Cinta yang Tak Biasa

Eka Primadestia Kusumawardani atau biasa disapa Eka adalah alumni Rumah Kepemimpinan angkatan 8 dan merupakan lulusan Ilmu Administrasi Universitas Indonesia 2014. Cinta pertamanya muncul saat ia di bangku SMA, tapi ini bukan sembarang cinta monyet anak sekolahan atau kutukan cinta pertama yang membuat seorang perempuan galau setengah mati. Ini tentang cinta pertama yang sudah menggugah hati, jiwa, dan pikiran seorang bocah untuk terus melangkah dalam petualangan yang penuh warna. Petualangan yang membuatnya hidup. Satu jawaban yang pasti, ini semua karena dia telah jatuh hati.

Bocah itu memiliki nama Eka Primadestia Kusumawardani, yang akrab dipanggil dengan Eka. Caranya mengenal dunia sejak kecil memang sudah dimulai dari beragam rupa kisah yang membentuknya menjadi seseorang berjiwa petualang. Cinta pertama yang ia temukan saat di bangku SMA menjadi salah satu langkah besar dari segala langkah yang telah ia lalui sampai hari ini dan diawali sebuah aksi bakti sosial semasa ia menjabat sebagai pengurus OSIS/MPK SMA.

Cintanya pada dunia sosial masyarakat pun telah dimulai. Jatuh hatinya sudah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Karena itulah ia selalu berusaha menenggelamkan dirinya dalam aktivitas yang berkaitan dengan masyarakat. Saat kuliah, dia banyak mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat baik yang berada di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa termasuk daerah aslinya yaitu Purworejo. Kegiatan volunteering terjauhnya sampai Raja Ampat Papua.

Pengabdian adalah candu baginya. Bukan tentang apa yang dia bisa bagikan untuk masyarakat, tetapi berjuta hikmah kehidupan yang dia dapatkan dan pelajari dari setiap manusia yang dia temui selama masa pengabdian. Masyarakat adalah guru kehidupan. Pengabdian bukan tentang siapapun yang lebih hebat, tetapi tentang hadirnya ketulusan jiwa. Hati yang bekerja dan menuntun setiap aksi kebaikan. 

Jatuh hatinya pada dunia sosial masyarakat telah menuntun langkah kakinya bekerja di lembaga kemanusiaan internasional yang berfokus untuk terus membersamai bangsa di setiap waktunya. Hadir paling cepat dan tanggap baik untuk bangsa Indonesia maupun di beberapa negara lain. Saat ini ia telah berani menjadikan cintanya sebagai sebuah pekerjaan profesional bertempat di jantungnya Provinsi Jawa Tengah yaitu Semarang. 

“Kamu tahu bagaimana rasanya menerima cinta setiap hari? Ya itulah yang kurasakan setiap harinya. Aku merasa jiwaku hidup dan bahagia. Jadi lelahnya mudah menguap, ketika aku menyaksikan seorang warga menangis karena bisa bekerja lagi karena usahanya terdampak pandemi. Jadi kalau mau ngeluh capek, keluhannya udah kelu di lidah karena tiap saat masalah umat di depan mata. Maka, yang yang keluar cuma hembusan napas saja atau ada air hujan di mata,” ungkap Eka menjelaskan cintanya.

Setiap orang memiliki jalannya. Begitulah Rumah Kepemimpinan, menurut Eka, berhasil membentuknya untuk berani mengambil jalan ini. Nilai dan idealisme yang sudah terinternalisasi dalam dirinya terus menguatkannya, bahwa setiap titik di Bumi Indonesia sedang menanti kontribusi para generasi mudanya. Maka sudah menjadi tugas setiap pemuda untuk segera mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dan sepantas-pantasnya. Menjadikan setiap waktu sebagai bentuk kontribusi terbaik untuk bangsa. Inilah bentuk kontribusi yang bisa Eka optimalkan untuk Ibu Pertiwi, membersamai masyarakat daerah. 

“Apapun kontribusimu, sekecil atau sebesar apapun. Selalu sertakan cinta-Nya di dalam setiap langkahmu. Agar hatimu turut membersamai hingga akhirnya kamu tidak sadar bahwa langkahmu sudah sejauh ini.” pesan Eka untuk pemuda.

Bersama Tangkal Radikalisme

Silaturahim Korbinmas Baharkam Polri dan Rumah Kepemimpinan

Kegiatan “Sambang”, Menghadirkan Pembelajaran dari Seorang Mantan Narapidana Kasus Terorisme

Telah berlangsung Acara ‘Sambang’ dari Korps Pembinaan Masyarakat Badan Pemelihara Keamanan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Korbinmas Baharkam Polri) dalam rangka Penyuluhan Kontra Radikal pada Kamis, 23 September 2021 pukul 09.30-11.30 WIB di Auditorium Rumah Kepemimpinan. Acara ini dihadiri oleh Pengurus dan Peserta Rumah Kepemimpinan, serta perwakilan Polda Metro Jaya.  Perhelatan ini bertujuan untuk membangun silaturrahim dan menjadi sarana edukasi guna menangkal segala bentuk pemikiran radikalisme serta intoleransi di kalangan mahasiswa.

Hadir dalam acara ini Bapak Kompol Dedi Vitriyanto, S.T., S.H. selaku Kasi Binturmas Korbimas Baharkam Polri, Bapak Kompol Sujanto selaku Kasubdit Bintibsos Polda Metro Jaya, dan Bapak Kompol Endang Sukmawijaya selaku Kapolsek Jagakarsa beserta jajaran yang bertugas.   Pihak Rumah Kepemimpinan diwakili oleh Bapak Drs. H. Musholli selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Nurul Fikri, Bapak Bachtiar Firdaus S.T., MPP., selaku Ketua Yayasan Bina Nurul Fikri, dan Bapak Adi Wahyu Adji, S.Si., MSM. selaku Direktur Eksekutif Rumah Kepemimpinan.

Setelah dibuka dengan pembacaan ayat suci Al Quran, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan Idealisme Kami, Bapak Bachtiar Firdaus, selaku perwakilan Rumah Kepemimpinan dan Yayasan Bina Nurul Fikri menyampaikan sambutan pertama dari tuan rumah.  Dalam sambutannya, beliau senantiasa menegaskan bahwa Rumah Kepemimpinan menerapkan nilai yang tidak berubah sejak awal berdiri di manapun dan kapanpun yakni ROOM-PK:  Rendah Hati, Objektif, Open Mind, Moderat, Prestatif dan Kontributif.  Hal ini bertujuan supaya peserta maupun alumni Rumah Kepemimpinan selalu membangun jembatan penghubung di antara perbedaan yang ada di Indonesia sebab keberagaman adalah keindahan yang negeri ini miliki.

Bapak Kompol Dedi Vitriyanto, S.T., S.H. selaku Kasi Binturmas Korbimas Baharkam Polri dalam sambutannya berpesan kepada mahasiswa untuk waspada pada ajaran yang memecah belah negara ini.  Seseorang dapat terpapar radikalsime disebabkan minimnya ilmu agama sehingga kerap terjadi kesalahpahaman.  Selain bertujuan menjalin silaturahim dengan Rumah Kepemimpinan, pihak kepolisian turut mengundang Ust. Sofyan Tsauri yang merupakan mantan narapidana kasus terorisme, untuk memberikan nasihat dan memberikan edukasi tentang bahaya pemikiran radikal dari pengalaman beliau yang sempat berkecimpung dalam pemikiran tersebut beberapa tahun silam.

Ust. Sofyan Tsauri dalam tausiyahnya menceritakan latar belakang dirinya mendekam 6 tahun di bilik sel tahanan, yaitu karena mengikuti gerakan radikal pada tahun 2010 silam.  Dirinya memberi nasihat kepada para mahasiswa dan seluruh hadirin yang hadir bahwa perlu berhati-hati dalam mencari lingkaran pertemanan dan pentingnya berguru kepada yang bijak untuk membekali diri.  Beliau mengingatkan betapa berbahayanya menafsirkan Al-Qur’an tanpa berguru kepada ‘ulama, sebab kesalahan tersebut dapat berakibat fatal di antaranya adalah pertumpahan darah.

Berulang kali narasumber menggarisbawahi bahwa alasan pemikiran ekstrimisme beragama mencuat adalah karena minimnya literasi agama. “Seorang muslim wajib untuk belajar dan menimba ilmu agama, tetapi jangan sepotong-sepotong (meninggalkan dalil yang lain)” ujar Ust. Sofyan dalam forum tersebut.  Harapannya pemahaman seorang muslim dapat utuh mengenali Islam secara menyeluruh. “Tinggalkan sebuah taklim yang apabila kita selesai mengikutinya, kita menjadi benci kepada kelompok lain dan merasa kitalah yang paling benar.” ujar Ust, Sofyan memberi tips sederhana menjauhkan diri dari bahaya radikalisme.

Setelah pesan pencagahan radikalisme usai, Bapak Kompol Sujanto selaku Kasubdit Bintibsos Polda Metro Jaya menyampaikan sambutan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada rekan-rekan Rumah Kepemimpinan yang selalu belajar ilmu Al Quran.  Hal tersebut, menurutnya, menjadi modal yang penting untuk mempertebal iman.  “Jangan mudah menyebarkan informasi yang mencederai kebersamaan dan persaudaraan di Indonesia” pesan dari beliau kepada generasi muslim yang dekat dengan sosial media.

Acara “Sambang” ditutup dengan penandatanganan berita acara dan penyerahan sarana kontak dari kepolisian kepada Rumah Kepemimpinan yang diwakilkan oleh Bapak Adi Wahyu Adji selaku direktur eksekutif. Besar harapan dari kegiatan ini para pemuda dapat kembali bersemangat dalam menjaga dan mencintai negeri serta menjauhkan diri dari segala bentuk gerakan yang melukai keutuhan NKRI.

“Yang Kami Harap adalah Terbentuknya Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat serta Kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta” kutipan Idealisme Kami Rumah Kepemimpinan.

Nantikan Berita Program dari Kami Selanjutnya!

Rumah Kepemimpinan

#InkubatorPemimpinIndonesia