“Saya ingin menjadi simpul bagi semua benang tanpa harus membedakan warna dan bentuk”

Dasril Guntara ialah seorang individual consultant di bidang social development. Ia kerap menangani proyek terkait monitoring dan evaluasi (monev) serta program sosial baik berskala lokal maupun internasional yang memiliki dampak masif bagi masyarakat. Ia tergabung dalam Asosiasi Praktisi Monev atau Indonesian Development Evaluation Community (INDEC). Sejak tahun 2008 sebelum lulus kuliah, ia sudah terlibat dalam dunia riset seperti di Pulau Miangas, Manado, Sulawesi dan Papua. Lelaki pecinta riset ini baru saja menyelesaikan proyek bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Daerah Kabupaten Krayan, Kalimantan Utara untuk melakukan kajian akademik rencana pemekaran.

Kini, ia tengah menjalankan empat proyek penelitian; 1. Bersama Wafa Foundation (NGO internasional) mengenai capasity gap assesment terhadap lembaga pendidikan dan NGO di tiga kota di Indonesia (Jakarta, Yogyakarta dan Bandung) 2. Bersama LPDP mengaji manajemen alumni 3. Bersama BPN (Badan Pertanahan Nasional) mengenai peraturan pemerintah terkait redistribusi tanah yang merupakan bagian dari reforma agraria, Dasril sebagai tenaga ahli di bidang sosial 4. Bersama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) yaitu memfasilitasi desa broadband (desa berbasis informasi teknologi) di tujuh provinsi 3T untuk memberdayakan masyarakat dan memberi akses terhadap informasi luar untuk akses industrinya.

Sejak lulus kuliah tergabung dalam Lembaga Kemitraan Pembangunan Sosial (LKPS). Di sini ia belajar untuk bekerjasama dengan beberapa NGO internasional dan belajar mengenai pola-pola manajemen proyek. Lambat laun Dasril tak hanya mengerjakan penelitian, ia mulai mengerjakan manajemen proyek hingga terlibat dengan banyak proyek berskala lokal dan internasional. Berbagai pengalaman yang diperoleh membuatnya memutuskan untuk mengambil S2 di bidang perencanan dan evaluasi program-program sosial. Dasril “menjual” kemampuan monitoring dan evaluasi sebagai salah satu framework yang digunakan dalam proyek PBB maupun bank dunia untuk mengukur pencapaian suatu program.

Pengalaman yang sangat berkesan baginya ialah ketika bisa masuk ke lingkungan yang benar-benar berbeda dengan kesehariannya yaitu saat bekerjasama dengan NGO internasional World Vision berbasis gereja. Dasril banyak belajar dari NGO ini tentang bagaimana cara mereka mengkader, membangun menejemen hingga menjadi besar. Sesuatu yang jauh sekali jika  dibandingkan dengan lembaga zakat di Indonesia misalnya. Pada tahun 2010, Ia juga pernah bergabung dengan UMCOR (United Methodist Committee On Relief) yang juga termasuk lembaga gereja. Di sana Ia menjalankan program rekonstruksi pascasunami Aceh yaitu sanitasi, income tentation, dan pendidikan. Dalam kerja-kerjanya tersebut, tak jarang ia bersinggungan dengan atribut-atribut agama lain.

Kini, Ia tengah  membuat sebuah lembaga bersama Dosen Vokasi UI dan Dosen Universitas Melbourne yaitu Center for Policy and Social Development Studies atau biasa disebut sinkronik yang menginginkan adanya riset kolaboratif yang hidup, sesuatu yang di luar negeri sudah sangat biasa sedangkan di Indonesia masih kental dengan ego sektoral atau disiplin ilmu.

Persinggungannya dengan Rumah Kepemimpinan, membuatnya belajar “bagaimana kita bersama teman-teman mencari titik temu melalui pengasramaan untuk proses ideologisasi yang sesungguhnya”. Membentuk rasa komunitas adalah pengalaman yang paling mengesankan. Bagaimana membangun konsep trust dan respect adalah hal yang paling berkesan ketika di Rumah Kepemimpinan dan sangat aplikatif sehingga bisa adaptif dengan berbagai lingkungan.