Senin, 11 September 2017, Rumah Kepemimpinan Surabaya melaksanankan agenda Sharing Alumni (SA). Kegiatan ini menghadirkan Mas Ihsan, C0-Founder E-Fisheries, Start-uper sekaligus alumni Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung angkatan 5. Beliau merupakan lulusan Managemen ekonomi universitas Paddjajaran Bandung.  Acara Sharing Alumni dilaksanakan di Aula Rumah Kepemimpinan Surabaya dipandu oleh Yunaz Karaman, Mahasiswa Fakultas ilmu Budaya Universitas Airlangga.

Mas Ihsan membuka sharing Alumni dengan sebuah nasehat yang menggetarkan hati. “Kalau Antum ingin belajar, jangan belajar kepada seseorang yang masih hidup karena mereka masih rawan terkena fitnah. Belajarlah kepada orang yang sudah mati, karena mereka telah selesai dengan urusannya”, kata beliau. Berbicara perihal kehidupan asrama, menurut mas ihsan asrama merupakan kehidupan dan masa masa yang sangat berharga dan dirindukan. Apalagi momen-momen ketika masih kuliah. Menurut Mas Ihsan, momen kuliah merupakan momen momen yang berharga, karena masih dapat mengeksplore banyak hal yang belum kita tahu. Momen ini tidak akan terulang dua kali sehingga bagi kita yang masih berkuliah, jangan kita sia siakan oleh aktivitas yang tidak bermanfaat.

Beliau juga berpesan bahwa jangan sampai keberadaan di asrama Rumah Kepememimpinan hanya menjadi sebuah rutinitas tanpa memahami arti dari setiap agendanya. Berada di Rumah Kepemimpinan merupakan suatu perjalanan mencari sebuah esensi dari kehidupan. Jangan sampai begitu menjadi Alumni , Anda menjadi wajah wajah yang mencoret islam. Jangan sampai saat Anda sendiri, Anda lalai dan bermaksiat kepada Allah S.W.T

Dalam diskusi lebih lanjutnya, Mas Ihsan menyampaikan level level keimanan berdasarkan Q. S Al mukminun. Berturut turut adalah orang yang khusuk dalam sholatnya. Sholat menjadi suatu ibadah istimewa yang akan dihisap pertama. Orang yang mampu meninggalkan hal-hal yang sia-sia. Untuk membedakan antara baik dan buruk seseorang cenderung lebih mudah memutuskannya, tetapi ketika harus memutuskan anatara yang baik dan yang lebih baik atau antara buruk dengan yang lebih buruk, seseorang harus bisa meninggalkan mana diantara dua pilihan itu yang jauh lebih bisa membrikan manfaat kepadanya. Orang yang membayar zakat dan orang yang mampu menjaga hawa nafsunya  Hawa Nafsu menjadi suatu hal yang sangat berbahaya bagi manusi jikalau mengalahkan hati dan fikirannya sehingga sebagai manusia kita harus dapat mengontrol hawa nafsu kita. Dan yang terakhir adalah orang yang menjalankan amanat dan tidak khianat. Amanah disini meliputi hal yang luas tidak hanya sebuah amanah jabatan atau posisi. Tetapi termasuk di dalamnya dalah amanah kita menajdi seorang anak. Anak laki-laki yang menanggung amanah dari ibu, istri, saudara perempuan, dan anak perempuannya . Sedangkan menjadi seorang anak perempuan berarti ia ditanggung oleh suami, ayahnya, saudara laki lakinya, dan anak laki lakinya. Contoh lainnya adalah amanah dari Allah untuk menjaga shalat. Memang menjaga amanah sangatlah berat, tetapi jika dapat melewatinya Jannatul Firdaus, InsyaAllah.

Mas Ihsan juga menjelaskan perihal The Law Of  Diminising Return yang dalam ekonomi diartikan bahwa ketika input yang dimiliki melebihi kapasitas produksi input, maka return (pendapatan) semakin menurun. Simple nya diumpamakan seperti minum segelas air ketika kita haus dengan menghabiskan 1segalon air minum. Pastinya kepuasan kita akan berbeda dalam 2 kasus tersebut. Beliau menutup sharing alumni kala itu dengan  sebuah nasehat. “Kita hidup penuh dengan ujian dan hambatan. Bahkan kekayaan dan kepopurelan pun juga ujian. Yang kita perlukan adalah bagaimana kita menyikapi setiap kesedihan, kekuasaan dan kekayaan tersebut sehingga nantinya kesedihan, kekayaan dan kekuasaan itu menjadikan kita dan menuntun kita kepada surga Allah S.W.T. Karena pada dasarnya setiap orang mampu melewati ujian yang dihadapinya berdasarkan Q. S al baqarah 285 bahwa Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya.

Kedatangan mas Ihsan di asrama Rumah Kepemimpinan Surabaya memberikan kesan positif bagi peserta. Mengingatkan soal hal-hal dasar dalam hidup, khususnya berasrama. Harapan besarnya, peserta mendapatkan poin itu dan mengimplementasikan dalam kesehariannya.

Berbagi dengan yang lain: