Kesuksesan Film Uang Panai Maha(r)L yang menembus Box Office Nasional
merupakan sebuah kebanggan bagi Masyarakat Kota Makassar khusususnya bagi sineas
penggiat seni perfilman Kota Daeng. Film ini mengangkat keresahan dan kritik sosial akan
realitas sosial-budaya bugis-makassar yang berkembang di Masyarakat. Film ini diharapkan
mampu menjadi wadah inspiratif dan edukatif dalam refleksi akan substansi sebuah budaya,
yakni Uang Panai yang seyogyanya merupakan Mahar namun ternyata sungguh sangat
Mahal.

 

Uang Panai atau Appanai dikenal dalam adat bugis-makassar sebagai simbolik uang
belanja yang diberikan kepada keluarga wanita oleh calon mempelai pria dengan nominal
yang telah ditetapkan ketika melakukan Lamaran. Pada umumnya, Nominal Uang Panai ini
berbanding lurus dengan Tingkat pendidikan yang telah ditempuh oleh wanita. Bahkan ada
beberapa kritik sosial yang disampaikan dalam Film Uang Panai Maha(r)L yakni adanya
paket tambahan seperti Jika seorang wanita merupakan keturunan bangsawan atau berasal
dari tingkat strata sosial tinggi ( karaen g, andi, puang) maka Uang Panai juga akan
memperoleh penambahan nominal yang bisa saja berlipat ganda.

 
Fenomena uang panai mahal telah dijumpai di beberapa kisah seperti kisah Risna
yang menjadi viral di dunia maya. Pasalnya, ia harus menangis tersedu-sedu dipernikahan
Pacarnya, Rais yang telah melalui fase pacaran selama tujuh tahun, namun ternyata kandas
untuk melanjutkan hubungan di tingkat yang lebih serius karena uang panai. Begitupun kisah
Kani di Pangkep yang harus ditikam sebelum pernikahan oleh saudara mempelai wanita
karena dianggap telah berani melanggar adat dengan menikahi saudaranya dengan panai’
yang kurang dari jumlah kesepakatan. Berbagai kisah unik nan tragis lainnya tentang uang
panai mahal menjadi seakan momok yang kita jumpai di tanah bugis-makassar.

 
Kesalahan memahami substansi uang panai akhirnya berdampak dengan hadirnya
realitas sosial masyarakat yang menunjukkan kecenderungan bahwa uang panai’ seakan
menjadi ajang gengsi, pamer strata sosial, dan pamer kekayaan. Hal inipun dicurigai sebagai
sebagai salah satu alasan untuk muda-mudi yang dimabuk asmara untuk melakukan
hubungan di luar nikah bahkan melakukan “ Silariang” (kawin lari) karena pihak pria yang
tidak mampu menyanggupi panai yang ditetapkan sehingga nekat mengambil jalan pintas
demi mempersatukan cinta mereka dengan kawin lari dan berbagai penyimpangan atas nilai
dan norma di masyarakat. Ini merupakan bagian dari lifestyle hubungan tanpa komitmen yang
berkembang di kalangan remaja.

 

Kapasitas Sosial dan Ekonomi
Jika menganalisis lebih lanjut, budaya uang panai ini tentu tidak hanya memiliki efek
negatif namun kaya akan substansi positif yang terkandung di dalamnya. Pada dasarnya,
Uang panai’ memberikan penekanan khusus bahwa sebelum menikah seseorang Pria telah
harus mampu memiliki kapasitas sosial dengan dibuktikannya melalui kesigapan saat
diplomasi dalam melamar dan kapasitas ekonomi yang dibuktikan melalui kesanggupan
memenuhi uang panai yang telah disepakati saat prosesi lamaran. Hal ini jika kita telaah
sejalan dengan apa yang kita pelajari dalam sirah Rasulullah Muhammad SAW.

 
Rasulullah SAW yang menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun telah mampu
membangun kapasitas sosial yang luar biasa di tengah masyarakat dengan gelarnya sebagai
“Al-Amin”. Ini merupakan penghargaan sosial tertinggi di tengah masyarakat karena menjadi
orang yang terpercaya. Kapasitas Ekonomi yang mendukung juga dibuktikan Rasulullah
dengan maharnya 20 ekor sapi betina yang jika dikonversi setara dengan nilai lebih dari dua
ratus juta rupiah disaat ini.

 
Kapasitas sosial dan ekonomi menjadi hal yang sangat penting disaat kita dihadapkan
oleh tingginya angka perceraian di Indonesia. Kementerian Agama mencatat bahwa dari 2
juta pernikahan setiap tahunnya, ada 200 ribuan kasus perceraian yang juga terjadi di tahun
tersebut. Dua faktor utama yang menjadi alasan penikahan harus kandas dari perceraian ialah
masalah keuangan dan masalah komunikasi yang tidak mampu terbangun dalam bingkai
keluarga sakinah mawaddah warahmah. Kedua faktor tersebut tentu berhubungan langsung
dengan kapasitas sosial dan ekonomi yang dimiliki kedua mempelai yang ternyata tidak
teruji.

 
Tingginya angka perceraian di Indonesia jika dianalisis lebih lanjut di Sulawesi
Selatan, maka kita menemukan angka yang tidak demikian. Indeks kebahagiaan masyarakat
mencatatkan angka yang baik dengan salah faktor utama yakni ketentraman dalam rumah
tangga yang baik. Hal ini juga semakin menguatkan bahwa kearifan lokal dengan budaya
uang panai ternyata telah menghadirkan track record dalam terbangunnya keluarga yang
harmonis dengan landasan kapasitas sosial dan ekonomi yang hadir di dalamnya. Selain
tentunya kecerdasan emosional dan spiritual yang juga menjadi elemen penting di dalamnya.

 

Tanpa melupakan sabda Rasulullah saw bahwa “Wanita yang baik adalah wanita yang
paling rendah maharnya dan pernikahan yang paling baik menurut agama adalah pernikahan
yang paling sedikit biayanya” (HR Ahmad), Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits dengan
sanad dari Abdullah bin Mas’ud r.a bahwa Rasulullah saw bersabda “Wahai Para Pemuda,
Barangsiapa di antara kamu telah memiliki kemampuan untuk menikah, menikahlah karena
menikah dapat meredam maksiat mata dan menjaga kemaluan, tapi bagi orang yang belum
mampu untuk menikah, berpuasalah karena puasa dapat menjadi benteng nafsunya”.

 

Hadits tersebut secara jelas menunjukkan frasa “kemampuan untuk menikah”.
Sehingga sekali lagi kapasitas sebelum menikah merupakan hal yang sangat penting, karena
sesungguhnya penikahan merupakan sebuah proses dalam membangun keluarga islami yang
akan menghadirkan potensi besar dalam membangkitkan kembali peradaban islam.

 

Konteks Masyarakat Modern
Sisi Positif dari Budaya Uang Panai’ ini jika dibenturkan dengan Konteks Masyarakat
Modern yang mengungkap realitas silariang (kawin lari) dan lifestyle hubungan tanpa
komitmen anak muda yang semakin marak, sesungguhnya merupakan sebuah penyimpangan
besar dari perspektif masalah. Contoh kasus seperti pacaran yang telah bertahun-tahun namun
kandas karena uang panai merupakan bagian dari tidak hadirnya mekanisme kontrol sosial
yang harus dilakukan oleh keluarga khususnya orang tua dalam mencegah pacaran tersebut
yang merupakan bagian dari lifestyle hubungan tanpa komitmen yang saat ini marak terjadi.

 

Mekanisme yang hadir dalam pembahasan uang panai’ sebenarnya menunjukkan
peran besar dari Keluarga khususnya orang tua dalam menjaga bahkan menentukan masa
depan anaknya. Hal tersebut tentunya harus dilakukan sejak dini sehingga penyimpangan
seperti silariang dan lifestyle hubungan tanpa komitmen tidak terjadi. Hubungan emosional
dan terbangunnya komunikasi dalam keluarga merupakan hal yang sangat penting dalam
menghadirkan pola kontrol yang berkelanjutan antara orang tua dan anaknya. Termasuk
ketika seorang anak telah memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis dan memiliki komitmen
untuk melanjutkan ke level yang lebih serius, disinilah peran penting komunikasi terbangun
antara orang tua dan anaknya. Arti dari sebuah penghormatan dan harga diri yang selalu
dijunjung akan tidak bernilai sama sekali ketika kehormatan dan harga diri sesungguhnya
telah ternodai dengan lifestyle hubungan tanpa komitmen yang berkembang.
Orang tua yang terkadang dipandang sebagai pihak konservatif sesungguhnya
memiliki peranan penting dengan terus melakukan peningkatan pola perhatian dan
komunikasi kepada anaknya. Terlebih lagi dengan tuntutan zaman yang semakin
materialistik, harus disikapi dengan bijaksana sehingga uang panai tidak hanya dilihat dari
segi material semata. Uang Panai yang dipandang sebagai ajang gengsi, pamer strata sosial,
dan pamer kekayaan sesungguhnya merupakan sebuah kesalahan dalam memahami substansi
budaya. Substansi dari uang panai selain perwujudan pembuktian kapasitas sosial dan
ekonomi sesungguhnya memiliki substansi utama yakni tujuan pernikahan itu sendiri.
Terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

 

Oleh karena itu sebagai orang tua, mari kita memahami substansi dan keutuhan
budaya sebagai manifestasi dari kearifan lokal yang harus terus dilestarikan untuk menjaga
dan menghargai identitas bangsa. Selanjutnya pola komunikasi yang intensif antara orang tua
dan anaknya merupakan jawaban dari permasalahan yang saat ini terus berkembang terkait
lifestylile hubungan tanpa komitmen yakni pacaran bahkan silariang. Sebagai seorang anak,
Rasulullah saw juga telah menjelaskan bahwa “Amal yang paling dicintai Allah adalah Solat
pada waktunya, berbuat baik kepada orang tua, dan jihad fi Sabililah” (HR. Bukhari) .

 

-Ahmad Akbar

 

www.rumahkepemimpinan.org