“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat tanah airnya bukan tanah pijakannya”. Kalimat tersebut menggambarkan arti penting sebuah nasionalisme sebagai nilai sebuah bangsa. Di Brasil, nasionalisme dipelopori oleh Ratu Maria dan Joaquim Jose Clasilva Xavier. Keduanya menentang adanya bentuk kolonialisme yang dilakukan oleh Spanyol. Perjuangan mereka berujung pada hukuman mati oleh Spanyol. Berbeda dengan di Kuba, ekspresi nasionalisme dilakukan melalui peperangan berdarah dan dimulai pada tahun 1826-1869.

Setiap negara mempunyai cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa nasionalismenya. Dalam konteks kekinian, nasionalisme tidak harus dalam bentuk peperangan atau sikap fanatik buta. Pemuda dapat mengekspresikannya dengan menciptakan karya, menggunakan produk asli Indonesia, upacara bendera, bermain sosial media dengan memberikan posting tentang Indonesia, hingga rindu dengan tanah air ketika sedang berdiaspora. Sejatinya, yang kita anggap biasa di Indonesia, di luar negeri sangatlah berharga. Misalnya adalah nasi. Nasi sangat melimpah di Indonesia akan tetapi ketika berada di luar negeri khususnya Jerman, nasi menjadi barang yang sangat dirindukan.

Berbicara soal nasi, nasi tidak dapat lepas dari persoalan pertanian. Tahun 2016, Indonesia mengimpor beras sejumlah 1,2 Juta Ton pada periode Januari-November (Sumber: detik.com). Terlepas dari pro kontra harus impor atau tidak, hal ini cukup kontradiktif dengan Indonesia yang notabene sebagai negara agraris. Bahkan, terkadang Institut Pertanian Bogor menjadi pihak yang disalahkan akibat ketidakmampuan mengatasi harga bahan pokok di masyarakat. Akhir-akhir ini, Institut Pertanian Bogor kembali dituduh oleh isu membentuk khilafah sebagai sistem negara.

Isu tersebut bagiku sudah tidak relevan lagi. Pasalnya, sistem kuliah yang mengharuskan mahasiswa tinggal di asrama pada semester 1 dan 2, membuat mahasiswa IPB telah teruji kebhinekaannya. Mahasiswa IPB berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Papua. Hal itulah yang memberikan dampak positif kepadaku saat bertahan hidup di luar negeri. Di luar negeri, khususnya Jerman, tidak mudah untuk bertahan hidup. Hanya manusia yang memiliki karakter rendah hati dan open mind saja yang mampu beradaptasi dengan mudah. Kondisi itulah yang saya rasakan saat mewakili Indonesia di International Student Week Ilmenau, Germany 2017. Konferensi itu dihadiri oleh 336 delegasi dari 73 negara di dunia dan di tempat itulah nasionalisme saya diuji. Apalagi, saat ini saya masih kuliah s1 semester 4 sedangkan rata rata yang menjadi delegasi adalah mahasiswa master di negaranya. Namun, kondisi tersebut semakin bertambah kecintaanku terhadap Indonesia.

Dengan penuh keyakinan, saya mengenalkan diri dan asal negara kepada setiap delegasi yang saya temui. Tak jarang, saya memperlihatkan tempat wisata yang ada di Indonesia. Mereka berkata, “Amazing Country!”. Mereka makin kagum saat saya menyampaikan Indonesia memiliki 1.340 suku dan 1.211 bahasa daerah. Namun, fakta ini terkadang tidak diketahui oleh pemuda Indonesia dan memilih rendah diri saat berkomunikasi dengan bangsa lain. Hanya doa dan harapan yang dapat saya panjatkan agar Indonesia senantiasa dipersatukan oleh Tuhan.

Tidak hanya sampai di situ saja, saat saya mempresentasikan paper yang berjudul “Generation of Anti-Corruption Community for Educate Youth Generation to Reach Global Justice In Indonesia”. Mereka menyampaikan bahwa saat ini negaranya mengalami permasalahan yang sama. Salah satu contohnya adalah Temanku, Martina. Martina merupakan delegasi dari Argentina. Dia mengungkapkan hal serupa yang terjadi di negaranya. Dari tahun 1989 sampai 2007, ada 44 skandal korupsi nasional di Argentina. Sebanyak 21 diantaranya berhasil dimuat dalam 2 surat kabar utama dan pemberitaan berlangsung hingga 171 minggu. Pada bagian pertama, 3 periode kongres selama kepresidenan pertama Menem (1989-1994) dilanda skandal korupsi yang menarik perhatian dari media dan masyarakat. Sementara 2 periode kongres memiliki banyak skandal tingkat tinggi (Swift Gate, Yomagate, Narcogate, dan sebagainya), sepertiga terakhir kepresidenan Menem hanya memiliki 2 skandal utama (skandal IBM-Banco dan skandal penjualan senjata). Walau ada perbedaan, dalam 3 periode itu dapat dianggap telah memiliki skandal korupsi tingkat tinggi, karena dipublikasikan di media utama lebih dari 20 minggu dalam setiap periode 2 tahun.

Itu Argentina, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan ada lebih dari Rp 3 triliun total kerugian negara yang ditimbulkan dari kasus korupsi sepanjang 2016. Staf Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW Aradila Caesar mengatakan tepatnya ada Rp 3,085 triliun nilai kerugian negara akibat perkara korupsi. ICW menyebut jumlah kewajiban uang pengganti di 2016 (dengan total 246 putusan yang wajib membayar uang pengganti) masih lebih kecil dibandingkan dengan 2015. Pada 2015 tercatat dari 183 putusan, pengadilan menjatuhkan kewajiban uang pengganti sebesar Rp 1,542 triliun. Sementara di 2014, dengan 164 putusan kewajiban pembayaran uang pengganti sebesar Rp 1,491 triliun (Sumber: msn.com).

Permasalahan-permasalahan di atas meyakinkan kami bahwa korupsi harus diperangi secara tuntas. Dengan generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, kami optimis menatap kehidupan bernegara yang lebih baik. Tantangan bernegara makin berat dan ancaman disintegrasi bangsa menjadi persoalan yang serius. Saya beruntung dapat merasakan keberagaman yang penuh warna dan cerita. 73 negara yang saya temui, mereka memiliki harapan-harapan baru agar keadilan global dan perdamaian dapat terwujud di muka bumi ini. Pemuda-pemudi Indonesia harus mampu menjadi director of change di mana pun ia berada karena pengabdian tidak mengenal suku maupun agama. Saya teringat dan termotivasi oleh Jeremi, delegasi asal Senegal. Jeremi menceritakan harapannya agar pendidikan di Senegal dapat dinikmati oleh semua kalangan karena hanya orang orang yang kaya saja yang dapat menikmati pendidikan.

Tidak hanya Jeremi yang memiliki harapan, saya pun memilikinya. Saya berharap, ketika 336 delegasi kembali ke negaranya, mereka mampu mengubah permasalahan-permasalahan negaranya menjadi peluang di masa depan. Bukan era nya lagi kompetisi yang menjatuhkan melainkan kompetisi yang kolaboratif. Tuhan menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal dan saling membantu. Keadilan global tidak akan terwujud bila masing-masing pihak mementingkan dirinya sendiri dan perdamaian hanya akan menjadi utopis belaka. Saya bertekad untuk memulai perubahan itu dari kampusku, Institut Pertanian Bogor. Melalui IPB, saya titipkan harapan bangsaku di masa depan. Saya percaya dan sangat yakin, hanya memerlukan waktu 20 tahun, revolusi pendidikan yang berkeadilan dapat terwujud di negeri Ibu Pertiwi ini.

Tulisan ini saya tutup dengan sebuah kalimat bijak, yaitu “Bila kamu terlahir bukan anak seorang raja, itu tidak jadi masalah karena kamu dapat menjadi raja dengan menulis. Oleh karena itu, menulislah dalam keabadian”.

Frankfurt, 23 Mei 2017

Hormat saya,

Irsyad Al Ghifari

Duta Institut Pertanian Bogor 2016-2017