Bercita-cita Seperti KH Hasyim Asyari, Sosok Anza Zahya Qeysha Santri Berprestasi dari Unpad
rumahkepemimpinan.org – Menjadi santri seringkali dianggap sebagai latar belakang yang sederhana, bahkan tak jarang dipandang sebelah mata dalam dunia akademik modern. Namun, hal itu justru menjadi titik awal perjalanan inspiratif seorang Anza Zahya Qeysha, mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Padjadjaran angkatan 2021 sekaligus Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung Angkatan XI.
Anza dikenal sebagai sosok ambisius yang tetap ramah dan mudah bersosialisasi. Ia berhasil menunjukkan bahwa latar belakang pesantren bukanlah penghalang untuk berprestasi, melainkan fondasi kuat untuk menapaki berbagai pencapaian.
Prestasi Akademik dan Kompetisi Nasional
Baru-baru ini, Anza mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan Best Presenter dalam ajang The 25th Indonesian Accounting Fair Business Case Competition FEB UI 2024. Bersama timnya, Zahra dan Harits, ia berhasil menyelesaikan tiga kasus bisnis dari perusahaan besar: Paragon, perusahaan kosmetik lokal terbesar di Indonesia, serta CIMA, perusahaan edtech multinasional.
Presentasi mereka tentang inovasi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sukses memikat perhatian para juri, termasuk ekspatriat asal India yang terkesan dengan gagasan dan penyampaian Anza.
Prestasi ini menambah daftar panjang pencapaiannya. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Juara 1 Business Case Competition di MTC, Binus International Business School, setelah melewati serangkaian kegagalan di berbagai lomba. Bahkan, ia tidak hanya berprestasi di bidang akademik, melainkan juga di bidang bahasa dan budaya, dengan terpilih sebagai Duta Bahasa Jawa Barat 2023.
Dari Minder hingga Membuktikan Diri
Perjalanan Anza tidak selalu mulus. Ia mengakui sempat merasa minder ketika memasuki dunia perkuliahan. “Awalnya aku merasa minder karena teman-teman di jurusan berasal dari SMA favorit, sedangkan aku dari pesantren biasa,” tuturnya.
Namun, rasa minder itu justru menjadi pemicu semangat. Anza mulai aktif mengikuti berbagai kompetisi sejak semester 2–3, meskipun berulang kali gagal. Justru kegagalan itulah yang mengasah mentalnya hingga pada percobaan kedelapan ia akhirnya meraih juara pertama. Dari situlah ia semakin yakin bahwa latar belakang bukanlah penentu masa depan, melainkan kerja keras dan kegigihan.
Terinspirasi KH Hasyim Asyari
Menariknya, Anza memiliki cita-cita yang unik. Ia ingin menjalani hidup seperti KH Hasyim Asyari, ulama besar yang tidak hanya berdakwah, tetapi juga membangun masyarakat. “Cita-cita di masa depan, aku ingin hidup layaknya KH Hasyim Asyari yang pergi ke ladang di siang hari, mengajar santri di malam hari, dan memiliki pengaruh luas,” ungkapnya.
Bagi Anza, cita-cita itu diterjemahkan dalam konteks masa kini: menjadi seorang entrepreneur, akademisi, sekaligus memiliki pengaruh sosial untuk menginisiasi gerakan masyarakat.
Rumah Kepemimpinan, Bengkel Akselerator Kehidupan
Bagi Anza, keberadaannya di Rumah Kepemimpinan merupakan titik penting. “Walaupun hanya dua tahun, Rumah Kepemimpinan rasanya betul-betul jadi bengkel dan akselerator hidup aku. Mulai dari pencarian idealisme, semangat untuk berprestasi, hingga semangat untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, betul-betul digodok di sini,” ujarnya.
Kutipan favoritnya dari Hamka dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck semakin menggambarkan tekadnya: “Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.”
Dengan semangat juang yang konsisten, tekad kuat untuk mengabdi, dan mimpi besar mengikuti jejak KH Hasyim Asyari, Anza Zahya Qeysha adalah contoh nyata bahwa santri pun mampu melangkah jauh dan memberi kontribusi besar untuk bangsa.
Editor: Anisa Wakidah