Pada Hari Selasa,16 Januari 2018 Ksatria-Tiara mengikuti  program Kajian Sirah Nabawiyah bersama Ust. Iman Matin, Lc. Kali ini, kisah hidup Nabi masih dikaji dalam perspektif Akhlaq. Berikut notulensinya:

Keramahan Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Rasulullah banyak senyum dan tertawa. Saat mendapatkan wahyu, maka sikap Rasul seperti ingin memperingatkan, wajahnya serius, seakan-akan ingin ditimpakan azab, Namun ketika tidak ada kondisi tersebut, beliau orang yang paling berseri-seri wajahnya dan paling banyak senyum.
Dicertikan oleh Aisyah, ketika di rumah, keramahan Rasul ditunjukkan dengan tidak menjulurkan kaki dihadapan para sahabatnya.

Rasul selalu menjawab salam dengan yang lebih baik dengan menambahkan doa “Rahmat” dan “Barokah” ketika menjawab salam. Rasulullah menjawab salam dengan jawaban yang tingkatnya “sama” atau “lebih baik”. Rasul selalu menyambut orang yang datang kepadanya dengan “Marhaban…” dan sering bertanya “Apa Kabarmu?” kepada para Sahabatnya.

Rasul Memuliakan Pemimpin Kaum. Rasul memuliakan pemimpin kabilah sebagai siyasah dakwah Rasul. Rasul tidak ingin dihormati, tidak menginginkan jabatan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan ketika Rasul memberikan tempat dukuknya kepada pemimpin kaum yang datang kepadanya.

Rasul adalah orang yang sangat “Gaul”. Rasul ikut “ngobrol” dengan Zaid bin Tsabit, tetangga beliau, baik ketika datang wahyu maupun urusan dunia. Beliau hampir selalu mengikuti obrolan dengan para sahabat selepas terbit matahari

Berbagi dengan yang lain: