Daftar Isi
Setiap generasi memiliki sosok yang berani melangkah lebih jauh dari batasnya. Dari Regional 1 Jakarta Putri, nama Matahari Jingga hadir sebagai salah satu wajah muda yang percaya bahwa kontribusi tidak boleh berhenti di lingkup lokal—ia harus meluas hingga tingkat global. Sebagai bagian dari klaster Global Challengers, ia memandang dunia bukan sebagai peta yang membatasi, tetapi sebagai ruang luas untuk berjejaring, belajar, dan membawa nama Indonesia di panggung internasional.
“Aku pernah merasa mimpi ke luar negeri itu cuma milik orang lain.”
Tapi segalanya berubah, waktu aku berdiri di depan kelas—mengajar bersama teman-teman dari berbagai benua.
Kalimat itu menggambarkan awal perjalanan Matahari Jingga, awardee Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta Putri, yang kini dikenal sebagai salah satu Global Challenger. Ia belajar bahwa batas sebenarnya bukan pada jarak atau negara, melainkan pada keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Belajar dari Dunia, Tapi Tak Kehilangan Arah
Sebagai mahasiswa Antropologi Sosial, Matahari banyak belajar tentang manusia, budaya, dan keberagaman. Namun, justru pengalaman nyatalah yang paling mengajarkannya arti perbedaan.
Selama enam minggu menjadi sukarelawan bersama exchange participants dari berbagai negara, ia mengajar anak-anak SMP dan SMA di Jakarta. Tantangan komunikasi dan perbedaan budaya sempat membuatnya ragu. Namun, saat seorang peserta asal Vietnam memujinya karena kepemimpinan yang hangat dan efektif, ia sadar—mungkin memang aku bisa berdiri di panggung global, membawa nama Indonesia.
Representasi yang Berakar dari Identitas
Bagi Matahari, menjadi global challenger bukan berarti meniru dunia Barat. Sebaliknya, ia ingin menunjukkan bahwa Indonesia punya identitas dan nilai yang layak dibanggakan.
“Sebagai anak Antropologi, aku tahu budaya Barat bukan tolok ukur segalanya,” ujarnya.
Ia ingin dunia melihat Indonesia bukan sekadar “negara tempat Bali berada,” melainkan bangsa yang punya cerita, nilai, dan peradaban yang kuat.
Suara yang Membangun Kesadaran
Kecintaannya pada dunia sosial juga tercermin lewat karya ilmiah. Bersama rekannya, ia menulis esai tentang inklusivitas pendidikan bagi anak tuli dan berhasil meraih penghargaan Best Paper di Festival Ilmiah Mahasiswa 2024.
Namun baginya, penghargaan bukan tujuan utama. “Yang paling berharga adalah bisa menyuarakan hal-hal yang sering dilupakan,” kata Matahari. Ia percaya riset dan tulisan adalah bentuk kepemimpinan yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu-isu sosial.
Memimpin dalam Perbedaan
Pengalaman menjadi Team Leader di UIxYonsei Community Project menjadi bab penting lain dalam perjalanannya. Ia memimpin tim gabungan mahasiswa Indonesia dan Korea, menghadapi kendala bahasa dan cara berpikir yang berbeda.
“Dari situ aku belajar, komunikasi bukan soal lancar, tapi soal dipahami,” tuturnya. Sebagai pemimpin, ia berusaha menjadi jembatan yang menyatukan visi dan rasa antar anggota tim.
Volunteering yang Membentuk Nilai
Menjadi relawan, bagi Matahari, bukan sekadar memberi, tapi juga menemukan diri. Ia belajar untuk tetap berpegang pada nilai dan batasan pribadi, sembari menghargai keberagaman di sekelilingnya. “Menjadi volunteer mengajarkanku dua hal: menemukan nilai yang tak bisa dikompromikan, dan menghargai perbedaan tanpa kehilangan diri sendiri.”
Mimpi yang Terbentang di Langit Global
Kini, Matahari bermimpi membangun sebuah NGO yang memberdayakan anak muda Indonesia untuk berkiprah di kancah internasional. Ia ingin membuktikan bahwa pemuda Indonesia mampu membawa prestasi, cerita, dan nilai luhur bangsa ke dunia.
“Setiap langkah kecil bisa mengantar kita ke dunia yang lebih luas,” ujarnya.
Lalu ia menutup dengan satu refleksi yang sederhana namun kuat:
Kalau kamu diberi kesempatan ke forum global, cerita apa yang akan kamu bawa dari Indonesia?