Rahadian Dewandono mempercayai bahwa bekerja sebagai insinyur perangkat lunak bisa mendapatkan 4 L ala Stephen R Covey, yaitu Live: Pekerjaan kita dapat memberikan penghasilan yang layak untuk hidup, Love: Pekerjaan kita dapat meningkatkan social capital kita dalam bermasyarakat, Learn: Pekerjaan kita memastikan kita untuk selalu belajar sesuatu yang baru, dan Leaving a Legacy: Pekerjaan kita memungkinkan kita untuk meninggalkan sesuatu yang berguna bagi generasi setelah kita.

“Saya percaya bahwa bekerja sebagai insinyur perangkat lunak bisa mendapatkan keempat L tersebut. Live: Jika melihat data, rata-rata penghasilan profesi di bidang industri perangkat lunak cukup kompetitif. Love: Bekerja sebagai insinyur perangkat lunak juga harus memiliki empati terhadap orang lain (klien, teman kerja satu tim, dll). Learn: Sudah jelas bahwa teknologi di industri ini bergerak dengan sangat cepat. Mau tidak mau agar bisa bertahan dalam industri perangkat lunak, belajar merupakan hal yang wajib. Leaving a Legacy: Insinyur perangkat lunak akan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk stakeholder dan tim-tim yang melanjutkannya. Selain itu, sebaik-baiknya orang adalah mereka yang memberikan dampak positif. Industri perangkat lunak saat ini merupakan industri yang paling banyak memberikan dampak positif yang signifikan. Saya ingin berkontribusi di industri yang paling memberikan dampak tersebut,” ungkapnya ke Bernas (11/8).

Dikatakannya, Ahli IT ini kini bekerja sebagai Senior Software Engineer (Full-Stack) di ABB. Product yang ditangani adalah sistem informasi logistik di industri pertambangan. Ia merasa beruntung, karena tergabung di dalam salah satu proyek besar di ABB, yakni modernisasi produk ke aplikasi berbasis awan (cloud computing).

Ia dapat belajar dan memperoleh pengalaman langsung dengan teknologi-teknologi mutakhir, seperti Microservices Architecture, Serverless Architecture, Modern Front-end Web Development (React JS), dan lain-lain. “Selain itu, sebagai Independent Software Consultant (SUKAWEB.com). Saya ingin agar ilmu dan pengalaman saya tidak hanya berguna bagi perusahaan tempat saya bekerja, tetapi juga kepada organisasi atau lembaga yang mempercayai saya. Sejak 2013 saya bekerja secara part-time sebagai konsultan perangkat lunak independen (SUKAWEB.com). Project yang pernah saya tangani bervariasi, mulai dari pembuatan web sederhana, Agile Transformation, serta pengembangan produk software di travel agency yang berskala Asia Tenggara. Bekerja part-time sebenarnya dapat berkolerasi positif terhadap pekerjaan full-time, asalkan satu jalur dan tidak mengganggu waktu kerja. Tantangannya adalah manajemen waktu dan energi. Konsekuensinya, saya harus mengurangi waktu pribadi saya,” tuturnya.

Selain itu, metodologi Agile project management juga dapat diterapkan untuk meminimalisasi risiko miskomunikasi antar stakeholder tersebut. Ia pun meyakini bahwa pekerjaannya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ”Value! Saat ini tampak jelas bahwa industri perangkat lunak merupakan industri yang paling banyak menawarkan dampak yang signifikan, bahkan cenderung bersifat disruptif terhadap para pemain tradisional. Tentu hal tersebut juga akan berdampak langsung ke masyarakat,” imbuhnya.

Master Ilmu Komputer ini ternyata membangun kebiasaan khususnya sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Ia masih ingat dulu di masa sekolah, yaitu dibiasakan orang tuanya untuk belajar di malam hari. Namun, ketika mulai masuk ke dunia pekerjaan, ia justru merasakan kebiasaan baik itu sedikit demi sedikit terkikis. Ia pun akhirnya sejak itu bertekad untuk membiasakan diri dan meluangkan waktu untuk belajar. Belajar bisa dengan banyak cara. Cara yang menurut saya mudah dilakukan adalah mendengarkan pod cast atau audio book. Mendengarkan podcast bisa disambil dengan mengerjakan yang lainnya, misal saat bersih-bersih rumah, saat terjebak macet di jalan, atau saat di dalam angkutan umum (busway atau KRL). Sudah 3 tahun mendengarkan pod cast menjadi kebiasaan harian saya. Saya hampir tidak pernah absen mendengarkan pod cast ketika melakukan commute dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Channel podcast favorit saya adalah Software Engineering (seperti, Software Engineering Daily, Develper Tea, Hansel Minute, dll), Bisnis (seperti HBS), ataupun pengembangan diri secara general (seperti Tim Ferriss Show, TED Radio Hour, dll). Sebelum tidur, ia pun sering streaming channel YouTube seperti Simple Programmer, Clever Programmer, dll. Saya mendapat tidak hanya hard skill, tetapi juga soft skill sebagai software engineer,” bebernya panjang.

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini membocorkan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. “Jangan terlalu percaya dengan factor Luck. Sebagian besar kesuksesan pasti didapat dari kerja keras dan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Percaya pada hukum alam: hukum sebab-akibat. Untuk saran, berproseslah secara bertahap. Konsistensi lebih berdampak daripada volume, misal membaca buku 30 menit dengan rutin dan kontinyu akan lebih berdampak daripada membaca buku berjam-jam namun tidak kontinyu,”tukasnya.

Peraih Microsoft Certified Professional in Web Development and Distributed Computing ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impian terbesarnya ke depan. “Untuk project, mengembangkan produk perangkat lunak yang nantinya bisa menjadi salah satu sumber pendapat yang bersifat pasif. Untuk impian terbesar ke depan, menjadi software architect, VP Engineering atau CTO di perusahaan yang bergerak dalam bidang perangkat lunak atau konsultan perangkat lunak,” pungkasnya.

Berbagi dengan yang lain: