Fauzan Zidni merupakan alumni Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta angkatan 2. Ia lulus program master dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore dan sebelumnya meraih gelar sarjana dari jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Berprofesi sebagai produser, banyak capaian yang telah ia raih.

Pada tahun 2012, Zidni memproduseri film Republik Twitter besutan sutradara Kuntz Agus yang dibintangi oleh Laura Basuki dan Abimana Aryasatya. Selain itu, Ia juga menjadi produser film Peculiar Vacation and Other Illnesses (Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya) yang diputar dalam ajang kompetisi Festival Film Internasional Locarno ke-65 di Swiss.

Zidni kemudian bertemu dengan sutradara Mouly Surya dan produser Rama Adi dalam Film Festival di Cannes dan bersama-sama menggarap film What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Film tersebut terpilih dalam Festival Film Sundance di Utah, Amerika Serikat, pada tahun 2013. Penghargaan film terbaik Asia NETPAC pun diraih pada Festival Film Internasional Rotterdam di tahun yang sama dan memenangkan kategori musik terbaik pada Festival Film Asia Pasifik.

Proyek terbaru Zidni adalah film Interchange, sebuah produksi Indonesia-Malaysia karya sutradara Dain Said dengan bintang Nicholas Saputra dan Prisia Nasution. Film ini sudah diputar perdana dalam Festival Film Internasional Locarno di hadapan 8000 penonton, salah satu bioskop dengan ruangan terbuka terbesar di dunia. Film tersebut juga masuk seleksi Festival Film Internasional Toronto dan membuka Festival Film Internasional Singapura.

Kini, ia tengah mempersiapkan film terbaru bersama Mouly Surya berjudul Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Melalui mitra dengan produser asal Prancis, film tersebut berhasil mendapatkan subsidi Aide aux cinemas du monde dari Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan dan Kementerian Luar Negeri Prancis. Marlina berpartisipasi dalam Asian Project Market di Festival Film Busan 2015 dan Cinefondation L’Atelier di Festival Film Cannes. Proyek ini juga terpilih sebagai salah satu penerima Next Masters Support Program dalam ajang Talents Tokyo 2015 .

Di Rumah Kepemimpinan, Zidni memperoleh jejaring orang-orang terpilih dan kompetitif di bidang masing-masing. Ia juga mengingat betul nasihat Direktur RK, ‘Abach’, begitu sapaan akrabnya, bahwa alumni RK harus menempati posisi-posisi strategis seperti di asosiasi-asosiasi profesi. Ia kini dipercaya sebagai Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) periode 2016-2019. Adapun moto organisasi tersebut ialah bekerja bersama berkontribusi yang mana tiga nilai tersebut banyak ia dapatkan dari Rumah Kepemimpinan. Baginya, film telah menjadi bagian dari hidupannya. Terlebih, dunia film memberinya wadah untuk berkarya dan membuat sesuatu yang belum pernah dibuat oleh orang lain.