Sembuhkan Banyak Luka & Tangisan | Reni Anggraini

photo_2021-07-27_17-34-49
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Namanya Reni Anggraini, akrab disapa Rere. Perempuan kelahiran 1 April 1997 ini merupakan lulusan Fakultas Peternakan Univ. Gadjah Mada. Besar dari keluarga sederhana dan berprofesi sebagai petani di pedalaman Aceh Timur, membuatnya banyak belajar di alam. Keluarganya menjadi korban perang di Aceh yang menyebabkan ia beserta keluarga sangat terpukul sebab kehilangan banyak hal. Mereka kemudian pindah ke Langkat, untuk memulai kehidupan yang baru. Selama perjalanan “membangun” kembali, Rere ditempa dengan banyak “rasa sakit” dalam hidupnya. Ia pernah menjadi penggembala kambing, peternak bebek, ikut menanam padi disawah, mencari pakan, dan mengarit rumput.

Setelah menuntaskan Pendidikan SMA di SMA Unggulan CT ARSA Foundation, Rere memasuki perkuliahan di Yogyakarta dan mulai aktif menjadi relawan di komunitas serta organisasi. Pernah menjadi volunter Yayasan Lentera, membuatnya sering mendatangi RS. Sardjito untuk membawakan popok, obat-obatan dan menemani keluarga dengan pasien anak penyakit langka. “Ruangan paling dingin yang pernah saya masuki adalah bangsal kanker anak, di sana banyak anak dengan selang di sekujur tubuhnya. Ibu-ibu mereka menjaga dengan tatapan sendu. Saya berjalan mengantarkan selimut, hati saya berdarah-darah” ungkap Rere mengenang masa lalunya. Batinnya terluka mana kala melihat berbagai kondisi adik-adik dan latar belakang ekonomi keluarga mereka.

Jiwa kerelewanan yang dimiliki tidak hanya tersalurkan melalui Yayasan Lentera, Rere pun aktif menjadi volunter di Rumah Zakaf Infaq Sodaqoh UGM (RZIS) untuk menyalurkan bantuan sembako dan bantuan biaya hidup kepada tunanetra, tunadaksa, tunarungu, difabel, dan keluarga prasejahtera. Ia banyak menangis saat menyaksikan banyak ketidakadilan di masyarakat. Ia juga pernah mengunjungi panti sosial, rumah mualaf, dan terlibat dalam diskusi-diskusi mengenai dunia kemanusiaan.

Terlepas dari kegiatannya di lapangan, Rere sempat membuat perjalanan dengan misi mengulik sisi lain kemanusiaan di suatu daerah. Dirinya pernah bertemu perkumpulan TKI di Malaysia yang tinggal di perkampungan kumuh. Di sana saudara sebangsanya sering dipandang “rendah” oleh bangsa lain. Ia juga melakukan solo traveling ke beberapa kota untuk menyambangi satu persatu belahan bumi khatulistiwa dan melihat realitas masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Kini Rere bergabung dengan Non-Governmental Organization (NGO) di bidang kemanusiaan sebagai personil tim program terutama di pedalaman Gunung Kidul. Di wilayah tersebut ia kerap menemukan warga yang sepuh dan hidup sebatang kara bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hariannya. Potret desa tanpa sumber air yang bersih membuat sebagian besar warganya menderita stunting, cacat fisik, dan sakit ginjal. Pada musim kemarau, ia bersama tim pernah melakukan dropping air ke daerah yang terdampak kekeringan. Tak disangka, ia bertemu seorang ibu yang menangis haru ketika melihat air mengalir di daerahnya.

Sebagai alumni Rumah Kepemimpinan, ada banyak kisah yang kembali mengingatkannya pada idealisme semasa dibina. Bahwa hidup itu meaningful dan impactful. Manusia memikul misi liberasi, humanisasi, dan transendensi. Rere mengaku Rumah Kepemimpinan telah membentuk dirinya untuk terus bermanfaat meskipun jauh dari sorot kamera, jauh dari capaian prestasi. Namun baginya, prestasi adalah ketenangan hati untuk hanya mengabdi pada Illahi Rabbi.

More to explorer

Cinta yang Tak Biasa

Eka Primadestia Kusumawardani atau biasa disapa Eka adalah alumni Rumah Kepemimpinan angkatan 8 dan merupakan lulusan Ilmu Administrasi Universitas Indonesia 2014. Cinta

Bersama Tangkal Radikalisme

Silaturahim Korbinmas Baharkam Polri dan Rumah Kepemimpinan Kegiatan “Sambang”, Menghadirkan Pembelajaran dari Seorang Mantan Narapidana Kasus Terorisme Telah berlangsung Acara ‘Sambang’ dari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *