Ini adalah kisah tentang pengabdian desa pesisir. Kisah seorang pemuda bernama Muammar yang memilih bertahan ketika banyak orang mungkin sudah menyerah. Setiap pekan ia menyeberangi laut menuju Desa Kurandak dan Kwala di Sumatera Utara—dua wilayah pesisir yang sekolahnya masih berjalan seadanya. Banyak anak sudah duduk di kelas, tetapi belum lancar membaca.

Medan yang Tidak Mudah Dilalui

Perjalanan menuju dua desa itu tidak pernah sederhana. Muammar dan tim RumNet menggunakan sampan pinjaman warga. Kadang air surut membuat perahu kandas. Terkadang mesin mati tiba-tiba. Pernah juga air masuk ke perahu dan mereka harus mengurasnya sambil menjaga arah.

Di wilayah terpencil seperti ini, pendidikan adalah perjuangan. Ia menuntut keberanian dan hati yang kuat.

Menyesuaikan Pendidikan dengan Ritme Hidup Masyarakat

Anak-anak di desa sering membantu orang tua ke laut atau mengurus rumah. Jadwal belajar pun mengikuti ritme hidup mereka. Untuk menarik dukungan orang tua, tim membuat lomba kecil dan aktivitas komunitas. Keterlibatan keluarga menjadi kunci perubahan.

Di antara anak-anak itu ada seorang bocah lasak. Ia sulit diam, tetapi ketika diminta menghitung, ia melesat cepat. Dari situ Muammar belajar bahwa potensi anak tidak selalu terlihat dalam bentuk yang rapi. Kadang ia tumbuh dalam kebebasan bermain dan keberanian mencoba.

Proses Pendidikan Itu Menanam, Bukan Memanen

Ada hari ketika perkembangan anak terasa lambat. Namun pengabdian desa pesisir mengajarkan bahwa perubahan sering tumbuh diam-diam. Seperti akar yang mempersiapkan diri sebelum menahan badai.

Muammar membawa pelajaran dari kelas Leaders & Leadership. Ia membacakan kisah Nabi, mengajarkan sabar, tanggung jawab, dan makna melayani sebelum memimpin. Anak-anak belajar mengaji, sementara ia belajar memperkuat komitmen.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip environment-driven growth yang dibahas dalam artikel tentang strategi membentuk karakter melalui lingkungan belajar (internal link). Konsep youth development berbasis nilai juga dijelaskan dalam panduan pengembangan pemuda berbasis lingkungan sehat (internal link).

Saat Kepercayaan Orang Tua Mulai Tumbuh

Ucapan terima kasih sederhana dari orang tua menjadi momen paling menyentuh. Itu tanda bahwa kepercayaan mulai tumbuh. Anak-anak berubah menjadi lebih sopan, lebih semangat, dan lebih menghargai proses. Pada titik itu, Muammar merasa mereka tidak hanya mengajar; mereka ikut tumbuh bersama desa.

Perubahan memang lambat. Namun setiap langkah kecil—satu kata yang berhasil dibaca, satu rumus yang dipahami, satu keluarga yang mulai mendukung—adalah investasi jangka panjang. Prinsip perubahan bertahap ini sejalan dengan riset The Power of Small Wins dari Harvard Business Review (external link) dan program UNESCO untuk pendidikan wilayah terpencil (external link).

Melangkah Bersama, Bukan Sendiri

Muammar selalu teringat pepatah: “Jika ingin berjalan cepat, pergilah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.”
Dalam pengabdian desa pesisir, pepatah itu menjadi kenyataan sehari-hari. Ia tidak melangkah sendiri. Ada tim, ada keluarga, ada anak-anak, dan ada misi.

Dan setiap kali laut bergelombang dan perahu oleng, satu kalimat kembali menguatkan hatinya:

“Kalau aku menyerah, siapa yang akan bertahan?”

Penulis: Supriatna

Editor: Anisa Wakidah