Dhanita : Seni Menjadi Istri, Ibu, Sekaligus Mahasiswa

Dalam perjalanan hidup yang penuh tantangan, Dhanita, alumni Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta Putri Angkatan 5, menunjukkan kepada kita bagaimana ia mampu mengemban peran sebagai istri, ibu, dan profesional dengan luar biasa. Ketika tengah mengandung anak pertama, suaminya, Ilvan Yahdi (alumni R1 Putra Angkatan 5), harus bekerja di London. Meskipun prinsipnya ingin bersama keluarga, Dhanita memutuskan mencari cara agar mereka bisa berkumpul di London.

Tidak menyerah pada situasi, Dhanita melihat peluang di tengah tantangan. Sebagai seorang yang bekerja di Bank Indonesia, ia mencari jalan untuk mendapatkan beasiswa yang memungkinkan dirinya berangkat ke London. Satu-satunya kampus yang memungkinkan untuk itu adalah London School of Economics (LSE), yang juga berlokasi di kota tempat suaminya tinggal. Berkat izin Allah dan usaha kerasnya, pada tahun 2018, Dhanita berhasil mendapatkan kesempatan studi S2 di LSE, yang membawa mereka bersatu kembali.

Dhanita membuktikan bahwa perempuan mampu menghadapi berbagai peran dengan gemilang. Meskipun menekuni studi S2 dengan dedikasi, ia tidak pernah melupakan peran sebagai istri dan ibu. Kedisiplinan dan komunikasi dengan suaminya adalah kunci kesuksesannya dalam menjaga keseimbangan antara berbagai peran. Dhanita mengutamakan prinsip bahwa keluarga bukanlah beban, tetapi merupakan kekuatan yang mendukung perjalanan hidupnya.

Dengan kegigihan yang luar biasa, Dhanita berhasil menyelesaikan studi S2-nya dengan prestasi yang membanggakan. Ia menjaga keberhasilannya sebagai profesional, sekaligus meluangkan waktu dan perhatian untuk keluarga. Ceritanya memberikan inspirasi kepada kita bahwa perempuan mampu mengatasi hambatan dan menjalani berbagai peran dengan tangguh. Dhanita telah membuktikan bahwa dengan komitmen, kesabaran, dan semangat, perempuan dapat menggapai impian dan tetap menjaga harmoni dalam kehidupan keluarga.

Cerita inspiratif Dhanita mengajarkan kita pentingnya ketekunan, keseimbangan, dan komunikasi dalam menjalani peran-peran hidup yang beragam. Ia membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat dan kemauan untuk beradaptasi, seorang perempuan mampu menjalani karir, memenuhi tugas sebagai ibu dan istri, serta meraih prestasi akademis yang gemilang. Pelajaran berharga yang dapat diambil dari perjalanan Dhanita adalah pentingnya menghadapi setiap rintangan dengan kepala tegak, tidak menyerah pada situasi sulit, serta menjaga komunikasi dan harmoni dalam keluarga. Ia adalah contoh nyata bahwa perempuan dapat menjadi pilar kokoh dalam keluarga sambil menjalankan impian dan aspirasi pribadinya.

Indonesia di Ufuk Timur : Mari Jatuh Cinta pada Papua

Izzuddin Arafah Irawan atau yang lebih akrab disapa Izud berkesempatan hadir dan berbagi dalam program sharing Alumni regional Bogor Bandung Jatinangor. Agenda yang dilaksanakan pada hari Senin, 21 Maret 2022 tersebut menghadirkan pengalaman Izud yang tengah berkarya di Tanah Papua selama 5 tahun terakhir.

Berlatar Antropologi, Izud memenuhi panggilan jiwa untuk belajar dan menjadi bagian serta ikut serta berkontribusi di Tanah Papua. Ketertarikannya terhadap Papua diawali dari sebuah film yang menggambarkan Indonesia Timur, sampai pada akhirnya hal tersebut menjadi salah satu list doa. Ekspedisi Nusantara bersama kopasus pada tahun 2017 menjadi pembuka jalan Izud sampai akhirnya mampu menginjakkan kaki di Papua.

Izud yang saat ini menjadi bagian dari Yayasan Kitong Bisa memberikan sudut pandang yang menarik tentang Papua untuk seluruh peserta.

“Saya bangga menjadi bagian dari RK”. Beliau menuturkan bahwa RK senantiasa menanamkan nilai kontribusi dan menguatkan nilai kebermanfaatan diri bagi sesama. Hal tersebut telah terinternalisasi dan sudah menjadi naluriah atau panggilan jiwa.

Lingkungan rumah kepemimpinan memaksa diri untuk senantiasa berambisi menjadi problem solver, adaptif, memiliki management yang baik, membuat perencanaan hidup, yang ternyata manfaatnya sangat terasa dalam kehidupan. Teringat apa yang dikatakan oleh Bang Arif, bahwa sejatinya, anak RK harus memasang standar diatas standar rata-rata yang dimiliki orang lain.