Ahmad Fikri merupakan alumni Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung angkatan 3. Ia lulus program Master Hukum dari Universitas Melbourne, Australia dengan beasiswa Australia Awards. Sebelumnya, Fikri meraih gelar sarjana dari Fakultas Hukum Universitas Padjajaran.

Kerap memenangkan kompetisi Moot Court semenjak mahasiswa, Fikri kini tergabung sebagai Associate di Assegaf Hamzah & Partners (AHP), Rajah & Tann Asia sejak 2012. Ia berfokus pada praktik perbankan syariah dan keuangan, juga perusahaan umum. Selain itu, Fikri memiliki ketertarikan khusus pada proyek-proyek REDD+ dan bekerja pada program investasi hijau yang diinisiasi oleh Departemen Pembangunan Internasional United Kingdom dan Kementerian Keuangan (2009-2010). Ia bertanggungjawab dalam menganalisis kerangka peraturan dan menyusun peraturan pemerintah serta keputusan menteri. Ia pun ambil bagian dalam persiapan struktur dan strategi investasi proyek.

Selanjutnya, pria kelahiran Jakarta ini juga memberikan jasa transaksi dan konsultasi di berbagai transaksi keuangan termasuk perusahaan telekomunikasi pada tahun 2014 yang bernama “M&A Deal of the Year” setelah sebelumnya bekerja di DNC Advocates at Work (sekarang AYMP Atelier at Law).

Menurut Fikri, hal yang paling berkesan dalam memperoleh pembinaan Rumah Kepemimpinan adalah ajaran Ustadz Musholli mengenai keseimbangan dua unsur yaitu antara kauniyah dan qauliyah. Jangan hanya beribadah qauliyah, ibadah kauniyah juga perlu. Jangan hanya kauniyah, qauliyah juga perlu. Ia menyebut perumpamaan ketika memasuki dunia pascakampus ibarat seorang petinju yang sesekali perlu menepi ke sudut ring untuk mengembalikan tenaga, introspeksi, dan mengatur strategi seperti Rumah Kepemimpinan yang merupakan tempat kembali untuk mencapai keseimbangan tersebut.

Pria yang memiliki moto “Jujur pada Diri Sendiri” ini kedepannya, ingin membuka law firm pribadi agar lebih bebas dalam membangun opini hukum dan mengatur waktu. Selain itu, ia juga berencana melanjutkan studi mengenai hedging (lindung nilai) yaitu instrumen keuangan yang variasinya belum banyak dieksplorasi di Indonesia tetapi dibutuhkan untuk kestabilan perekonomian. Semua rencana tersebut akan ia lakukan berdasar prinsip ASAP (as soon as possible), yaitu konsisten melakukan satu hal yang mengarah pada implementasi rencana tersebut agar tidak pudar di tengah jalan.