Aji Febriandi adalah contoh perjalanan seorang anak muda yang berani mengubah arah hidupnya melalui keputusan kecil yang sederhana: mencoba. Mahasiswa Universitas Airlangga angkatan 2023 ini berasal dari Bogor dan sedang menempuh perjalanan pembinaan sebagai peserta Rumah Kepemimpinan Regional 4 Angkatan XII.

Kisahnya dimulai dari sebuah langkah ragu, yang kemudian berkembang menjadi rangkaian keberanian baru.

Awal Perjalanan

Aji tidak tumbuh sebagai anak lomba. Ia bukan tipe yang selalu berdiri di depan, apalagi terbiasa menang kompetisi. Ia justru sering berada di posisi sebaliknya: menjadi penonton yang melihat teman-temannya juara, sementara dirinya memendam keraguan.

Namun pada tahun 2024, ia memutuskan sesuatu yang mengubah seluruh hidupnya—berani mencoba, meski belum sempurna.

Itulah tahun pertamanya benar-benar turun ke dunia kompetisi: debat ilmiah, esai akademik, hingga konferensi internasional. Semua pengalaman itu adalah “pertama kali” baginya. Rasa takut dan minder sering muncul, tetapi ada satu dorongan yang lebih besar: keinginan untuk melihat sejauh apa ia bisa berkembang.

Proses yang Tidak Selalu Mulus

Setiap langkah yang Aji ambil bukan tanpa tantangan.
Ia menghadapi:

  • belajar materi baru dalam waktu singkat,

  • membagi waktu antara kuliah dan organisasi,

  • keraguan diri yang datang tiba-tiba,

  • pikiran untuk mundur ketika merasa tidak cukup mampu.

Di tengah jatuh dan bangun itu, Aji belajar tentang konsistensi, keberanian, dan pendewasaan diri. Ia juga belajar bahwa keberhasilan tidak bisa dicapai sendiri—ada mentor, teman, dan keluarga yang ikut menopang prosesnya.

Aji mengalami masa ketika ia ingin menyerah. Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Ngapain capek-capek kalau belum tentu berhasil?” Namun setiap kali ia hampir mundur, ia kembali mengingat alasan ia memulai: ingin menjadi versi dirinya yang lebih berani, lebih berkembang, dan lebih jujur terhadap potensinya.

Makna di Balik Prestasi yang Ia Raih

Dari keputusan sederhana untuk mencoba, lahirlah capaian yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya:

  • Best Poster Presenter – Geoscience & Earthscience, MRCST 2025 (UKM Malaysia)

  • Juara 1 Musabaqah Debat Ilmiah Kandungan Qur’an Bahasa Arab – UNAIR 2025

  • Juara 2 Esai Statistika – Statistics Data Challenge, Unisba 2025

  • Finalis Duta Universitas Airlangga 2024

Prestasi ini bukan tujuan akhir, melainkan penanda perjalanan. Aji selalu percaya bahwa menang bukan inti dari semuanya. Yang lebih penting adalah keberanian untuk memulai, proses panjang yang ia jalani, serta tumbuhnya rasa percaya diri dari langkah demi langkah kecil yang ia ambil.

Pelajaran yang Paling Membekas

Ada satu pelajaran yang benar-benar mengubah cara Aji melihat hidup: “Kita nggak harus nunggu sempurna untuk mulai, tapi kita bisa mulai untuk jadi lebih baik.”

Dulu ia berpikir seseorang harus jago dulu baru pantas tampil. Namun kenyataannya, justru dari proses “yang belum siap” itu ia belajar hal-hal yang tidak akan ia temui jika terus menunda.

Ia belajar tentang sabar, tekun, jatuh, bangkit, dan keberanian untuk berusaha lagi.
Pelajaran yang sederhana, namun membangun fondasi kepemimpinannya hari ini.

Peran Rumah Kepemimpinan dalam Perjalanan Aji

Aji menyebut Rumah Kepemimpinan sebagai ruang aman untuk tumbuh.
Di tempat inilah ia belajar:

  • menata niat,

  • menjunjung integritas,

  • memahami bahwa prestasi bukan tujuan akhir,

  • dan menjalani proses dengan kesungguhan.

Nilai seperti self-leadership, learning agility, dan keberanian memulai meski belum sempurna, menjadi bekal penting saat ia menghadapi kompetisi.
RK melatihnya menjadi pribadi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga punya arah dan kontribusi.

Refleksi Pribadi dan Prinsip Hidup

Aji mengutip Tan Malaka sebagai tokoh yang paling menginspirasinya: “Berani hidup berarti berani menderita.”

Kalimat itu membuatnya memahami bahwa hidup memang penuh tantangan, tetapi keberanian bukan berarti menghapus rasa takut. Keberanian berarti tetap melangkah meski rasa takut itu masih ada.

Aji percaya bahwa setiap anak muda punya waktu dan jalannya masing-masing. Tidak apa-apa berjalan lambat, ragu, atau merasa belum siap. Yang penting adalah tetap bergerak.

Karena sering kali, pintu besar tidak terbuka karena seseorang sudah siap—tetapi karena seseorang berani mengetuknya lebih dulu.

Aji menutup perjalanan ini dengan pesan:
“Jangan tunggu siap untuk berani. Mulailah, dan biarkan proses menguatkanmu.”