Sabtu (28/8), Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Din Syamsuddin membawakan orasi kebangsaan pada acara Indonesia Youth Contributor Summit 2018 di Gedung Aula FMIPA UI. Pada orasinya kali ini, Prof. Din, membahas tentang Krisis Kepemimpinan yang bermuara pada lemahnya kekuatan masyarakat muslim Indonesia. Islam yang semestinya merupakan agama keadilan, agama kemajuan, dan agama kesaksian tidak terlihat di Indonesia. Hal ini tidak sebanding dengan resources yang dimilikinya, yaitu Quantity of Human Resources, Natural Resources, Value Resources, dan History Resources.

 

Solusi nya ada dua:

1. Self-defense mechanism harus diperkuat. Ini lebih kepada reaksi terhadap suatu masalah.

2. Long-term strategy. Pendekatan2 yang dilakukan mestinya memiliki visi yang jauh.

 

Akhirnya kita bisa memilih antara melakukan transformasi, accelerated revolution, atau maksimalisasi kekuatan. Yang kurang dilakukan adalah maksimalisasi kekuatan, padahal ini tdk membutuhkan usaha yang besar dan waktu yg lama jika dibandingkan dengan 2 pilihan sebelumnya. Sebagai umat muslim, Al-Qur’an sudah memberikan tuntunan untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Iman, hijrah, dan perjuangan adalah kuncinya.

 

Prof. Din menutup orasi kebangsaan untuk Beasiswa Pemimpin Indonesia Rumah Kepemimpinan dengan jargon yg terus dia bawa “Why not the best?” dan “Because being good it’s not good enough”. [MREA]

Berbagi dengan yang lain: