajar untuk bersikap rendah hari dan open mind. Mengingat, ia dan teman-teman relawan adalah pendatang. Mererima arahan dan sepenuh hati melakukan assesment adalah hal yang dikedepankan. Dalam proses distribusi bantuan, sikap objektif dan moderat sangat diperlukan agar menghindari kecemburuan sosial. Sikap bersungguh-sungguh dan mengurangi ego sektoral tidak boleh ketinggalan agar bantuan yang diberikan didistribuskan dengan optimal.

Bagi Pungky, terjun langsung dalam masyarakat melalui kegiatan relawan merupakan sarana yang sangat aplikatif untuk mengejawantahkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Rumah Kepemimpinan.

InspirationalStory

Tekad Salim Melawan Kenakalan Remaja

Muhammad Salim Hanif atau akrab disapa Salim merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor sekaligus Peserta Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor angkatan X.

Enam puluh, adalah angka yang begitu membekas dalam benak Salim. Ya, sempat menjadi nilai paling bagus semasa sekolah dasar. Bukan karena Salim tidak mampu mengikuti pelajaran, hanya saja keingintahuannya yang tinggi dengan sering bertanya hingga ditegur bahkan dimarahi orang tua karena masalah komunikasi. Tidak hanya nilai yang jelek, Salim juga terlibat dalam kenakalan remaja seperti berkata kasar, tidak menghormati guru, dan sering berkelahi. Pembuat onar adalah julukan untuk Salim kecil.

“Kalau kamu mengaku setia kawan dan ingin membanggakan sekolah, maka buktikanlah dengan prestasi, dan bantu teman-teman kamu yang kesulitan belajar”. Kalimat menohok dari Bu Anis (selaku guru BK di sekolah) disampaikan kala Salim usai menikmati tawuran massalnya. Dengan hati-hati beliau memberikan pemahaman yang lebih baik dalam memaknai solidaritas dan kebanggaan. Salim pun menyesal. Bu Anis dengan pendekatan yang tidak menghakimi telah menyelamatkan masa depan Salim dari kenakalan remaja. 

Berhasil mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) matematika dengan nilai sempurna, menjadi salah satu pembuktian bahwa Salim telah kembali ke jalan yang benar. Kembali menjadi sosok Salim yang penuh rasa ingin tahu, tidak takut bertanya dan menghormati orang yang lebih tua.

Pengalaman ini membuka mata Salim akan banyaknya permasalahan kenakalan remaja di negeri ini, memantapkan langkah Salim untuk memilih cita-cita menjadi sosok penyelamat seperti “Bu Anis” bagi lebih banyak anak-anak dan remaja Indonesia. Ya, sosok “Bu Anis” yang telah menginspirasi. Salim kecil yang dulu begitu nakal, kini aktif menjadi Pengajar TPA Masjid Daruki Hasanah Kampung Prigolayan, Surakarta. Kemudian juga anggota Komunitas Anak Santun Solo. Alhamdulillah.

Bergabung bersama keluarga besar Rumah Kepemimpinan, Salim belajar untuk mengatasi kekurangan dalam diri, menemukan cara-cara untuk bisa melampaui batas dengan tetap memegang teguh idealisme.

InspirationalStory

Semangat Memperbaiki Diri Agar Menjadi Lebih Berarti

Rama Sulthan Falah merupakan salah satu peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan X, Regional Bogor. Saat ini Rama sedang menjalani perkuliahan di Institut Pertanian Bogor Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Awal perkenalan Rama dengan dunia game online sudah dimulai sejak kelas 2 SD. Saat itu, Rama kecil seringkali memanfaatkan laptop milik kakaknya untuk memainkan games klasik seperti Plant vs Zombie. Di usia SMP, qaddarullah, Rama berhasil mencapai level tertinggi di salah satu game online yang sedang booming saat itu.

Pencapaian tersebut bukan berarti tanpa pengorbanan, ia sampai rela berpuasa demi menghemat uang jajan yang ia gunakan untuk membeli item-item berbayar di dalam game tersebut. Hingga puncaknya, Rama sempat menempati peringkat terakhir di kelas 1 SMP. Momen ini dikenangnya sebagai masa-masa jahiliyah.

Titik balik hidup Rama pun dimulai semenjak ia pergi merantau ke IPB dan tinggal ber-asrama di tahun pertamanya berkuliah. Melihat teman satu atapnya yang jarang muncul di asrama karena aktif berorganisasi, akhirnya Rama pun tertarik dan memutuskan untuk mendaftar di organisasi kampus.

Saat tahun kedua kuliah, Rama semakin bersemangat untuk aktif pada banyak organisasi dan kepanitiaan, selain itu ia juga mulai merintis aktif di instagram untuk akun dakwah  @Basyar_id dan akun edukasi perikanan @Ocefish_id.

Banyaknya amanah membuat kondisi Rama naik dan turun, tertekan bahkan sempat mengalami kefuturan. Manajemen waktu yang menjadi berantakan, internalisasi anggota mengalami kemunduran, hingga Rama menyadari dirinya tidak pernah menyempatkan untuk membaca buku.

Hingga akhirnya Rama terpilih menjadi salah satu peserta Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor Angkatan X. Selama berada di Rumah Kepemimpinan, Rama mulai membenahi manajemen waktu hingga semakin membaik, ia juga semakin sering membaca buku, dan internalisasi anggota organisasinya menjadi lebih baik.

Di saat yang sama @Ocefish_Id juga berkembang pesat, saat ini sudah ada 10 relawan yang berperan sebagai konten kreator. Rama berharap Ocefish yang dirintisnya bisa menjadi salah satu kanal utama edukasi perikanan kepada masyarakat Indonesia yang saat ini masih sangat jarang.

InspirationalStory

Kesamaan Visi dan Bahan Bakar Kontribusi

Aqil Wilda Arief atau biasa disapa Mas Aqil adalah alumni RK sekaligus kini menjadi Direktur Kemitraan dan Fundraising Rumah Kepemempinan Pusat. Bergabung menjadi pengurus pada tahun 2015 sampai sekarang, Mas Aqil kerap berpindah-pindah amanah di kantor. Di awal, sempat membersamai tim kemitraan dan fundraising, program pembinaan, alumni, riset, dan kini dipercaya menahkodai tim kemitraan dan fundraising.

Pria kelahiran 27 Maret 1990 ini mengaku semua hal di RK sungguh memorable. Lika-liku perjalanan bersama institusi ini ditempuh dengan api semangat yang tidak berubah sedari dulu: kesamaan visi dan misi. Selagi cita-cita terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat belum mampu diwujudkan secara utuh, Mas Aqil merasa pengabdian dan kontribusinya belum usai.

Ada satu hal yang sedari dulu senang Mas Aqil lakukan, yakni mengenalkan Rumah Kepemimpinan ke berbagai pihak. Hal ini merupakan upaya untuk terciptanya peluang kolaborasi. Mengingat bahwa membangun Indonesia tidak bisa dilakukan oleh segelintir manusia saja, maka menjalin relasi menjadi jalan juang yang Mas Aqil lakukan hingga hari ini. “Sebelum pandemi menerpa, saya sering ‘bermain’ ke luar untuk mengenalkan calon stakeholder tentang cita-cita rumah kita ini” ungkap pria penggemar musik band Letto.

Tidak mudah memang untuk menumbuhkan rasa percaya kepada mitra. Meskipun pertemuan pertama dengan calon mitra tidak selalu sampai tahap kesepakatan, setidaknya mengenalkan Rumah Kepemimpinan beserta cita-citanya sudah bernilai positif. Mas Aqil kerap menyemangati rekan-rekannya untuk memaksa diri berani ‘keluar kandang’ dan bersilaturahim dengan siapapun sebab dari sana lah kemitraan dapat terbentuk.

“Personal branding kita terakumulasi menjadi institutional branding.” ungkap alumni Teknik Industri UGM ini yang cukup concern pada dunia branding. Branding adalah salah satu jalan ninjanya supaya institusi bisa dikenal lebih banyak orang. “Bagaimana cara menyampaikannya? Agar lebih sederhana, bisa melalui konten, caption, artikel, penggunaan diksi yang tepat maupun press release” ujar Mas Aqil ketika menjelaskan soal branding

Bicara soal branding, pada hakikatnya ada yang perlu diperhatikan lebih dulu bagian akarnya. “Agile Transformation” di Rumah Kepemimpinan menjadi concern utama oleh Mas Aqil. Hal ini didasari supaya rumah kita dapat adaptif terhadap era modern saat ini dan berharap bisa lebih luas manfaat serta jangkauannya. Pun proses agile ini ibaratnya dapat lebih mudah memberitakan RK ke khalayak.

“Selama visi belum tercapai, maka selama itulah bahan bakar untuk terus berkontribusi tetap ada. Menjadikan Rumah Kepemimpinan tidak hanya dikenal tapi juga proven (terbukti), diterima, dan berdampak nyata oleh masyarakat Indonesia,” ucap Mas Aqil memaknai alasannya bertahan di Rumah Kepemimpinan.

Kesamaan Visi dan Bahan Bakar Kontribusi
Aqil Wilda Arief, S.T., M.Kesos
Alumni Rumah Kepemimpinan Yogyakarta Putra Angkatan 4
Direktur Kemitraan dan Fundraising

InspirationalStory

Menjadi Sekrup di Dunia Pembinaan

Organisasi bagi sebagian orang adalah hal yang tak penting, tetapi bagi sebagian kecil justru berorganisasi adalah candu. Satu di antara sebagian kecil itu ialah Elis Nuraeni. Teh Elis, begitu ia akrab disapa, menikmati berorganisasi sedari SD yang seolah menjadi laboratorium dunia kepemimpinan baik sebagai yang dipimpin maupun yang memimpin. Namun, nampaknya proses memimpin dan dipimpin adalah mata ajar sepanjang hayat.

Konon kepemimpinan erat kaitannya dengan seberapa besar pengaruh yang dimiliki. Namun, baginya, kepemimpinan idealnya dimulai dari kontribusi. Ketika dinamisnya masa berorganisasi di dunia kampus, ia kerap merasa iri dengan teman sekitar yang memiliki karya nyata. Ada yang memiliki kapasitas design sehingga mampu membuat sesuatu yang keren. Ada juga yang mampu meng-arrange acara internasional dengan sukses. Atau teman-teman yang berhasil membuat sebuah gerakan yang langsung menyasar target. “Sungguh membuat iri, hehe” ungkap perempuan mengenang aktivitasnya sewaktu di Univ. Padjadjaran.

Perasaan semacam itu cukup mengganggu dan tak jarang pertanyaan, “aku bisa apa?” sering muncul dalam benak Teh Elis. Satu per satu ia telusuri hal yang nyaman dilakukan. Setelah perenungan yang cukup lama, barulah dia temukan bahwa dunia pembinaan adalah hal yang paling ia sukai. Tak peduli selelah apapun, bila sudah waktunya pembinaan, dirinya bergegas untuk menunaikan. Tak peduli sebanyak apapun agenda yang dimiliki, membina senantiasa menjadi hal yang paling dinanti.

Perempuan yang hobi bercerita dan mendengarkan cerita ini juga mengamini bahwa pengalaman membina membuatnya menyadari banyak hal. “Umur kita di dunia begitu singkat, tetapi cita-cita peradaban perlu waktu panjang untuk diwujudkan sembari bersemangat akan kebaikan tetap terwariskan. Bagaimana tidak, bukankah dengan mengajarkan ilmu, ada potensi amal yang tak berkesudahan? Betapa tidak kita tergiur, ketika raga terbujur kaku, masih ada sinar kebaikan yang dituai dari spirit kebaikan penerus zaman?” tegas perempuan yang passionate di bidang people development.

Hakikat membina menurut Teh Elis juga bukan tentang apa yang bisa diberikan, karena faktanya justru dia sendiri yang seringkali mendapatkan banyak pengajaran dari adik-adik. Mereka mampu menjaganya untuk senantiasa berusaha berbuat baik dan senantiasa takut akan ‘ucapan tidak sejalan dengan tindakan’. Mereka juga memaksanya untuk belajar lebih banyak, karena permasalahan dewasa ini semakin kompleks.

Jika diibaratkan sebuah barang, Teh Elis ingin diumpamakan sebagai sekrup. Mungkin ia kecil, tetapi punya kemampuan untuk menyatukan rangka-rangka yang besar. Begitupun dengan dirinya yang ingin menyatukan orang-orang hebat, menyatukan rangka yang berserak agar kelak di masa depan satu sama lain bisa melesat dalam menebarkan kebermanfaatan. Hal itu pula yang mendorongnya lebih serius di dunia pembinaan salah satunya dengan memiliki keinginan untuk menjadi supervisor.

Setidaknya sudah lima kali proses rekrutmen ia ikuti dengan tugas sejenis supervisor di tiga lembaga berbeda dan tahun yang berbeda. Entah mengapa ia mengalami penolakan yang sama di saat tahap akhir proses seleksi. Sekitar maret 2021, akhirnya iseng-iseng Teh Elis mendaftar untuk keenam kalinya. “Jika ini rezekinya, maka aku bersyukur. Namun jika inipun ditolak, maka aku tak akan mencoba lagi Ya Allah,” gumam perempuan yang berdomisili wilayah Cianjur kala mendaftar di Rumah Kepemimpinan (RK)

Singkat cerita, dirinya berhasil menjadi bagian dari Rumah Kepemimpinan. Terwujudnya satu keinginan tak menjadikannya mudah untuk dijalani. 35 peserta, 35 kepribadian, dan 35 cerita ditambah kondisi pandemi ternyata cukup menguras energi. Meski melelahkan, tetapi tetap nikmat di jalani. Banyak yang mendukungnya termasuk orang tua dan keluarga yang menjadi garda utama. Tim Beneficiaries dan kawan-kawan supervisor yang senantiasa saling sharing dan terbuka. Banyak hal yang bisa Teh Elis dapatkan dari mereka termasuk inspirasi saat mati gaya di agenda pembinaan.

“Lingkungan kerja di RK yang mendorong untuk tumbuhnya inisiatif juga memberikan banyak ruang untuk mengambil keputusan. Belum lagi kekeluargaan yang terbangun antarpengurus menjadi hal yang membuatku nyaman. Satu lagi kesan yang mendalam selama ‘nyebur’ di RK adalah ternyata institusi ini se-serius itu untuk membina calon pemimpin masa kini dan masa depan,” ungkap Teh Elis menceritakan perjalanannya selama menjadi supervisor.

Elis Nuraeni
Mahasiswa Magister Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman IPB 2019
Supervisor Regional Putri Non-Asrama Bogor Bandung Jatinangor

Ambil Peran sebagai Penyuluh Kehutanan – Ernas Isnaeni Lukman

Ermas Isnaeni Lukman atau biasa dipanggil Ermas adalah seorang Penyuluh Kehutanan dengan bidang kerja lingkungan hidup dan kehutanan. Wilayah kerja lulusan IPB ini mayoritas 98% di perairan laut tropis yang mana relevan dengan studi S1 yang ia ambil. Dirinya memfokuskan diri di ranah pemberdayaan masyarakat yang cukup nyambung dengan pekerjaan sebelumnya sebagai pendamping Badan Usaha Milik Desa Pemprov Jawa Barat dalam program Patriot Desa.

Pada seleksi CPNS tahun 2019, Ermas memilih formasi sebagai Penyuluh Kehutanan – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di instansi Balai Taman Nasional (BTN) Bunaken. Sebagai seorang lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, ilmu yang pernah ia dapatkan selama kuliah tidak sia-sia dan bisa bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Sejak kuliah Ermas mengambil peminatan di laboratorium divisi Ekobiologi dan Konservasi Sumberdaya Hayati Perairan, maka tak ayal dirinya kini passionate pada ranah pemberdayaan masyarakat atau organisasi.

Ia sering mengikuti kegiatan kampus berupa pengabdian ke desa-desa lingkar kampus atau aksi sosial lainnya. Ia juga memiliki pengalaman serta softskill seperti public speaking, negosiasi, handling mass communication, dan leadership karena sudah terbiasa selama di kampus.

Pria yang menggemari dunia sepak bola dan futsal ini ternyata juga hobi travelling. Bahkan sekarang coba mengekspresikan diri di bidang selam. Untuk travelling, Ermas merasa tertantang mendatangi tempat tempat baru. Meskipun pekerjaannya banyak di suasana pantai, ia selalu merasa senang bila menjelajahi daerah pegunungan.

Untuk menunjang karirnya saat ini Ermas aktif mengikuti kelas pelatihan online bidang enterpreneur atau webinar terkait keilmuan.

Hidup jauh dari keluarga membuat Ermas sering melakukan silaturahmi dengan berbagai jaringan dan latar belakang di kota baru tempat ia tinggal kini, kota Manado. Di tempat baru, Ermas belajar membaur dengan masyarakat lokal yang berbeda suku dengan tempat kelahirannya. Ia belajar budaya serta bahasa agar bisa melebur dengan mereka tetapi tetap memegang teguh nilai nilai ROOM-PK.

Ermas mengaku bahwa Rumah Kepemimpinan sangat berperan pada kehidupannya saat ini. Nilai ROOM-PK dan jati diri anak RK melekat utuh dalam dirinya. Ia merasa bersyukur bisa merasakan pembinaan di RK sehingga dirinya bisa beradaptasi dengan baik sebagai seorang pendatang di tanah Sulawesi dan tetap memegang teguh nilai keislaman di tengah keberagaman suku serta agama.