Kontribusi Pemuda dalam Menyongsong Era Baru Indonesia – Indonesia Youth Contributor Summit 2018

Public Event IYCS telah diadakan pada hari Sabtu, 28 April di gedung B.101 FMIPA Universitas Indonesia. Tema yang diangkat adalah “Kontribusi Pemuda dalam Menyongsong Era Baru Indonesia”. Dimana pada sesi talkshow tadi siang menghadirkan 5 pembicara dan dipandu oleh seorang moderator yang sungguh luar biasa dan sangat menginspirasi.

Sesi talkshow dipandu oleh Jiwo Damar A (Waroeng Pintar). Sementara pembicara-pembicaranya berasal dari beragam sektor Kepemimpinan, pembicara tersebut adalah:

1. Heni Sri Sundari (Pendiri Agro Edu Jampang)
2. Habibi Yusuf S (Kasubbag Publikasi & Biro Humas Kementerian Perindustrian)
3. Gesa Falugon (Owner Ramesia)
4. Najelaa Shihab (Pendiri Sekolah Cikal)
5. Refi Kunaefi (CEO Akuo Energy)

Main Event IYCS 2018 ini membicarakan bagaimana kontribusi pemuda yang dikaitkan dengan era industrialisasi yang keempat. Dimana para pembicara selalu mengingatkan bahwa yang terpenting atas setiap kontribusi kita adalag dengan membuat perubahan soaial di masyarakat. Dan memang inilah saatnya bagi pemuda untuk segera berkarya karena saat ini sedang mengalami bonus demografi. Karya-karya tersebut disesuaikan dengan bidang-bidang yang sesuai dengan diri kita. Yang perlu diingat bahwa setiap bidang memiliki pola kesuksesannya masing-masing, maka kita memang harus berusaha menemukan polanya.

Selain itu, kontribusi yang bisa kita sebagai pemuda lakukan disini semata-mata adalah untuk kebermanfaatan bagi banyak orang. Kontribusi tersebut diharapkan dapat berkolaborasi dan menjadi pemantik gerakan kebaikan-kebaikan yang semakin meluas.

Rumah Kepemimpinan
Beasiswa Pemimpin Indonesia

Indonesia Emas atau Berkemas Orasi Kebangsaan Dr. Warsito pada IYCS 2018

(28/4) Idealisme kami telah menggetarkan jiwa Pak Warsito selama 30 tahun, tidak hanya 22 bulan. Menjaga idealisme itu tidak mudah. Banyak pahit yang akan dirasakan, seperti apa yang dirasakan Pak Warsito. Ikrar idealisme itu seharusnya menjadi perubah, bukan hanya menjadi nyanyian kosong.

Pada sesi Wisuda Rumah Kepemimpinan angkatan 8 ini, Dr. Warsito mengatakan bahwasannya RK itu ibarat busur dalam membangun Indonesia, dan anak-anak RK adalah anak panahnya. RK menarik busurnya dalam bentuk pembinaan selama 22 bulan, yang kemudian dilesatkan agar bisa melaju lebih jauh lagi.

Pada abad 20 lalu, teknologi yang mengukir sejarah adalah teknologi perminyakan, dimana era industri masih cukup berjaya. Namun sekarang, pada abad 21, hanya dalam 10 tahun teknologi tersebut tergeser oleh teknologi informasi. Sejak tahun 2006/2007, migas dan indostri sudah anjlok/defisit. Bahan bakar migas akan habis pada waktunya, sementara teknologi di Indonesia belum siap untuk menghadapi hal tersebut.

Untuk menggerakkan roda ekonomi, hanya dengan inovasi. Idealisme tersebut harus dituangkan dalam bentuk kerja nyata, tidak hanya digelorakan saja. Salah satu idealisme Pak Warsito yang dituangkan dalam bentuk karya nyata adalah ECCT dan ECVT.

ECCT menggunakan prinsip dari teknologi layar sentuh kapasitif yang digunakan pada handphone-handphone layar sentuh yang saat ini banyak di pasaran. Alat ini dapat mengetahui aktivitas yang terjadi dalam suatu benda/tempat. Salah satu penggunaan alat ini adalah pengecekan aktivitas reaktor dalam mesin pengebor migas. Selain itu, alat ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas sel kanker.

Untuk ECVT, dapat digunakan untuk meluruhkan sel kanker dengan memancarkan sinyal dengan frekuensi tertentu dengan taknik modulasi, yang sesuai dengan frekuensi alami dari sel kanker tersebut, sehingga beresonansi, untuk meluruhkan sel kanker dari tubuh pasien. Selain itu, ada juga ECBS yang dapat menstimulasi sel-sel tubuh yang telah dirusak oleh sel kanker untuk menjadi normal kembali.

Dalam riset, yang terpenting adalah pelajari prinsipnya, bukan metodologinya. Dengan mempelajari prinsipnya, metodologi yang digunakan dapat dikembangkan sendiri. Sementara, jika hanya mempelajari metodologinya saja, maka hanya akan mengulang apa yang dilakukan oleh orang lain.

Begitu pula menganalogikannya dalam kepemimpinan, dalam konsep gelombang, ada 3 tahapan yaitu Mengikuti gelombang, Mulai melawan dan Mengubah aliran gelombang

Pelajaran terakhir Dr. Warsito untuk kami calon-calon pemimpin masa depan dengan adalah dengan mengenal diri, bertahan dari kehidupan, berjuang dan selalu berkontribusi. InsyaAllah Indonesia di masa depan adalah kendali penuh & tanggung jawab kita sebagai penerus kepemimpinan bangsa.

Indonesia Youth Contributor Summit 2018
Rumah Kepemimpinan