Oleh: Muhamad Fathan Mubin

Dimulai dari perjumpaan saya dengan Adi dan Nuni, dua orang hebat dari Banten Selatan yang dengan perjuangannya dapat melanjutkan pendidikan di kampus besar bernama Institut Pertanian Bogor. Adi dan Nuni adalah alumni dari dua sekolah yang dikunjungi dalam rangkaian acara GBM Menginspirasi. GBM (Gerakan Banten Mendunia) adalah gerakan pendidikan yang diinisiasikan oleh saya dan kawan-kawan di Banten untuk mengajak anak-anak dan remaja di Banten supaya melek pendidikan dan kelak bisa menduniakan Banten lewat pendidikan. GBM Menginspirasi adalah gerakan sosialisasi urgensi pendidikan dan berkuliah kepada siswa-siswa di beberapa SMA di Banten yang sekiranya masih minim akses informasi perihal tersebut.

Ada banyak kisah menarik selama GBM Menginspirasi. Mulai dari banyak siswa yang tidak tahu kepanjangan dari PTN, tidak paham bedanya SNMPTN dan SBMPTN, sampai tidak tahu kalau ada kampus yang namanya UI, UGM, atau ITB, padahal mereka sudah kelas dua belas SMA. Bisa jadi pembaca mengatakan ini keterlaluan, tapi sebetulnya kewajaran. Sebab, terlalu timpang kompetensi dan kompetisi yang ada di dalam lingkungan pengajaran di sekolah-sekolah tersebut.

Kembali pada kisah Adi dan Nuni. Ada rasa haru dan bangga saya kepada mereka berdua. Apalagi, Adi, merupakan satu-satunya siswa dari sekolahnya yang bisa melanjutkan kuliah di PTN di luar Banten, begitu juga dengan Nuni. Betapa istimewa mereka berdua. Dua orang terbaik dari daerahnya di Lebak Banten sana. Di pertemuan kami kemarin, saya coba yakinkan, bahwa mereka begitu spesial. Ketika anak kota bisa dengan mudah masuk kampus besar, kalian berdua harus berjuang lebih keras untuk mencapai itu, kalian lebih berkompeten, sebab masalah dan tantangan kalian lebih besar. Apalagi anggapan orang-orang di daerah yang tidak menjadikan menuntut ilmu atau berkuliah sebagai tren sosial di sana.

Adi, siapa sangka, ketika pulang ke desa sering dipanggil kepala desa untuk turut mengembangkan Taman Baca Masyarakat di desanya, peran yang tidak semua orang bisa memilikinya. Nuni pun punya peran yang sama. Kehadiran mereka di kampung sangat dinantikan, dianggap ahli dan kontribusinya dihargai.

Adi dan Nuni membawa harapan kolektif masyarakat, bukan sebatas hasrat pribadi untuk diri sendiri ketika berkuliah. Mereka pun berbagi dengan adik-adik lainnya meningkatkan harkat dan martabat saudara-saudaranya di desa sana lewat kisah manisnya menuntut ilmu. Ke depannya saya yakin akan lebih banyak Adi dan Nuni baru yang bisa membanggakan daerahnya karena bisa melewati tantangan untuk dapat berkuliah di tempat yang baik dan menjadi inspirasi serta solusi untuk sekitar.