Menjadi Raksasa di Industri Ayam Petelur

Jadilah seorang penggerak di mana pun kalian berada. Pemuda adalah motor penggerak utama. Al-Muharrik. Bergeraklah, di mana pun bidang yang kalian inginkan!

Gielbran Muhammad Nur Fakultas Perternakan Universitas Gadjah Mada 2019. Rumah Kepemimpinan Angkatan X Regional 3 Yogyakarta

====================

Mau tau tentang kiprah Pemimpin Muda lainnya yang dibina di Rumah Kepemimpinan? Yuk ikuti kanal sosmed kami!

Dibalik Manisnya Kemenangan

“Selalu libatkan Allah dalam setiap langkah, jangan takut mencoba dan semangat, nggak ada usaha yang sia sia,”

Qusnul Chotimah Mahasiswi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Angkatan 2019. Peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan X – Regional Yogyakarta

====================

Mau tau tentang kiprah Pemimpin Muda lainnya yang dibina di Rumah Kepemimpinan? Yuk ikuti kanal sosmed kami!

Siap ga Siap, Ikut Lomba aja Dulu!

“Nikmati sebuah proses dan berani lah untuk menghadapi tantangan, maka suatu saat kita akan merasakan hasil dari proses itu.”

Moh. Rofiq Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Angkatan 2018. Peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan X Regional 1 Jakarta Putra

====================

Mau tau tentang kiprah Pemimpin Muda lainnya yang dibina di Rumah Kepemimpinan? Yuk ikuti kanal sosmed kami!

Perjalanan ke Benua Amerika

“Kalau kita ingin sesuatu pasti ada jalan, yang terpenting dalam mendapatkan sesuatu tersebut harus siap dengan segala usaha dan pengorbanan yang dilakukan.”

Cindy Septiany Huda Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Angkatan 2018 Institut Pertanian Bogor. Peserta Rumah Kepemimpinan Angkatan X Regional Putri Bogor-Bandung-Nangor (Bobana)

====================

Mau tau tentang kiprah Pemimpin Muda lainnya yang dibina di Rumah Kepemimpinan? Yuk ikuti kanal sosmed kami!

Asisten Lab dengan Prestasi Level Internasional Bermodal Nekat! – Surya Adikara Putra

Jangan mudah menyerah dan percayakan semuanya pada proses. Yakinlah bahwa nggak ada yang instant, mie instant aja butuh dimasak dulu sebelum dimakan kan wkwk.

Jangan mudah menyerah dan percayakan semuanya pada proses. Yakinlah bahwa nggak ada yang instant, mie instant aja butuh dimasak dulu sebelum dimakan kan wkwk.

Surya Adikara Putra
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Fakultas Teknik Sipil Perencanaan dan Kebumian (FTSPK) Angkatan 2018 Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 4 Surabaya Angkatan X

Terima kasih sudah membaca cerita Surya, yang nggak ragu memulai langkah untuk terus mengukir karya! Kira-kira hal apa nih Sob yang mau kamu mulai jelang awal tahun depan? Drop di kolom komen ya agar kita doakan bersama~

Artikel Surya –> https://www.instagram.com/p/CX2w1XYPQBp/

Keteguhan Atha Sang Muslimah Jawara Karateka

Athaya Nadiya Asyhar Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Angkatan 2018. Peserta Rumah Kepemimpinan Regional Putri Bobana (Bogor, Bandung, Nangor) Angkatan X.


Atha bersyukur bahwa ia selalu di-trigger untuk terus berprestasi dan berkontribusi. Berjuang di ranah Karate membuatnya terus merefleksikan dua hal tersebut (prestasi dan kontribusi) sampai mendorongnya pada aksi nyata, terus BERTANDING dengan upaya terbaik!


Dari Atha kita belajar untuk tidak berhenti berusaha dan percaya atas semua kemungkinan yang Allah hadirkan. Seperti Atha yang terus berlatih sampai mempertemukan ia pada momen debutnya sebagai Karateka!


Dukung selalu, Rumah Kepemimpinan dengan donasi terbaik Bapak-Ibu, dan Abang-Mbak semua melaluai tautan berikut :
https://bit.ly/BantuPemimpinMuda

Juara Lomba Hifzil Quran 10 Juz, Another Level of Dunia Per-ngoding-an | Faatihah Tharra Sabbih

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Angkatan 2019 yang juga menjadi Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta Angkatan X. Dalam ajang kompetisi hafalan Quran di UI atau yang lebih dikenal MTQ-UI, Alhamdulillah Tharra berhasil meraih juara 3 cabang lomba hifzil 10 juz. Dahsyat banget! Dalam cabang lomba itu ia diminta menjawab 3 soal dengan melanjutkan ayat sebanyak satu halaman. Menariknya, ayat yang diuji acak lho~~ #tabarakallah

Tharra cerita kalau ia pernah menjalani studi di pesantren quran. Ajang MTQ ini men-trigger dirinya untuk terus catch-up dengan hafalan Quran. Bukan rahasia umum, banyak penghafal Quran yang mengalami masa-masa sulit dalam mempertahankan hafalan mereka khususnya ketika menghadapi masa transisi dari lingkungan yang kondusif ke lingkungan yang sangat dinamis~

Alhamdulillah Allah berikan kemudahan untuk murojaah. Di tengah kehidupan kampus dan intern sempat membuat Tharra ngerasa ngga sempet untuk punya jadwal murojaah yang intensif. Tapi Tharra tidak menyerah! Ia coba membangun habit dari hal-hal kecil seperti menyempatkan Quran time sebelum memulai kegiatan. Ternyata ini berdampak besar loh Sob. Murojaah dari juz yang mudah atau surah favorit, cari temen untuk setoran, juga perlu dicoba yaa ~

Tharra merasa sengat terbantu untuk menumbuhkan habit dekat dengan Al-Quran melalui program pembinaan RK, di antaranya targetan tilawah satu juz setiap hari, setoran hafalan mingguan (Tahsin Tahfizh Al-Quran), challenge bulanan, dan lainnya. Alhamdulillah usahanya bertemu dengan kuasa Allah. Dirinya berhasil murojaah lagi dan comeback dengan ikut cabang juz yang lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Tharra sedang menempuh jalan perjuangannya bersama Al-Quran. Teman-teman peserta RK lainnya juga sedang berupaya menjadi orang-orang yang dekat Al-Quran (ahlul quran). Sobat juga kan? Cerita juga ya di kolom chat biar mimin makin semangat.

Kisah Mahasiswi Kedokteran yang Aktif di Organisasi dan Menjuarai Beberapa Lomba

Nabila Alsya Dwi Nirvana atau akrab disapa Alsya adalah Mahasiswi Jurusan Pendidikan Dokter Universitas Padjadjaran Angkatan 2018. Ia juga merupakan Peserta Rumah Kepemimpinan (RK) Regional Putri Bobana (Bogor Bandung Nangor) Angkatan X. Alsya sedang menjalani semester akhir. Salah satu kesibukan utamanya adalah skripsi. Aktivitas ekstranya juga masih berjalan, beberapa di antaranya, Alsya mengemban amanah sebagai Sekbend Tim Inti Majelis Dewan Pertimbangan Asy-Syifaa FK Unpad, part time private tutor, dan mengakselerasi diri lewat lomba. Dara muda ini juga suka melakukan ksperimen masak-memasak.

Dorongan awal Alsya ikut lomba adalah dari RK. Pada dasarnya Alsya tidak terlalu suka kompetisi. Organisasi lebih menarik perhatiannya. Pasca momen evaluasi semester di RK, Bang Adji, selaku evaluator meminta dirinya untuk ikut lomba. Bagi Alsya ikut lomba memaksa dirinya keluar dari zona nyaman. Meski niat awalnya untuk menggugurkan kewajiban pasca evaluasi semester, Allah hadiahkan kesempatan juara.

Setelah dikulik, Alsya pertama kali ikut lomba saat semester 6 itupun atas permintaan dosen pembimbing skripsi. Alhamdulillah saat itu Alsya langsung menyabet juara 2 nasional. Saat liburan kenaikan semester 7 ia kembali berpartisipasi dalam lomba. Alsya mendaftar 4 lomba. Qadarullah semuanya masuk final, dan menyabet juara di 3 lomba. Salah satu ajang lomba yang berhasil dimenangkan Alsya dan tim adalah International Nutrition and Health Symposium (INHESION) 2021 yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM).

Alsya dan timnya adalah mahasiswa semester akhir. Alhamdulillah meski di tengah berbagai kesibukan akademik dan organisasi mereka tetap memprioritaskan lomba dan sikap saling mengerti di tengah ketidakpastian dunia daring ini. Menurut Alsya penting untuk tahu kondisi personil tim sehingga bisa saling mengisi.

Tidak semua proses berjalan mudah. Di tahap final, salah satu anggota timnya Alsya harus membagi waktu dengan kegiatan lainnya. Singkat cerita, kondisi itu membuat mereka harus merombak rencana serta powerpoint yang telah dibuat. Gangguan koneksi juga menjadi salah satu kendala teknis saat hari lomba, ‘ala kullihaal Allah berikan kemudahan atas semua tantangan yang ada.

Bagi Alsya penting mencoba terlebih dulu, masalah hasil belakangan. Dalam mencoba harus semaksimal mungkin. Ia juga tidak berharap menang ketika sudah memberikan usaha terbaiknya.

Allah menghadiahkan kemenangan pada Alsya dan tim atas segala perjuangan yang telah mereka lalui. Capaian tersebut menjadi api pemicu semangat untuk terus berkarya. Semoga apa yang Alsya dan timnya lakukan dapat bermanfaat untuk masyarakat luas. Mereka menyadari bahwa perjalanannya masih sangat panjang, banyak pintu kesempatan untuk terus mengembangkan diri untuk mengharumkan nama baik almamater tercinta!

Terima kasih sudah berkenan membaca cerita perjuangan Alsya. Nantikan cerita peserta Rumah Kepemimpinan lainnya.

Petualangan Merawat Keuangan

Selasa 22 Februari, ia masih sibuk mendorong brankar pasien IGD. Lalu keesokan harinya, Rabu 23 Februari, alumni Ilmu Keperawatan UI ini sudah duduk di depan meja kantor Rumah Kepemimpinan Pusat sebagai officially di tim kemitraan dan fundraising. Tanpa jeda. Jika lumrahnya seseorang mengambil kesempatan berlibur setelah resign dari pekerjaan, tapi tidak berlaku baginya. “Hidup harus terus berlanjut”, ungkap Lusi Cahya Pertiwi atau akrab disapa Mba Lusi yang ‘tidak bisa diam’ dan  selalu mencari aktivitas yang mengajaknya bergerak serta berpikir lebih dalam.

Torehan prestasi alumni dan peserta serta dedikasi pengurus yang mencurahkan segenap kemampuannya membuat Mba Lusi kian minder setelah mendalami seluk beluk Rumah Kepemimpinan. Namun di bawah bimbingan langsung wakil direktur saat itu, Bang Bachtiar Firdaus, ia ditempa dan digembleng habis-habisan, hingga alhamdulillah banyak hal baik yang diterima serta semakin menguatkan karakternya jauh lebih baik. Tiga tahun berkutat dengan dunia funding, Allah swt. masih menakdirkan Mba Lusi berjodoh dengan RK, tetapi dengan peran yang lain: Masuk ke tim keuangan.

Tahun keempat, ia ditempatkan bergabung ke tim keuangan. “Denial, sudah pasti! Perasaan minder, insecure, dan tidak berdaya kembali menghantui. Ya Allah, apalagi ini? Mengapa saya?” ucapnya. Mba Lusi yang merasa tidak punya kompetensi akhirnya mencoba mencari penjelasan dan petunjuk-Nya. “Dipercaya, mbak. Jujur, detail dan disiplin,” ujar rekan kerjanya saat itu. Butuh tiga bulan dirinya menerima. Dari sini ia belajar bahwa karakter dan skill harus dibangun dan dibentuk selama kita mau belajar.

“Jika kita sendiri saja tidak ridho, lalu bagaimana cara kita bisa berharap ridho dari-Nya atas apa yang kita lalui?” semangat Mba Lusi dalam menerima kenyataan. Senantiasa menjadikan dirinya selayaknya gelas kosong yang siap belajar dari siapapun. Pengalaman nombok, difitnah, tidak disukai orang, rasanya mewarnai perjalanannya dalam bertugas. “Kalau belum sampai dibenci, dibilang ribet, maka tandanya belum jadi orang keuangan tulen, Mbak!” nasihat Bang Ichsan, sosok yang menguatkan Mba Lusi kala itu. Amanah ini bukan main-main sebab semua aturan dibuat berasal dari sistem bukan peraturan pribadi.

“Disiplin adalah kunci, tegas adalah harga diri, berani dalam implementasi, dibalut dalam totalitas dan loyalitas. Itulah gambaran seorang Mbak Lusi. Disiplin mencakup seluruh aspek hidupnya termasuk disiplin mengatur keuangan pribadi, menjaga ritme kerja dan liburan, menjaga kesehatan fisik dan mental, menjaga kebiasaan baik seperti mengatur asupan makanan, olahraga, membaca buku, atau bahkan yang berkaitan dengan investasi akhiratnya,” lugas sosok punggawa dengan predikat tidak pernah terlambat datang ke kantor.

Menyukai dunia keuangan pada akhirnya membuka jalan Mba Lusi pada banyak pengalaman seperti dipercaya mengatur dan mengelola keuangan institusi, perusahaan, komunitas, organisasi, lingkungan masyarakat, hingga individu (rumah tangga). Pun tak ketinggalan, melakukan apa yang ia sukai adalah bentuk pengendalian raga, karena awalnya jiwa sudah menyukai. Berolahraga (lari, jogging), jalan kaki, hunting foto, mendaki gunung, menelusuri hutan, bercengkrama adalah sekian dari banyak hobi yang ia geluti. Selain menjalani hobby tersebut, salah satu hal yang ia lakukan adalah mendekat.

“Siapa yang tidak merasa dekat ketika pernah berinteraksi dengan Mbak Lusi? Hampir tidak ada. Entah dia pengurus, donatur, alumni, bahkan peserta sekalipun nih yang belum kenal sebelumnya pasti terasa sudah kenal bertahun-tahun,ya kan?” kata seseorang ketika membicarakan sosok manager keuangan satu ini. Menikmati bekerja di balik layar dan mendekati seseorang untuk menggali banyak hikmah akan kehidupan adalah karakter unik yang ia miliki. Hal ini membuatnya dapat membedakan mana rasa sekadar ingin tahu masalah seseorang dan mana yang mau mengambil pelajaran dari seseorang dalam memecahkan masalahnya.

‘Dijorogin’ Berbuah Pelajaran Berharga

Sosok Di Balik Akun Rumah Kepemimpinan

Hayoo, siapa di antara kamu yang suka kepoin Instagram Rumah Kepemimpinan? Penasaran ga sih siapa sosok peracik poster digital RK ? Selama 7 tahun ke belakang, sebagian besar desain yang ditampilkan di sosial media RK diramu oleh pemuda Depok satu ini. Bang Irsyad, begitu ia akrab disapa, adalah pria lulusan D3 Desain Grafis dan S1 Komunikasi Pemasaran sekaligus penggemar dunia entertaining. Tak ayal, kesukaan dan keahliannya itu membawa Bang Irsyad menggawangi aktivitas Digital Fundraising.

Bang Irsyad mengaku masa kecilnya dilewati biasa-biasa saja. Besar di lingkungan keluarga yang concern pendidikan islami, memiliki teman main sekaligus teman berkelahi, tidak membuatnya merasa berbeda dengan manusia pada umumnya. Namun, perlahan hidupnya berbeda ketika dirinya diberi tanggung jawab dan dipaksa ‘memimpin’.

“Jangankan menjadi ketua BEM, jadi ketua kelas aja belum pernah!” tegas Bang Irsyad mengawali ceritanya mengenai pengalaman memimpin. Namun, setelah ditelaah ternyata dirinya beberapa kali diamanahkan menjadi ketua remaja masjid, ketua divisi organisasi, ketua panitia event kampus, dan sebagainya.  Kala itu, Bang Irsyad merasa belum memahami betul ‘esensi menjadi pemimpin’, sehingga kesempatan tersebut menjadi terlewat begitu saja. “Ya rasanya kayak dihipnotis menjalaninya. Eh iya, kemarin gue ngapain aja ya?” paparnya saat mengingat masa lalunya.

Akhirnya takdir membawanya masuk ke lingkungan Rumah Kepemimpinan (yang dulu bernama PPSDMS) atas rekomendasi keluarganya. Di sini Bang Irsyad berpikir akan selalu berada ‘di belakang meja’ dan terhindar dari aktivitas memimpin orang lain. “Berbekal kemampuan desain grafis dan komunikasi pemasaran, gue pikir bakal di balik layar aja. Eh, ternyata ngga ada istilah begitu. Semuanya ‘dijorogin’ dengan maksud baik,” kenang Bang Irsyad dengan logat betawi yang menjadi ciri khasnya.

Di sinilah pengalaman dan jiwa kepemimpinannya Bang Irsyad semakin hari semakin ditempa. Menjadi ketua divisi pada project qurban, partnership, fundraising Ramadhan, dan National Leadership Camp (NLC) adalah sekian deret amanah yang pernah ia cicip di institusi ini. “Karena setiap dari kita adalah seorang pemimpin, so just try it and enjoy it!” ujar pria yang juga creator saungdigital.id.

Baginya, Rumah Kepemimpinan sudah sama seperti keluarga. Ibaratnya, semua bergabung dalam satu frekuensi, alur, dan lintasan yang sama untuk mencapai satu tujuan yang mulia. Penanaman nilai rendah hati, objektif, open mind, moderat, prestatif, dan kontributif selalu jadi pijakan utamanya dalam berjuang di rumah ini. Pria yang telah memiliki dua buah hati ini menjelaskan bahwa tempaan bertubi-tubi membentuk dirinya memiliki jiwa pemimpin yang lebih baik.

“Dari seringnya ‘dijorogin’ itulah, sampai saat ini gue masih harus banyak belajar untuk jadi pemimpin yang ideal. Pemimpin karena ‘terpanggil’ (dari hati) bukan lagi ‘dipanggil’” ucap Bang Irsyad mengingat rangkaian perjalanan karirnya. Pria yang hobi olahraga ini menyebut cerita dirinya ini mungkin jauh dari kata ‘menginspirasi’. Namun, bagi seorang Irsyad, hal ini menjadi kisah dan pelajaran yang berharga tentang implementasi nilai kepemimpinan bersama institusi ini.

“Lakukanlah sesuatu dengan penuh niat dan keikhlasan, lalu diimbangi dengan totalitas eksekusi,” ungkap Bang Irsyad menutup obrolan dengan nasihat yang selalu diingatnya.