Kegiatan Diskusi pergerakan dengan tema bedah buku “Semangat zaman dan Intelektualitas kita” di laksanakan di JX International pada event Surabaya Islamic Fair. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 September 2016 pukul 19.00-21.00 WIB. Diskusi ini dihadiri sekitar 100 orang dengan presentase terbanyak adalah kaum muda dan mudi. Diskusi yang dipandu oleh Bang Jilul (salah seorang Aktivis pemuda Surabaya) ini, menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya adalah Bang Arief ( Owner Pustaka Saga), Kang Agung ( Ketua KAMMI Jatim), Kang Irwan ( Anggota DPRD Surabaya), dan Cak Fuad ( Sekretaris IMM, Pemuda Pelopor Surabaya).  Diskusi ini dilatarbelakangi fenomena literasi dikalangan masyarakat Indonesia khususnya para aktivis dan pemuda yang kurang, padahal di era ini sudah banyak media ataupun sarana yang mendukung aktivitas ini.

851517823_1618_13468983873930985287

Minimnya budaya literasi para pemuda ini menyebabkan rendahnya kualitas diri pemuda. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Cak Fuad, “Membaca terutama bagi para pemuda dan aktivis itu penting kalau ngga baca sudah dapat dipastikan dia ngga bisa ngapa-ngapain”. Menurutnya minat literasi terhadap buku berkurang karena telah terjadi pergeseran zaman yang dialihkan kepada minat baca yang lain seperti status bbm (blackberry Messanger-red) dan media sosial lainnya. Hal ini mendukung pernyataan Kang irwan bahwasanya,  Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia padahal jumlah perpustakaan Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan negara lainnya. Menurut kang Agung, pergeseran kearah era digital ini pun cenderung mengarah ke akses berita lewat gadget. Kondisi ini dapat dioptimalkan dengan mengadakan bebrapa portal diskusi online. Portal ini menurutnya dapat dijadikan sebagai pemantik budaya literasi dan langkah awal untuk memulai menyukai literasi berbentuk buku. “Tentunya kita juga harus memilih portal yang berbobot juga”, ungkap ketua KAMMI Jawa Timur ini.

Diskusi ini ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh Bang Arief. Menurutnya sebelum kita turun ke masyarakat ada tahapan-tahapan yang harus dilalui terlebih dahulu yaitu membaca, diskusi, dan menulis. Selain itu, meskipun era bergeser ke arah digital , budaya literasi dalam bentuk buku masih relevan dilaksanakan  karena dalam kenyataannya gadget bukan untuk membaca buku dalam bentuk elektronik akan tetapi untuk kegiatan lainnya. “Ilmu itu harus amaliah dan amal juga harus ilmiah”, pungkas Cak Fuad di akhir diskusi.