Daftar Isi
rumahkepemimpinan.org – Ini adalah kisah pengabdian perempuan yang tidak lahir dari forum prestasi atau panggung seminar. Perjalanan ini justru bermula dari layar televisi masa kecil. Saat itu “Laskar Pelangi” hadir sebagai tontonan sederhana. Siapa sangka tayangan itu menjadi pintu menuju perjalanan besar. Lima belas tahun kemudian, Dwina benar-benar menginjakkan kaki di tanah Lintang dan Arai. Bukan sebagai turis, tetapi sebagai seseorang yang ingin mengabdi.
Nilai Keluarga yang Menjadi Arah Hidup
Sejak kecil, orang tua Dwina tidak pernah menuntut ia harus menjadi sesuatu. Tidak menuntut jurusan tertentu, pekerjaan tertentu, atau gelar tertentu. Mereka hanya menitipkan satu pesan:
“Apa pun yang kamu pilih, pastikan membawa manfaat bagi sekitar.”
Pesan sederhana itu menjadi fondasi cara pandangnya. Bahwa mencoba itu wajib, gagal itu wajar, dan hidup bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Hidup adalah tentang memberi arti pada langkah.
Mimpi Kecil yang Terus Hidup Sampai Dewasa
Kebiasaan membaca dan menonton tayangan edukatif di masa kecil membentuk karakter Dwina. Dari situlah tumbuh mimpi kecil pergi ke Bangka Belitung, negeri tempat Laskar Pelangi tumbuh. Mimpi yang terlihat kekanak-kanakan itu akhirnya menjadi kompas hidup.
Ruang Aman bagi Mimpi Perempuan
Perubahan besar datang saat Dwina bertemu Rumah Kepemimpinan (RK) Yogyakarta. Di sana ia merasakan lingkungan yang tidak mengekang perempuan. Lingkungan yang memberi ruang untuk bermimpi, bereksplorasi, dan mengambil tempat.
Ia bertemu teman-teman yang memahami bahwa pengabdian bukan hanya KKN atau tuntutan kampus. Pengabdian adalah latihan kepemimpinan yang nyata.
Dari Wacana Menjadi Perjalanan Nyata
Dengan dukungan tim, kolaborasi, dan bantuan kampus, mimpi itu berubah menjadi rencana. Sebagian biaya ditanggung kampus. Sisanya mereka perjuangkan hingga terkumpul. Ketika akhirnya tiba di Bangka Belitung, Dwina sadar bahwa tempat itu bukan sekadar lokasi. Itu adalah bukti bahwa mimpi yang dijaga akan menemukan jalannya.
Beberapa komentar meremehkan sempat terdengar:
“Ngapain perempuan aktif banget sih? Nanti ujung-ujungnya juga di rumah.”
Komentar seperti itu menamparnya. Namun tidak cukup kuat untuk menghentikan langkah. Dwina percaya bahwa kapasitas diri paling tahu oleh pemiliknya, bukan oleh penilaian orang lain.
Dwina terus mengasah diri melalui banyak pengalaman: menjadi moderator Hari Perempuan, menjadi duta kesehatan mental, terjun di kegiatan pengabdian, hingga merintis platform kreatif. Dari semua itu, ia belajar bahwa peran bukan soal hebat. Peran adalah soal niat, komitmen, dan keberanian bertumbuh.
Pembelajaran dari Srikandi Putri RK Jogja
Tinggal bersama Srikandi Putri RK Jogja memperluas pemahaman Dwina tentang peran perempuan. Ia belajar bahwa perempuan dapat mengambil tempat di ruang domestik, publik, maupun politik. Semuanya bisa, tanpa kehilangan jati diri.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan konsep identity leadership yang banyak dibahas dalam panduan pengembangan karakter berbasis nilai bagi mahasiswa (internal link). Materi tentang environment-driven youth development juga dibahas dalam panduan penguatan lingkungan belajar positif (internal link).
Dalam satu momen refleksi, Dwina menemukan ayat yang menguatkannya:
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka berjalanlah di segala penjurunya.” (Al-Mulk:15)
Ayat itu mengingatkan bahwa perempuan boleh berada di mana saja:
di desa, di kampus, di proyek sosial, di ruang publik.
Menjaga Mimpi Setinggi Angkasa
Bagi Dwina, mimpi perempuan tidak boleh direndahkan. Sebab dari seorang perempuan sering lahir generasi cendekiawan—penjaga nilai, pembawa perubahan, dan pemikul masa depan.
Perjalanan pengabdian perempuan ini bukan hanya tentang Dwina. Ini tentang semua perempuan yang ingin melangkah lebih jauh.
Selama ada mimpi, ada jalan. Selama ada nilai, ada arah. Dan selama ada keberanian, pengabdian akan menemukan rumahnya.
Editor: Anisa Wakidah