Berdasarkan data yang dirilis ICW ada 46 eks Napi Korupsi yang kembali melaju menjadi caleg di 2019, beberapa partai yang tak masuk daftar juga bukan berarti bersih dari koruptor jika melihat rekam jejak kadernya yang tertangkap tangan oleh KPK. Sehingga berharap terjadi perbaikan di negeri ini pada Partai Politik secara komunal dan sistemik nampaknya sudah amat berat.

Motivasi tersebut yang melatarbelakangi Ikatan Alumni Rumah Kepemimpinan (IA RK) berusaha menghimpun alumni RK yang nyaleg dan turun ke gelanggang politik sebagai caleg di 2019. Dengan harapan alumni-alumni yang telah jelas rekam jejaknya profesionalitas dan kontribusinya ini, mampu memberi warna baru, menjadi pendobrak, membangun kolaborasi lintas partai politik. Maka digaungkanlah sebuah target, yakni agar di tahun 2019 ada Alumni RK yang menjadi anggota dewan, baik di level nasional maupun daerah.

Dalam seri pertama Kopdar IA RK, topik ini diperbincangkan bersama 2 alumni yang nyaleg, Reza Zaki dari Partai Nasdem maju untuk kursi DPR RI Dapil Sumedang, Majalengka, Subang, dan Yurgen Alifia Sutarno dari PSI maju untuk kursi DPR RI Dapil Depok Bekasi. Beberapa alumni lain yang sedang nyaleg untuk kursi DPR RI seperti Faldo Maldini dari PAN dan Muhammad Kholid dari PKS berhalangan hadir, serta untuk kursi DPRD DKI Adnan Mubarak juga berhalangan hadir.

Dihadirkan dihadapan 30an alumni, Zaki dan Yurgen menunjukkan kualitasnya dan kapasitas di bidang mereka, yang menjadi bekal utama untuk nanti terjun ke Parlemen. Zaki yang merupakan Doktor di bidang Hukum perdagangan ini mantap akan masuk ke Komisi VI DPR RI yang membidangi perdagangan, perindustrian dan investasi. Zaki ingin memperbaiki masalah-masalah di aspek legal yang menghambat perkembangan bisnis dan investasi. Sementara Yurgen yang baru saja pulang dari Oxford menempuh Master di Public Policy menargetkan dirinya untuk bisa masuk ke Komisi II untuk memperbaiki tata kelola Pemerintah Daerah dengan melakukan standarisasi birokrasi, atau komisi IX untuk memperbaiki pengelolaan BPJS, atau komisi X untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru.

Yurgen juga menyampaikan, pengalamannya bekerja sebagai jurnalis politik selama 3 tahun membuatnya melihat banyak diantara wakil rakyat yang tidak memiliki kompetensi sehingga tidak bisa menghasilkan produk legislasi yang baik. Senada dengan Yurgen, Zaki dengan penuh semangat menegaskan bahwa anak muda harus berani masuk segera ke politik, sebab para founding fathers seperti Soekarno hingga Sjahrir juga masuk ke politik, atau bahkan mendirikan partai politik di usia muda.

Meski berbekal optimisme yang membara untuk bisa masuk ke politik, Yurgen dan Zaki tak membantah ada realitas gelap dalam politik. Kuasa Oligarki, pertautan antara pengusaha rakus dan politisi yang busuk, banyaknya pemburu rente, ongkos politik yang mahal dan ragam problem lain. Namun justru dengan melihat realitas itu, orang-orang baik harus masuk dan mulai menyalakan cahaya optimisme. Dan bagi Yurgen dan Zaki politik bukan sekedar proses elektoral 5 tahun, namun ia perjuangan panjang. Dimana Yurgen mengibaratkan orang baik di politik adalah orang yang menyalakan cahaya walau kecil, nilai perjuangannya adalah keistiqomahan dalam menjaga nyala cahaya itu, agar semakin banyak orang yang terinspirasi untuk ikut menyalakan cahaya kebaikan agar cahaya itu makin besar, dan kegelapan pun hilang.

Diskusi hangat yang dihadiri 30an alumni ini, lebih mirip pitching forum, dimana para alumni yang hadir ibarat para investor yang tengah menguji start up yang akan diberi suntikan investasi. Sebab para alumni yang hadir, tak hanya berniat sekedar mendengarkan, tapi bagaimana memberikan dukungan baik moril maupun materiil kepada mereka yang sedang berjuang menembus parlemen.

Ibrahim Irsyad, [07.02.19 08:50]
IA RK, melihat peluang kolaborasi yang dahsyat dari forum ini, tapi tentu sebuah gerakan tak bisa sekali dua kali pertemuan ditentukan. Namun arah diskusi yang konstruktif harus terus digalakkan, dengan harapan akan ada gotong royong para alumni, menjadikan momentum tahun politik sebagai gerakan kolektif untuk berkontribusi pada perbaikan politik di negeri ini.

Dan belajar dari para alumni yang sedang berjuang untuk menembus parlemen, mereka mewacanakan hendak membangun kolaborasi lintas partai, atau dalam bentuk riil berupa kaukus milenial di parlemen, tempat anak muda progresif berkumpul mempelopori perbaikan. Sebab kebaikan tak hanya milik satu kelompok, dan selama kebaikan yang diperjuangkan, perbedaan-perbedaan yang ada pada akhirnya dapat dipertemukan. Jika mereka saja bisa mengesampingkan perbedaan lintas partai, membangun kolaborasi untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, akankah kita biarkan mereka berjuang sendiri?

(Catatan Kopdar IA RK Edisi 2019 Alumni RK Jadi Dewan)
Oleh: Ahmad Jilul QF (Sekjen IA RK)