Daftar Isi
rumahkepemimpinan – Di sebuah kafe kecil di sudut kota, seorang pemuda bernama Firdaus menatap layar laptopnya dengan perasaan campur aduk. Beberapa detik yang lalu, ia baru saja menerima email penerimaan beasiswa S-2 di Jerman. Ini adalah impiannya sejak lama: belajar di luar negeri, mendapatkan pengalaman internasional, dan memperluas wawasan. Namun, di saat yang sama, pikirannya dipenuhi keresahan.
Akhir-akhir ini, media sosialnya dipenuhi dengan tagar #KaburAjaDulu dan #IndonesiaGelap. Banyak teman-temannya merasa frustrasi dengan kondisi dalam negeri: lapangan kerja yang semakin sulit, biaya hidup yang terus naik, hingga ketidakpastian politik dan sosial. Mereka menganggap bahwa pergi ke luar negeri adalah satu-satunya solusi.
“Apakah aku juga harus pergi dan tak kembali?” gumam Firdaus dalam hati.
Ia teringat percakapan dengan teman-temannya beberapa hari yang lalu. Banyak di antara mereka yang mengatakan, “Ngapain balik ke Indonesia kalau di luar negeri lebih baik?” atau “Di sini, usaha sekeras apa pun nggak akan dihargai.”
Firdaus tidak bisa menyalahkan mereka. Ia pun merasakan hal yang sama. Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia teringat kisah Jack Ma, pendiri Alibaba, yang dulu berkali-kali ditolak sebelum akhirnya membangun salah satu perusahaan terbesar di dunia. Ia juga teringat bagaimana diaspora India, setelah sukses di Silicon Valley, kembali ke negaranya untuk membangun ekosistem startup di Bangalore.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Apa yang akan terjadi jika semua orang terbaiknya pergi dan tak kembali?
Memahami Arti Kepergian
#KaburAjaDulu, tapi jangan lupa #BalikUntukBangunBangsa!
Simon Sinek dalam bukunya Start with Why menekankan bahwa setiap orang mencari makna dalam pekerjaan mereka. Jika seseorang hanya berfokus pada kesulitan dan ketidakpuasan, maka ia akan terus mencari pelarian. Namun, jika seseorang menemukan alasan yang lebih besar—”why”—maka perjalanan mereka akan menjadi lebih bermakna.
Firdaus mulai berpikir ulang. Pergi ke luar negeri bukanlah masalah. Menimba ilmu, mencari pengalaman, dan mengejar impian adalah hak setiap individu. Tetapi, bagaimana jika kepergian itu tidak sekadar “kabur”, melainkan sebuah misi untuk kembali dengan membawa perubahan?
Thomas L. Friedman dalam The World is Flat menjelaskan bahwa dunia saat ini sudah mendatar. Kesempatan tak lagi terbatas oleh batas negara. Namun, alih-alih hanya mencari kenyamanan di negeri orang, mengapa tidak melihat ini sebagai kesempatan untuk belajar dan membawa perubahan bagi negeri sendiri?
Firdaus teringat bagaimana negara-negara lain berhasil membalikkan situasi mereka. China, yang dulu dianggap sebagai negara berkembang dengan tenaga kerja murah, kini menjadi salah satu pusat inovasi dunia. Korea Selatan, yang beberapa dekade lalu masih tertinggal, kini memimpin di berbagai sektor industri. Jepang, setelah hancur akibat Perang Dunia II, bangkit menjadi salah satu negara dengan ekonomi terkuat.
Apa persamaan dari semua negara tersebut? Mereka tidak kehilangan orang-orang terbaiknya.
Belajar dari Sejarah: Diaspora yang Kembali untuk Mengubah Negeri
Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century menekankan bahwa dunia terus berubah dengan cepat. Keahlian yang relevan hari ini bisa jadi usang besok. Oleh karena itu, kita harus terus belajar dan beradaptasi.
Banyak negara mengalami brain drain, di mana orang-orang terbaik mereka pergi ke luar negeri dan tidak kembali. Namun, ada pula negara yang berhasil membalikkan keadaan dengan konsep reverse brain drain—memanggil kembali para talenta terbaik untuk membangun negeri.
India adalah salah satu contoh suksesnya. Pada 1990-an, ribuan insinyur India pergi ke Amerika Serikat untuk bekerja di perusahaan teknologi. Namun, ketika pemerintah India mulai menciptakan ekosistem yang lebih mendukung, banyak dari mereka yang kembali dan membangun industri IT di Bangalore. Kini, India menjadi salah satu pusat teknologi terbesar di dunia.
Tiongkok juga melakukan hal yang sama. Pemerintahnya mengundang para diaspora untuk kembali dengan menawarkan berbagai insentif dan peluang. Hasilnya? Tiongkok kini memimpin dalam banyak bidang, dari kecerdasan buatan hingga manufaktur teknologi tinggi.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilizations mengatakan bahwa stabilitas politik dan ekonomi suatu negara sangat bergantung pada bagaimana pemerintahnya merespons kebutuhan rakyatnya. Jika para pemimpin dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk inovasi dan pertumbuhan, maka para profesional muda tidak akan ragu untuk kembali.
Mengubah #IndonesiaGelap Menjadi #IndonesiaMenyala
Firdaus mulai melihat segala sesuatunya dengan perspektif yang berbeda. Ia sadar bahwa kepergiannya bukanlah sekadar untuk melarikan diri, tetapi untuk menyiapkan dirinya menjadi seseorang yang lebih siap berkontribusi bagi bangsanya.
Ia membuka ponselnya dan mulai mengetik sebuah unggahan di media sosial:
“Aku akan pergi untuk belajar. Tapi aku berjanji akan kembali. Indonesia mungkin gelap sekarang, tapi kita bisa membuatnya menyala. #KaburAjaDulu tapi jangan lupa #BalikUntukBangunBangsa!”
Unggahannya langsung mendapat banyak respons. Beberapa temannya mulai berpikir ulang. Mereka sadar bahwa pergi bukan masalah, selama ada niat untuk kembali dan berkontribusi.
Ada yang berkomentar, “Gue jadi kepikiran, mungkin selama ini kita terlalu fokus pada yang buruk-buruknya tanpa mencoba jadi bagian dari solusinya.”
Yang lain menulis, “Gue setuju, kita nggak bisa berharap negara ini berubah kalau semua orang terbaiknya memilih pergi dan nggak balik.”
Firdaus tersenyum. Ia tahu bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil.
Seperti diaspora Tiongkok yang kembali membangun industri teknologi di negaranya. Seperti anak-anak muda India yang pulang untuk menjadikan negaranya raksasa IT dunia. Kita pun bisa melakukan hal yang sama.
Dari Mimpi ke Aksi: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Jika kita sedang mempertimbangkan untuk pergi ke luar negeri, tanyakan pada diri sendiri:
- Apa tujuan utama kita? Jika hanya ingin melarikan diri dari masalah, mungkin ada cara lain untuk mengatasinya. Jika untuk belajar dan berkembang, maka pastikan kita kembali membawa sesuatu yang bisa berguna bagi banyak orang.
- Bagaimana kita bisa berkontribusi? Tidak semua orang harus kembali secara fisik. Tetapi, setidaknya kita bisa berbagi ilmu, membangun jaringan, atau mendukung inisiatif yang bisa membantu membangun negeri.
- Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Mungkin kita belum bisa melakukan perubahan besar, tetapi setiap langkah kecil bisa berarti. Mulai dari berbagi wawasan, membantu komunitas, atau bahkan sekadar menyebarkan semangat optimisme.
Indonesia butuh orang-orang yang berani bermimpi besar dan mau berjuang untuk mewujudkannya. Bukan hanya mereka yang tinggal di dalam negeri, tetapi juga mereka yang pergi ke luar negeri dengan niat untuk kembali membawa perubahan.
Karena negeri ini tak akan berubah jika semua orang terbaiknya memilih untuk pergi. Yakinlah, Indonesia akan bangkit jika orang-orang terbaiknya kembali untuk membangun.
Jadi, masih mau hanya sekadar #KaburAjaDulu? Atau siap untuk #BalikUntukBangunBangsa dan menjadikan #IndonesiaMenyala?
Baca juga artikel Rumah Kepemimpinan atau artikel lainnya disini
- Pemimpin Itu Terlahir atau Dibentuk? Ini Jawabannya
- Pohon Kehidupan Rumah Kepemimpinan Menumbuhkan Pemimpin Indonesia Meretas Batas Dunia
Baca juga materi-materi berharga lainnya di rumahkepemimpinan.org dan dapatkan informasi terbaru tentang alumni Rumah Kepemimpinan hanya disini.
Penulis:
Editor: Anisa Wakidah