Menjadi Sekrup di Dunia Pembinaan

photo_2021-08-24_16-49-40
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter

Organisasi bagi sebagian orang adalah hal yang tak penting, tetapi bagi sebagian kecil justru berorganisasi adalah candu. Satu di antara sebagian kecil itu ialah Elis Nuraeni. Teh Elis, begitu ia akrab disapa, menikmati berorganisasi sedari SD yang seolah menjadi laboratorium dunia kepemimpinan baik sebagai yang dipimpin maupun yang memimpin. Namun, nampaknya proses memimpin dan dipimpin adalah mata ajar sepanjang hayat.

Konon kepemimpinan erat kaitannya dengan seberapa besar pengaruh yang dimiliki. Namun, baginya, kepemimpinan idealnya dimulai dari kontribusi. Ketika dinamisnya masa berorganisasi di dunia kampus, ia kerap merasa iri dengan teman sekitar yang memiliki karya nyata. Ada yang memiliki kapasitas design sehingga mampu membuat sesuatu yang keren. Ada juga yang mampu meng-arrange acara internasional dengan sukses. Atau teman-teman yang berhasil membuat sebuah gerakan yang langsung menyasar target. “Sungguh membuat iri, hehe” ungkap perempuan mengenang aktivitasnya sewaktu di Univ. Padjadjaran.

Perasaan semacam itu cukup mengganggu dan tak jarang pertanyaan, “aku bisa apa?” sering muncul dalam benak Teh Elis. Satu per satu ia telusuri hal yang nyaman dilakukan. Setelah perenungan yang cukup lama, barulah dia temukan bahwa dunia pembinaan adalah hal yang paling ia sukai. Tak peduli selelah apapun, bila sudah waktunya pembinaan, dirinya bergegas untuk menunaikan. Tak peduli sebanyak apapun agenda yang dimiliki, membina senantiasa menjadi hal yang paling dinanti.

Perempuan yang hobi bercerita dan mendengarkan cerita ini juga mengamini bahwa pengalaman membina membuatnya menyadari banyak hal. “Umur kita di dunia begitu singkat, tetapi cita-cita peradaban perlu waktu panjang untuk diwujudkan sembari bersemangat akan kebaikan tetap terwariskan. Bagaimana tidak, bukankah dengan mengajarkan ilmu, ada potensi amal yang tak berkesudahan? Betapa tidak kita tergiur, ketika raga terbujur kaku, masih ada sinar kebaikan yang dituai dari spirit kebaikan penerus zaman?” tegas perempuan yang passionate di bidang people development.

Hakikat membina menurut Teh Elis juga bukan tentang apa yang bisa diberikan, karena faktanya justru dia sendiri yang seringkali mendapatkan banyak pengajaran dari adik-adik. Mereka mampu menjaganya untuk senantiasa berusaha berbuat baik dan senantiasa takut akan ‘ucapan tidak sejalan dengan tindakan’. Mereka juga memaksanya untuk belajar lebih banyak, karena permasalahan dewasa ini semakin kompleks.

Jika diibaratkan sebuah barang, Teh Elis ingin diumpamakan sebagai sekrup. Mungkin ia kecil, tetapi punya kemampuan untuk menyatukan rangka-rangka yang besar. Begitupun dengan dirinya yang ingin menyatukan orang-orang hebat, menyatukan rangka yang berserak agar kelak di masa depan satu sama lain bisa melesat dalam menebarkan kebermanfaatan. Hal itu pula yang mendorongnya lebih serius di dunia pembinaan salah satunya dengan memiliki keinginan untuk menjadi supervisor.

Setidaknya sudah lima kali proses rekrutmen ia ikuti dengan tugas sejenis supervisor di tiga lembaga berbeda dan tahun yang berbeda. Entah mengapa ia mengalami penolakan yang sama di saat tahap akhir proses seleksi. Sekitar maret 2021, akhirnya iseng-iseng Teh Elis mendaftar untuk keenam kalinya. “Jika ini rezekinya, maka aku bersyukur. Namun jika inipun ditolak, maka aku tak akan mencoba lagi Ya Allah,” gumam perempuan yang berdomisili wilayah Cianjur kala mendaftar di Rumah Kepemimpinan (RK)

Singkat cerita, dirinya berhasil menjadi bagian dari Rumah Kepemimpinan. Terwujudnya satu keinginan tak menjadikannya mudah untuk dijalani. 35 peserta, 35 kepribadian, dan 35 cerita ditambah kondisi pandemi ternyata cukup menguras energi. Meski melelahkan, tetapi tetap nikmat di jalani. Banyak yang mendukungnya termasuk orang tua dan keluarga yang menjadi garda utama. Tim Beneficiaries dan kawan-kawan supervisor yang senantiasa saling sharing dan terbuka. Banyak hal yang bisa Teh Elis dapatkan dari mereka termasuk inspirasi saat mati gaya di agenda pembinaan.

“Lingkungan kerja di RK yang mendorong untuk tumbuhnya inisiatif juga memberikan banyak ruang untuk mengambil keputusan. Belum lagi kekeluargaan yang terbangun antarpengurus menjadi hal yang membuatku nyaman. Satu lagi kesan yang mendalam selama ‘nyebur’ di RK adalah ternyata institusi ini se-serius itu untuk membina calon pemimpin masa kini dan masa depan,” ungkap Teh Elis menceritakan perjalanannya selama menjadi supervisor.

Elis Nuraeni
Mahasiswa Magister Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman IPB 2019
Supervisor Regional Putri Non-Asrama Bogor Bandung Jatinangor

More to explorer

Cinta yang Tak Biasa

Eka Primadestia Kusumawardani atau biasa disapa Eka adalah alumni Rumah Kepemimpinan angkatan 8 dan merupakan lulusan Ilmu Administrasi Universitas Indonesia 2014. Cinta

Bersama Tangkal Radikalisme

Silaturahim Korbinmas Baharkam Polri dan Rumah Kepemimpinan Kegiatan “Sambang”, Menghadirkan Pembelajaran dari Seorang Mantan Narapidana Kasus Terorisme Telah berlangsung Acara ‘Sambang’ dari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *