Mungkin ini adalah sebuah tulisan yang mewakili perasaan dan harapan rakyat kecil pada umumnya. Hari ini saya menyelesaikan untuk menyaksikan sebuah film documenter perjuangan masyarakat Kendeng dalam melawan pembangunan pabrik semen di daerah mereka. Seketika itu juga saya ingat akan pernyataan Gubernur Jawa Tengah beberapa hari lalu yang tetap memberikan ijin bahwa pembangunan pabrik semen akan terus lanjut. Karena yang dipermasalahkan adalah terkait ijin lingkungan. Mengingat sebelumnya pengadilan mengabulkan gugatan masyarakat menolak pembangunan pabrik, tentunya apa yang dilakukan sang Gubernur  akan sangat menyakiti perasaan rakyatnya. Dalih peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan pembangunan industri adalah hal yang selalu mengemuka.

Adalah benar adanya jika indeks kemajuan suatu negara saat ini salah satunya dilihat dari pembangunan industrinya. Dengan adanya industry dalam negeri diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mampu melakukan impor sehingga akan akan meningkatkan GNP (Gross National Product). Namun perlu dikaji kembali dengan pemikiran yang objektif dan rasional, bahwa pembangunan pabrik semen di Kendeng adalah suatu hal yang terkesan dipaksakan dan melupakan aspek sosio cultural yang ada. Masyarakat sekitar pegunungan Kendeng sebagian besar adalah masyarakat Samin. Mereka memegang teguh ajaran nenek moyang mereka, termasuk dengan cara bertahan hidup. Bertani adalah satu-satunya cara yang diajarkan nenek moyang mereka untuk bertahan hidup dan tidak boleh ada pekerjaan lain selain itu. Perlu untuk diketahui juga bahwa daerah sekitar pegunungan kendeng adalah daerah yang subur dan menyimpan potensi air melimpah yang dihasilkan dari kawasan karst, sehingga pembangunan pabrik bukan hanya akan mengganggu wilayah ekologis saja namun juga keberadaan masyarakat sekitarnya.

Adalah salah pula jika menganggap masyarakat petani peegunungan Kendeng adalah masyarakat miskin yang perlu dibantu kesejahteraan ekonominya. Apalagi menganggap bahwa penolakan terhadap pembangunan pabrik yang dilakukan oleh masyarakat adalah semata eksistensi budaya dan tidak ada sumber hukumnya. Lebih dari itu, masyarakat Kendeng menghendaki kehidupan yang sejahtera dengan cara-cara yang sederhana pula. Bertani adalah tugas mulia untuk memberikan kehidupan bagi seluruh rakyat. Maka sudah seharusnya kita perlu berterimaksih terhadap para petani atas jasanya. Bukan malah menindas mereka dengan meminta lahannya, dan menganggap mereka semua miskin sehingga perlu ada alih profesi ke sector industry. Mungkin terdapat pula pertanyaan yang menggelitik, “bukankah untuk pemerataan pembangunan diperlukan semen untuk membangun infrastruktur ?”. jawabnya adalah “ya”. Tapi, bukankah kebutuhan utama manusia adalah makan untuk tetap terus melanjutkan pembangunan pula ?

Belajar dari Aksi Masyarakat Kendeng.

Masyarakat pegunungan Kendeng yang merasa terancam dengan pembangunan pabrik semen tidak tinggal diam dalam menunut keadilan. Masyarakat terus melakukan aksi dan melawan ketidakadilan. Mungkin masyarakat menganggap bahwa pemerintah sudah tidak amanah lagi terjadap janji membangun kesejahteraan rakyat. Buktinya pemerintah membiarkan pembangunan pabrik yang jelas-jelas tidak pro rakyat dan melawan putusan pengadilan. Namun biarlah ketidakadilan itu datang yang penting kita terus melawan. Mungkin demikianlah perasaan masyarakat Kendeng yang terus melakukan perlawan melalui aksi-aksi yang dilakukan.

Menarik memang jika melihat aksi yang dilakukan oleh masyarakat. Demonstrasi dengan orasi-orasi membara, berkemah setiap hari di depan pintu masuk pabrik, hingga aksi di depan istana dilanjutkan dengan aksi menyemen kaki. Menariknya adalah dari sejumlah aksi yang terjadi, semuanya dilakukan oleh perempuan. Bukan bermaksud melanggengkan budaya patriarkis ditengah ketidakadilan, melainkan menampilkan sisi humanis dari aksi penolakan. Filosofi cantik yang ditampilkan oleh masyarakat Kendeng adalah bahwa alam dan pertanian bagaikan ibu yang memberikan kehidupan bagi anak-anaknya melalui kemurahan hati dan kasih sayangnya. Sehingga aksi penolakan dominan dilakukan oleh perempuan. Apakah efektif dengan cara demikian ?. Buktinya pemerintah tetap tidak menghentikan pembangunan. Namun setidaknya aksi demikian memperoleh simpati public atau mungkin diketahui pemerintah secara tidak sengaja.

Namun aksi yang dilakukan tidak hanya menunjukkan aksi humanis dari perempuan. Melainkan juga sebuah teguran bagi kaum terpelajar untuk menciptakan suatu kondisi sejahtera dan penuh dengan kedamaian. Perjuangan masyarakat Kendeng tidak boleh dimakanai sebatas keegoisan mereka mempertahankan sumber ekonomiannya. Kondisi masyarakat kelas bawah yang penuh dengan tekanan, dan eksploitasi penguasa juga tidak lepas dari  kesalahan para kaum terpelajar, khususnya adalah lembaga pendidikan. Bukankah para penguasa yang saat ini menikmati kursi negara dihasilkan dari lembaga-lembaga pendidikan. Lalu apa fungsi pendidikan jika hanya hanya mengajarkan untuk memintarkan diri sendiri, tanpa mau melihat kebodohan masyarakat sekitarnya. Jika demikian adanya fungsi pendidikan adalah hanya untuk mereproduksi kesenjangan yang nyata. Selalu akan tercipta yang dieksploitasi dan yang mengeksploitasi.

Sudah seharusnya sebuah proses pendidikan harus menekankan pada proses penyadaran. Sadar untuk apa dia berpendidikan dan sadar akan tanggung jawab sebagai kaum terdidik. Bukan malah abai dengan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, apalagi bekerja sama dengan para penjajah demi untuk memperkaya diri sendiri. Proses pendidikan juga seharusnya menekankan pada aksi sosial yang berpihak terhadap kepentingan rakyat, sehingga melahirkan sebuah kebermanfaatan yang nyata demi tercapainya kesejahteraan dan kedamaian.