Daftar Isi
rumahkepemimpinan.org – Arundaya Pratama Nurhasan, mahasiswa Teknik Informatika ITS angkatan 2022 asal Depok dan Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 4 Surabaya Angkatan XII, menuliskan bab penting dalam perjalanan hidupnya di tahun 2025. Bersama Tim Barunastra ITS, Arund menorehkan prestasi yang membanggakan bagi Indonesia: Juara 1 International Roboboat Competition (IRC) 2025 di Sarasota, Florida, Amerika Serikat. Perjalanan yang panjang ini berjalan beriringan dengan proses pembinaannya, yang bisa ditelusuri lebih jauh melalui rumahkepemimpinan.
Perjalanan Menuju Florida: Lebih dari Sekadar Kompetisi
Kemenangan ini mudah diceritakan sebagai “hasil akhir”. Namun bagi Arund, Roboboat justru mengajarkannya bahwa bagian paling penting bukan podium, melainkan perjalanan ke sana. Ia memulai semuanya dari hal teknis yang sangat dasar: memahami kontrol Autonomous Surface Vehicle (ASV), menyusun ulang strategi yang berubah banyak kali, begadang demi revisi yang tidak ada habisnya, dan memastikan sistem berjalan stabil beberapa jam menjelang keberangkatan.
Namun semakin jauh ia melangkah, semakin jelas bahwa tantangan terbesar bukan aspek teknisnya. Justru dinamika manusiawi yang lebih menguras energi: menjaga komunikasi dalam tim, mengelola perbedaan pandangan, menghadapi ekspektasi dari pembimbing dan institusi, serta menjaga diri tetap stabil ketika rasa cemas datang bertubi-tubi.
Di tengah semua itu, Arund menemukan satu hal yang menyelamatkannya: ia tidak berjalan sendirian.
Tentang Orang-Orang yang Menjadi Alasannya Bertahan
Arund tidak menutupinya: ada orang-orang yang menjadi alasannya bertahan. Ia tidak menyebut nama, tetapi rasa yang ia simpan jelas terasa. “Aku tahu aku nggak kerja sendirian, dan aku punya orang-orang yang aku sayang. Mereka diam-diam jadi alasan buat terus nyoba,” ujarnya.
Bagi Arund, cinta—baik kepada tim, kepada proses, maupun kepada orang-orang terdekatnya—adalah bahan bakar yang membuatnya tetap duduk di depan laptop saat yang lain tidur, tetap bertahan ketika mood sedang buruk, dan tetap percaya bahkan saat ia sendiri ragu.
Tidak Selalu Kuat, Tapi Tetap Memilih untuk Berjalan
Dalam proyek sebesar ini, ada banyak hari ketika Arund ingin berhenti. Ada masa ketika hasil tak kunjung terlihat, sementara tekanan terus berdatangan dari luar maupun dari dalam dirinya. Ada hari ketika ia benar-benar mempertanyakan seluruh perjalanan: apakah semua ini layak diperjuangkan?
Tetapi setiap kali keinginan menyerah itu muncul, ia kembali pada alasan sederhana: ia ingin membuktikan pada dirinya dan pada orang-orang yang ia hormati bahwa perjuangannya tidak sia-sia.
“Kalau aku bisa bikin ini berhasil,” katanya, “mungkin aku bisa buktiin ke diriku sendiri dan ke orang-orang yang sering aku pikirin tiap malam… bahwa semua ini nggak sia-sia.”
Keberanian Arund bukan tentang tidak takut. Justru ia melangkah bersama rasa takut itu.
Ruang untuk Gagal, Ruang untuk Tumbuh
Salah satu pelajaran paling besar dalam perjalanan ini datang dari supervisornya di Rumah Kepemimpinan, Mas Khanif. Di masa ketika Arund ragu, ia mendapat pesan yang terus ia bawa hingga sekarang: “Tidak ada yang pasti. Makanya kita harus menyediakan ruang untuk kegagalan. Pun kalau gagal, nggak apa-apa. Yang penting coba dulu.”
Kalimat sederhana ini memberi ruang bernapas. Membuatnya memahami bahwa gagal di beberapa percobaan bukan berarti gagal sebagai manusia. Ruang untuk gagal adalah ruang untuk tumbuh, ruang untuk memperbaiki, dan ruang untuk kembali mencoba tanpa merasa terbebani oleh kesempurnaan.
Lebih dari Sekadar Pemenang Kompetisi
Setiap kemenangan memang membanggakan, tetapi bagi Arund, ada hal yang jauh lebih membekas. Ia menyadari bahwa kemenangan sejati justru hadir pada hari-hari yang tidak terlihat kamera: hari saat ia bangkit dari rasa lelah, hari saat ia memilih terbuka dengan tim, hari saat ia tetap tenang ketika keadaan tidak menentu.
“Yang paling sulit bukan berdiri di podium,” katanya, “tapi tetap tegak saat nggak ada yang lihat.”
Prestasi internasional itu hanyalah bonus dari proses panjang yang membuatnya lebih matang, lebih tenang, dan lebih jujur terhadap dirinya sendiri.
Belajar Menjadi Manusia dari Rumah Kepemimpinan
Dalam perjalanan menuju Roboboat, nilai-nilai dari Rumah Kepemimpinan ikut membentuk caranya melihat proses. Arunbelajar bahwa kepemimpinan bukan tentang tahu semua jawaban, melainkan tentang keberanian melangkah ketika jawaban belum jelas. Ia belajar bahwa dialog yang jujur lebih penting daripada terlihat paling benar. Ia belajar bahwa kontribusi tidak hanya soal hasil, tetapi tentang bagaimana proses itu dijalani.
Nilai “menyediakan ruang untuk kegagalan” menjadi salah satu yang paling melekat baginya—nilai yang akhirnya menenangkannya di masa paling genting.
Tentang Habibie, Teknologi, dan Rasa Cinta yang Dalam
Salah satu tokoh yang paling menginspirasi Arund adalah B.J. Habibie. Ia mengagumi bagaimana Habibie memadukan kejeniusannya dengan cinta pada bangsa dan keluarganya. “Aku kagum bagaimana beliau bukan cuma pintar, tapi juga punya hati yang besar,” kata Arund. Dari Habibie, ia belajar bahwa karya besar hanya berarti jika lahir dari ketulusan.
Kini, setelah pertandingan selesai dan perjalanan panjang itu ia lewati, Arund punya pesan sederhana:
“Nggak apa-apa kalau kamu capek, bingung, atau bahkan gagal—asal jangan berhenti. Kita semua butuh waktu, dan kadang hasil besar datang setelah satu langkah kecil yang hampir kita lewatkan.”