(28/4) Idealisme kami telah menggetarkan jiwa Pak Warsito selama 30 tahun, tidak hanya 22 bulan. Menjaga idealisme itu tidak mudah. Banyak pahit yang akan dirasakan, seperti apa yang dirasakan Pak Warsito. Ikrar idealisme itu seharusnya menjadi perubah, bukan hanya menjadi nyanyian kosong.

Pada sesi Wisuda Rumah Kepemimpinan angkatan 8 ini, Dr. Warsito mengatakan bahwasannya RK itu ibarat busur dalam membangun Indonesia, dan anak-anak RK adalah anak panahnya. RK menarik busurnya dalam bentuk pembinaan selama 22 bulan, yang kemudian dilesatkan agar bisa melaju lebih jauh lagi.

Pada abad 20 lalu, teknologi yang mengukir sejarah adalah teknologi perminyakan, dimana era industri masih cukup berjaya. Namun sekarang, pada abad 21, hanya dalam 10 tahun teknologi tersebut tergeser oleh teknologi informasi. Sejak tahun 2006/2007, migas dan indostri sudah anjlok/defisit. Bahan bakar migas akan habis pada waktunya, sementara teknologi di Indonesia belum siap untuk menghadapi hal tersebut.

Untuk menggerakkan roda ekonomi, hanya dengan inovasi. Idealisme tersebut harus dituangkan dalam bentuk kerja nyata, tidak hanya digelorakan saja. Salah satu idealisme Pak Warsito yang dituangkan dalam bentuk karya nyata adalah ECCT dan ECVT.

ECCT menggunakan prinsip dari teknologi layar sentuh kapasitif yang digunakan pada handphone-handphone layar sentuh yang saat ini banyak di pasaran. Alat ini dapat mengetahui aktivitas yang terjadi dalam suatu benda/tempat. Salah satu penggunaan alat ini adalah pengecekan aktivitas reaktor dalam mesin pengebor migas. Selain itu, alat ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas sel kanker.

Untuk ECVT, dapat digunakan untuk meluruhkan sel kanker dengan memancarkan sinyal dengan frekuensi tertentu dengan taknik modulasi, yang sesuai dengan frekuensi alami dari sel kanker tersebut, sehingga beresonansi, untuk meluruhkan sel kanker dari tubuh pasien. Selain itu, ada juga ECBS yang dapat menstimulasi sel-sel tubuh yang telah dirusak oleh sel kanker untuk menjadi normal kembali.

Dalam riset, yang terpenting adalah pelajari prinsipnya, bukan metodologinya. Dengan mempelajari prinsipnya, metodologi yang digunakan dapat dikembangkan sendiri. Sementara, jika hanya mempelajari metodologinya saja, maka hanya akan mengulang apa yang dilakukan oleh orang lain.

Begitu pula menganalogikannya dalam kepemimpinan, dalam konsep gelombang, ada 3 tahapan yaitu Mengikuti gelombang, Mulai melawan dan Mengubah aliran gelombang

Pelajaran terakhir Dr. Warsito untuk kami calon-calon pemimpin masa depan dengan adalah dengan mengenal diri, bertahan dari kehidupan, berjuang dan selalu berkontribusi. InsyaAllah Indonesia di masa depan adalah kendali penuh & tanggung jawab kita sebagai penerus kepemimpinan bangsa.

 

Indonesia Youth Contributor Summit 2018
Rumah Kepemimpinan

 

Berbagi dengan yang lain: