Selepas sumpah dokter yang dilaksanakan Juli 2018 lalu. Alumni Pendidikan Dokter UGM asal Payakumbuh, Sumatera Barat ini mengambil prinsip untuk terus menyibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat. Selain menjadi asisten Wakil Dekan bidang Alumni di FK-KMK UGM, asisten penelitian dosen di bagian Bedah Digesti dan bagian Bedah Anak, Hafiq juga mengemban amanah sebagai ketua harian di MER-C Jogja.

Aktif di MER-C menambah pengalaman Hafiq menjadi relawan di Lombok. Setelah keinginan menjadi relawan yang belum kunjung terwujud lantaran aktivitas koas, akhirnya pengalaman relawan fase tanggap bencana ia ikuti pasca gempa 7 SR di Lombok Utara. Tidak sekadar menjadi relawan, Hafiq pun juga mengamati fakta yang terjadi di lapangan seperti respon pemerintah dan kondisi masyarakat.

Menurut Hafiq, tidak hanya bencana alam yang terjadi di Lombok, namun juga bencana birokrasi. Hal ini dikarenakan pada awalnya pengelolaan tanggap bencana amburadul dan tidak terkoordinir. Oknum pemerintah provinsi tidak dapat mengambil alih komando dalam fase tanggap bencana karena pemerintah kabupaten sudah kolaps. Sehingga yang terjadi adalah kerja sendiri-sendiri. Militer dari komando panglima di pusat, RSUD dari pemerintah, dan relawan sendiri-sendiri.

Pengalaman berharga saat menjadi relawan di Lombok cukup memberi banyak pengaruh bagi Hafiq sampai-sampai rencananya untuk menjadi dokter spesialis bedah digesti ia ubah menjadi dokter spesialis bedah tulang yang rupanya sangat dibutuhkan dalam fase tanggap bencana. Gempa Padang yang pernah terjadi membuatnya ingin jaga kandang saat-saat ranah minang membutuhkan bantuan. Melihat penanganan gempa di lombok, Hafiq pun ingin mempelajari manajemen bencana dan mengambil pendidikan lanjut tentang hal ini, namun pendidikan spesialis tetap lebih utama baginya. Melalui pengalaman menjadi relawan, Hafiq menyadari bahwa jalan hidup yang sesungguhnya baginya adalah membantu sesama.

Meskipun mengenyam pendidikan dokter di tanah Jawa, dokter asal Payakumbuh ini memiliki semangat yang kuat untuk membangun daerah, terutama di tanah kelahirannya, Payakumbuh, Sumatera Barat, dan sekitarnya. Selain memutuskan untuk mengambil jalur dokter spesialis bedah, ia juga bertekad untuk bisa mewakafkan minimal 50% dari pendapatannya untuk kesejahteraan umat.

Energi semangat berjuang demi umat ini selain Hafiq dapatkan sejak masuk kuliah di Pendidikan Dokter UGM dan asrama Rumah Kepemimpinan Yogyakarta, ada kata-kata dosennya, dr. Gandhes Retno Rahayu, yang sangat ia ingat, “Sejak kalian masuk menjadi mahasiswa kedokteran, hidup kalian sudah bukan milik kalian lagi. Hidup kalian adalah milik masyarakat Indonesia yang membutuhkan bantuan kalian.” Dan yang tak kalah penting yang juga selalu diingat adalah pesan dari ibunda di hari pertama Hafiq meninggalkan rumah untuk merantau ke jogja, “Berjuanglah demi agama, bangsa dan negara.” Pesan-pesan kontribusi pada umat yang diperoleh selama berasrama juga turut menguatkan Hafiq untuk terus berjuang mewujudkan mimpinya.

Berbagi dengan yang lain: