Oleh: Diah Retno Yuniarni

“ Riset merupakan tombak pembangunan nasional suatu bangsa “- Mohammad Nasir, Menristek RI 2016

Bicara tentang riset Indonesia sekarang, kita memiliki potensi besar untuk menaikan kualitas ekonomi bangsa ini. Terjadinya pengaruh ekonomi dan riset yang searah menimbulkan paradigm berfikir Techno-Economy Paradigm  yang digagas oleh Carlota Perez. Teknologi menjadi factor penting suatu bangsa dalam meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat nya. Dalam era ini dibutuhkan Knowledge Based Economy  dalam menunjang individu yang berwawasan ekonomi dan riset. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Menristek RI 2016, Mohammad Nasir. Menurut Carlota Perez, kekuatan bangsa dapat diukur dari kemampuannya mengembangkan iptek sebagai faktor primer ekonomi dalam hal menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing.

Lalu bagaimana kah kondisi pengembangan riset dan teknologi yang ada di negeri ini ?

Menurut sebuah portal yang menghitung data penelitian berdasaarkan publikasi ilmiah yang terekam di basis data Scopus yaitu Scimago, pada tahun 2014 Indonesia berada diposisi ke-57 jumlah publikasi nya di dunia. Jumlah yang masih cukup jauh disbanding negara-negara lain di dunia dalam kontribusi nya menyumbangkan ilmu pengetahuan.

Selain minimnya kontribusi, Indonesia memiliki factor Internal seperti kurangnya anggaran riset yang diberikan pemerintah pusat. Jumlah anggaran riset yang dianggarkan APBN tahun ini sebanyak 0,08 %. Angka ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan negara sebelah, yaitu Singapore yang memiliki anggaran riset >1 %. Hal ini membuktikan bahwa pengembangan riset dan teknologi masih belum jadi prioritas Indonesia.

Peneliti di Indonesia yang tersebar diberbagai daerah masih belum sesuai dengan yang ditargetkan pemerintah, yaitu sebesar 200 ribu peneliti tiap tahun nya. Faktanya, Indonesia hanya memiliki 3000 peneliti sekarang. Peneliti-peneliti masih belum tersebar di Universitas, pusat penelitian negeri, dan badan-badan pengkaji ilmu pengetahuan.

Masih banyak fakta pendukung kondisi riset Indonesia yang cukup diujung tanduk. Seperti, kurangnya pengkaderisasian ilmuan dengan baik dan layak, tingkat apresiasi penelitian, tidak focus pada penelitian, masih terlalu mengembangkan yang aplikatif, kualitas penelitian yang dihasilkan masih jauh dengan peringkat ke-58 didunia, dan lain-lain

Bagaimanakah kita sebagai mahasiswa atau pemuda menyikapinya ?

  1. Pemuda Indonesia harus mempunyai mindset berifkir yang logis dan solutif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Misal muunculnya Isu anggaran riset yang minim di kampus, maka kita harus menganalisis dengan cermat jangan sampai membuat pihak-pihak lain dirugikan atas kabar burung yang beredar.
  2. Memiliki semangat tinggi dalam mengajak pemuda lain mengembangkan penelitian di Indonesia. Penelitian yang dimaksud tersebar luas dalam segala aspek yaitu sains, kesehatan, teknologi, sosial humaniora, agama, budaya, dan lain-lain. Dengan begitu beraneka ragam nya riset akan semakin terwarnai.
  3. Membantu stake holder mengembangkan sistem riset dan teknologi yang baik dan benar di Indonesia. Jangan sekedar mengkritik, namun memberikan solusi pengganti terhadap sistem yang besar.
  4. Memiliki semangat dan mimpi besar mengembalikan peradaban yang kaya akan pengetahuan oleh para leluhur
  5. Belajar dengan sungguh-sungguh

Bagi saya, mengembangkan riset dan teknologi di Indonesia seharusnya menjadi mimpi besar orang-orang yang mau menerjunkan dirinya untuk pengabdian masyarakat. Seperti halnya saat itu peradaban Islam menjadi pusat peradaban di dunia, kini saatnya Indonesia menjadi pusat peradaban didunia pula. Dengan begitu, semakin besar kita menjadi orang-orang yang bermanfaat karena tersebarnya perkembangan riset bagi yang membutuhkan di Indonesia maupun dunia.