NAMA Foundation Organizes PDM Academy in Indonesia

On Friday-Sunday (July 6-8, 2018), Putra Daerah Membangun (PDM) Forum held PDM Academy at Grand Celino Hotel, Makassar. At PDM Academy Batch 1, 20 participants from various regions in East Indonesia such as South Sulawesi, Central Sulawesi, West Sulawesi, Papua, West Papua, West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara, and East Kalimantan were selected. PDM Academy is organized with the cooperation between NAMA Foundation, NICE Indonesia, House of Leadership, and PDM.

The selected participants are initiators of local organizations that have been established for at least 1 year. Whether it’s a foundation, a community, or a regional startup. The initiators also have various products and works in the fields of education, health, fisheries/livestock, arts, culture, and ecotourism.

Participants attend three days of education with materials such as Social and Stakeholder Mapping, Problem Validation, Solutions, and Beneficiaries, Project Management and Impact Planning, Social Business Model, Advocacy and Fundraising Strategy, Leadership, Team Building and Institutional. PDM also invited several speakers such as Goris Mustaqim (ASGAR Foundation), Harianto Albar (Indonesia Terang Community), M. Nasrul (Cahaya Desa), Hendriyadi (Sahabat Pulau Indonesia), Supiandi (Berugak Lombok), and Rendra Manaba (Kendari Kreatif).

“The participants have excellent qualifications because they demonstrate the ability to express the experience of managing the community systematically and empirically, so that these 20 people are truly the local champions represented by regional organizations in Eastern Indonesia this year,” said Rizky Yudo , Project Officer of the PDM Academy.

Meanwhile, M. Mushaddiq Asri, Regional Manager of Makassar from House of Leadership said that “The enthusiasm of PDM Academy in Eastern Indonesia is very high. Proven by the number of registrants are booming. Even on D-day there are still any people who want to sign up for PDM Academy”.

“Participants of PDM Academy in Eastern Indonesia will join the PDM Forum where over the next four months participants will receive mentoring sessions for community development. In addition, PDM will also provide Match Funding to 3 Best communities in each region of East Indonesia and West Indonesia “, said Reza Zaki, National Coordinator of PDM.

“PDM Academy is one of the great program. With the cooperation and facilities of the House of Leadership, we succeeded in realizing this program. Actually such a program is very important to be maintained and continued its implementation. But there are fundamental factors to ensure the success of this program. I believe this very important factor is that you the recipients of this program are actually getting more cooperative and more interactive to encourage us from NAMA Foundation to continue our support. I hope that after completing this PDM Academy program, the future picture will be clearer and directed to serve people in the region more effectively. I hope we can continue to work together. And we expect full interaction, engagement and commitment to ensure the program runs perfectly”, said Dr. Saleh Bazead Saleh Mubarak, CEO of NAMA Foundation.

Putra Daerah Membangun Menghimpun Organisasi Se-Indonesia Timur

Pada Jumat-Minggu (6-8 Juli 2018), Forum Putra Daerah Membangun (PDM) mengadakan PDM Academy di Hotel Celino, Makassar. Pada PDM Academy Batch 1 ini terpilih 20 peserta dari berbagai daerah di Indonesia Timur seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Timur. PDM Academy ini diselenggarakan dengan kerjasama antara Rumah Kepemimpinan, Putra Daerah Membangun, NAMA Foundation, dan NICE Indonesia.

Para peserta terpilih merupakan para inisiator organisasi daerah yang telah berdiri minimal selama 1 tahun. Baik berupa yayasan, komunitas, maupun startup daerah. Para inisiator juga telah memiliki beragam produk dan karya di bidang pendidikan, kesehatan, perikanan/peternakan, kesenian, budaya, dan ekowisata.

Para peserta mengikuti pendidikan selama tiga hari dengan beberapa materi seperti Social & Stakeholder Mapping, Validasi Masalah, Solusi, dan Penerima Manfaat, Manajemen Proyek & Perencanaan Dampak, Social Business Model, Strategi Advokasi & Fundraising, Leadership, Team Building & Kelembagaan. PDM juga mengundang beberapa narasumber seperti Goris Mustaqim (ASGAR Foundation), Harianto Albar (Indonesia Terang Community), M. Nasrul (Cahaya Desa), Hendriyadi (Sahabat Pulau Indonesia), Supiandi (Berugak Lombok), dan Rendra Manaba (Kendari Kreatif).

“Para peserta memiliki kualifikasi yang sangat baik karena mereka menunjukan kemampuan dalam mengekspresikan pengalaman mengelola komunitas secara sistematis dan empiris, sehingga 20 orang ini benar-benar merupakan putra daerah yang menjadi representasi dari organisasi-organisasi daerah di Indonesia Timur tahun ini”, ujar Rizky Yudo, Ketua Panitia PDM Academy.

Sementara itu, Muh. Mushaddiq Asri, Asisten Manager Rumah Kepemimpinan Regional 7 Makassar mengatakan bahwa “Antusiasme PDM Academy di Indonesia Timur ini tinggi sekali. Terbukti jumlah pendaftar yang membludak. Bahkan di hari H masih ada orang-orang yang ingin mendaftar ke PDM Academy.”

“Para peserta PDM Academy di Indonesia Timur ini akan bergabung dengan Forum Putra Daerah Membangun dimana selama empat bulan ke depan para peserta akan mendapatkan sesi mentoring untuk pengembangan komunitas. Disamping itu, Putra Daerah Membangun juga akan memberikan Match Funding kepada 3 komunitas Terbaik di masing-masing wilayah yakni Indonesia Timur dan Indonesia Barat”, pungkas Reza Zaki, Ketua Putra Daerah Membangun.

Berbagi inspirasi Rumah Kepemimpinan bersama Startup OORTH

Kamis (24/5), Rumah Kepemimpin (RK) dan OORTH mengadakan diskusi strategis di Kantor Pusat Rumah Kepemimpinan. RK diwakilkan oleh Adlul (Staf Bidang Pembinaan Peserta dan Pemberdayaan Alumni) dan Fira (Staf Marketing dan Komunikasi). Sedangkan OORTH diwakilkan oleh Dika (Product Marketing OORTH).

Oorth adalah aplikasi media sosial yang memfasilitasi pengguna untuk berinteraksi dengan komunitasnya baik komunitas sosial maupun bisnis dalam memaksimalkan internet. Pertemuan ini bertujuan untuk saling berbagi informasi tentang pola komunikasi, penggunaan aplikasi massanger dan pola pendanaan di Rumah Kepemimpinan.

“Salah satu unggulan dari aplikasi ini adalah dapat mempertemukan Investor Project dengan Project yang mau di danai, setelah sebelum dilakukan penilaian atas Project tersebut. Selain itu semua fitur komunikasi tergabung menjadi satu kanal. Sehingga dari awal pertemuan hingga penggunaan dana dapat transparan.” jelas Dika. OORTH saat ini sudah menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai Lembaga Zakat dan sedang menjajaki hubungan dengan Islamic Development Bank (IDB) untuk meningkatkan penggunaan dana syariah dalam berbagai project kebaikan yang ada.

“Setiap kita punya kelebihan dan kekurangan oleh karena itu penting adanya kolaboraksi agar saling melengkapi dan semakin melesat. Sangat mungkin RK dan OORTH berkolaboraksi.” ungkap Adlul. Bisa saja penggunaan aplikasi OORTH mempermudah sistem komunikasi organisasi baik ke internal maupun ke eksternal. Karena RK juga meyakini bahwa dengan kemajuan teknologi perlu terus berinovasi dan membuka diri dengan setiap potensi kolaboraksi.

Saat ini pendaftar OORTH kurang lebih 50.000 orang dengan user aktif 800 orang. Target tahun ini terdapat 100.000 user aktif setelah perbaikan beberapa fitur OORTH. [AHZ]

Kontribusi Pemuda dalam Menyongsong Era Baru Indonesia – Indonesia Youth Contributor Summit 2018

Public Event IYCS telah diadakan pada hari Sabtu, 28 April di gedung B.101 FMIPA Universitas Indonesia. Tema yang diangkat adalah “Kontribusi Pemuda dalam Menyongsong Era Baru Indonesia”. Dimana pada sesi talkshow tadi siang menghadirkan 5 pembicara dan dipandu oleh seorang moderator yang sungguh luar biasa dan sangat menginspirasi.

Sesi talkshow dipandu oleh Jiwo Damar A (Waroeng Pintar). Sementara pembicara-pembicaranya berasal dari beragam sektor Kepemimpinan, pembicara tersebut adalah:

1. Heni Sri Sundari (Pendiri Agro Edu Jampang)
2. Habibi Yusuf S (Kasubbag Publikasi & Biro Humas Kementerian Perindustrian)
3. Gesa Falugon (Owner Ramesia)
4. Najelaa Shihab (Pendiri Sekolah Cikal)
5. Refi Kunaefi (CEO Akuo Energy)

Main Event IYCS 2018 ini membicarakan bagaimana kontribusi pemuda yang dikaitkan dengan era industrialisasi yang keempat. Dimana para pembicara selalu mengingatkan bahwa yang terpenting atas setiap kontribusi kita adalag dengan membuat perubahan soaial di masyarakat. Dan memang inilah saatnya bagi pemuda untuk segera berkarya karena saat ini sedang mengalami bonus demografi. Karya-karya tersebut disesuaikan dengan bidang-bidang yang sesuai dengan diri kita. Yang perlu diingat bahwa setiap bidang memiliki pola kesuksesannya masing-masing, maka kita memang harus berusaha menemukan polanya.

Selain itu, kontribusi yang bisa kita sebagai pemuda lakukan disini semata-mata adalah untuk kebermanfaatan bagi banyak orang. Kontribusi tersebut diharapkan dapat berkolaborasi dan menjadi pemantik gerakan kebaikan-kebaikan yang semakin meluas.

Rumah Kepemimpinan
Beasiswa Pemimpin Indonesia

Indonesia Emas atau Berkemas Orasi Kebangsaan Dr. Warsito pada IYCS 2018

(28/4) Idealisme kami telah menggetarkan jiwa Pak Warsito selama 30 tahun, tidak hanya 22 bulan. Menjaga idealisme itu tidak mudah. Banyak pahit yang akan dirasakan, seperti apa yang dirasakan Pak Warsito. Ikrar idealisme itu seharusnya menjadi perubah, bukan hanya menjadi nyanyian kosong.

Pada sesi Wisuda Rumah Kepemimpinan angkatan 8 ini, Dr. Warsito mengatakan bahwasannya RK itu ibarat busur dalam membangun Indonesia, dan anak-anak RK adalah anak panahnya. RK menarik busurnya dalam bentuk pembinaan selama 22 bulan, yang kemudian dilesatkan agar bisa melaju lebih jauh lagi.

Pada abad 20 lalu, teknologi yang mengukir sejarah adalah teknologi perminyakan, dimana era industri masih cukup berjaya. Namun sekarang, pada abad 21, hanya dalam 10 tahun teknologi tersebut tergeser oleh teknologi informasi. Sejak tahun 2006/2007, migas dan indostri sudah anjlok/defisit. Bahan bakar migas akan habis pada waktunya, sementara teknologi di Indonesia belum siap untuk menghadapi hal tersebut.

Untuk menggerakkan roda ekonomi, hanya dengan inovasi. Idealisme tersebut harus dituangkan dalam bentuk kerja nyata, tidak hanya digelorakan saja. Salah satu idealisme Pak Warsito yang dituangkan dalam bentuk karya nyata adalah ECCT dan ECVT.

ECCT menggunakan prinsip dari teknologi layar sentuh kapasitif yang digunakan pada handphone-handphone layar sentuh yang saat ini banyak di pasaran. Alat ini dapat mengetahui aktivitas yang terjadi dalam suatu benda/tempat. Salah satu penggunaan alat ini adalah pengecekan aktivitas reaktor dalam mesin pengebor migas. Selain itu, alat ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas sel kanker.

Untuk ECVT, dapat digunakan untuk meluruhkan sel kanker dengan memancarkan sinyal dengan frekuensi tertentu dengan taknik modulasi, yang sesuai dengan frekuensi alami dari sel kanker tersebut, sehingga beresonansi, untuk meluruhkan sel kanker dari tubuh pasien. Selain itu, ada juga ECBS yang dapat menstimulasi sel-sel tubuh yang telah dirusak oleh sel kanker untuk menjadi normal kembali.

Dalam riset, yang terpenting adalah pelajari prinsipnya, bukan metodologinya. Dengan mempelajari prinsipnya, metodologi yang digunakan dapat dikembangkan sendiri. Sementara, jika hanya mempelajari metodologinya saja, maka hanya akan mengulang apa yang dilakukan oleh orang lain.

Begitu pula menganalogikannya dalam kepemimpinan, dalam konsep gelombang, ada 3 tahapan yaitu Mengikuti gelombang, Mulai melawan dan Mengubah aliran gelombang

Pelajaran terakhir Dr. Warsito untuk kami calon-calon pemimpin masa depan dengan adalah dengan mengenal diri, bertahan dari kehidupan, berjuang dan selalu berkontribusi. InsyaAllah Indonesia di masa depan adalah kendali penuh & tanggung jawab kita sebagai penerus kepemimpinan bangsa.

Indonesia Youth Contributor Summit 2018
Rumah Kepemimpinan

PKPU Human Initiative dan Rumah Kepemimpinan Siapkan Pemimpin Muda Tanggap Bencana

Selasa (13/3), Rumah Kepemimpinan melakukan silaturahim strategis kepada PKPU Human Initiative. Tim Rumah Kepemimpinan yang dipimpin oleh bapak Bachtiar Firdaus, Direktur Eksekutif Rumah Kepemimpinan, disambut hangat oleh bapak Tomy Hendrajati, Direktur Program PKPU Human Initiative. Diskusi berlangsung santai dan dalam nuansa kekeluargaan.

Rumah Kepemimpinan sebagai institusi yang berfokus pada pembentukan pemimpin di Indonesia, menyadari perlunya pemahaman dan kesadaran utuh akan ilmu disaster management dikalangan anak muda sebagai calon pemimpin bangsa kelak. “Melihat landskap Indosesia, kita ingin anak-anak muda Indonesia sadar dan kompeten tentang ilmu disaster management. Kita latih mereka dan kita kampanyekan secara masif untuk menjadi gerakan yang besar,” terang Bachtiar Firdaus.

Menyambut gagasan tersebut, Tomy, sapaan Tomy Hendrajati, mengamini bahwa Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi disaster management. “Secara prinsip kami mendukung gagasan ini. Pemahaman disaster management untuk calon pemimpin Indonesia kelak adalah suatu kebutuhan,” lanjut Tomy yang diamini juga oleh Jumarsono, GM Disaster Risk Management PKPU Human Initiative.

Pelatihan perdana tentang disaster management ini rencananya menjadi bagian dari rangkaian acara Indonesia Youth Contributors Summit (IYCS) yang akan dihadiri oleh setidaknya mahasiswa UI, ITB, Unpad, UGM, ITS, Unair, IPB, USU dan Unhas binaan Rumah Kepemimpinan di bulan April 2018 nanti. [NIR]