Rabu, 14 September 2016, peserta Rumah Kepemimpinan mengikuti agenda Dialog Tokoh, yang merupakan agenda bulanan bagi peserta Rumah Kepemimpinan di semua regional, termasuk Surabaya. Kegiatan Dialog Tokoh kali ini menjadikan Bapak Joni Hermana, Rektor ITS Surabaya sebagai pembicara. Kegiatan ini berlangsung di rumah dinas Rektor ITS, di perumahan dinas ITS Blok R nomor pukul 19.30- 21.30 WIB. Dialog ini dihadiri 34 peserta Rumah Kepemimpinan (RK) regional Surabaya angkatan 8, 2 eksekutif regional, serta Prof. Joni sebagai tuan rumah sekaligus pembicara.

Dialog Tokoh kali ini mengusung tema “Kepemimpinan : Mengelola Perbedaan”, yang dipimpin oleh Berryl, peserta Rumah Kemepimpinan yang juga merupakan mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi ITS 2015.

Banyak sekali poin yang dipaparkan oleh Pak Joni dalam dialog tokoh ini, dalam pembukaannya beliau mengatakan, “Setiap orang pasti menjadi pemimpin, minimal pemimpin rumah tangga”. Pemimpin rumah tangga disebut juga seorang pemimpin karena menurut beliau banyak diluar sana seorang pemimpin rumah tangga yang masih belum bisa menjadi pimpinan, contohnya masih belum bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bahwa pemimpin itu tidak memandang skala. Beliau sangat yakin bahwa peserta Rumah Kepemimpinan ini pasti akan menjadi pemimpin, dengan melihat bahwa para peserta adalah orang-orang pilihan dari kampus ternama dan seleksi yang ketat.

dt-prof-joni

Tentang bagaimana cara mengelola perbedaan, dalam tataran birokrasi yang pasti ada perbedaan disana, menurut beliau tinggal kita memutuskan bagaimana kita berprinsip. Pesan beliau, “jadilah orang yang berprinsip jangan mudah diombang ambingkan”. Beliau memberikan contoh dengan sebuah cerita tentang sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang menuntun seekor keledai. Dari kasus itu terlihat bahwa dua orang tersebut belum punya prinsip mereka masih terombang ambing ketika mendapat saran atau masukan dari orang yang memgomentari mereka. Dari cerita tersebut, nilai yang diharapkan ada pada setiap calon pemimpin adalah bahwa kita harus berprinsip dan berpegang teguh pada prinsip itu.

Sesekali beliau memberikan candaan yang membuat suasana dialog semakin hidup. Antusiasme peserta begitu tinggi, hingga jadwal yang sebelumnya harus berakhir pada pukul 21.00, lewat sampai pukul 21.30 karena banyaknya peserta yang bertanya, menggali inspirasi dari Prof. Joni.

Dalam kesempatan itu, beliau juga mengungkapkan bahwa kita sebagai serorang manusia hendaknya tidak mudah kagum, terutama jika yang kita kangumi masih hidup. “Jika masih hidup maka dia belum finish atau selesai, bisa jadi sekarang dia mendapat jabatan yang hebat kemana-mana dikawal tapi itu hanya sementara dan Allah masih menutup aibnya yang lain, jadi jangan mudah kagum”, tegas beliau. Beliau berpesan, “Kangumlah kepada orang yang baik serta berhasil atas capainnya dan beliau sudah meninggal karena beliau sudah finish, tidak ada lagi kemungkinan yang akan terjadi”.

Banyak hal yang didapatkan peserta dalam dialog singkat malam itu. Harapannya ini menjadi pemantik bagi peserta Rumah Kepmimpinan Surabaya, untuk senantiasa belajar dan berkarya serta memberikan yang terbaik untuk sekitar. Mengingat juga pesan Prof. Joni, bahwa prinsip yang diajarkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat adalah GIVE and GIVE, memberi dan terus memberi. Sedangkan kita mendapatkan segalanya (take) bukanlah dari manusia, melainkan dari Allah Subhanahu Wata’ala.