Malam senyap, tak ada suara kecuali bisikan angin bersama dengan gelombang laut yang datang menggulung-gulung. Kanan-kiri sepi, tak ada sorot lampu penerang jalan, mengingat malam telah larut. Cuma ada bintang-bintang yang membuat malam semakin syahdu.

Bersama teman-teman, kami saling paparkan program pembangunan desa sembari sesekali berkisah tentang cita dan asa. Inilah hidup yang sederhana, jauh dari kemegahan dan hingar bingar.

Kusarankan, sewaktu-waktu dalam hidupmu, meski sekali, sempatkanlah ke Temajuk. Kau akan dengan mudahnya bercumbu dengan alam tanpa rasa malu-malu. Hamparan pasir putih memanjang, batu-batu sebagai perhiasan pantai, serta langit senja yang tak ubahnya mengingatkanku pada senyum manismu.

Kesederhanaan sekaligus perjuangan menjadi keseharian yang mengakar kuat di masyarakat. Para nelayan yang berangkat malam pulang pagi, para Ibu yang setia mengasuh anak sembari menyelesaikan pekerjaannya sebagai seorang istri, serta anak-anak desa yang sorot matanya mengingatkanku pada puisinya Soekarno yang berjudul Aku Melihat Indonesia, bahwa “Aku bukan lagi melihat mata manusia. Aku melihat Indonesia”.

Jujur saja kekaguman ini tiada henti. Meski hidup dalam segala keterbatasan jalan, listrik, ditambah terbatasnya sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup, jauh dari pusat pemerintahan, kesehatan, perekonomian, dan seterusnya, tak membuat warga Temajuk surut berpantang. Justru dengan itu, warga Temajuk semakin cerdas untuk menyiasati hidup demi terselenggaranya penghidupan.

Lihatlah perahu, jaring, lampu petromak atau senter, dan juga laut; beserta cangkul, pupuk, serta lahan yang tumbuh subur dan menghasilkan. Semua anak, ibu, bapak, kakek, nenek, tetangga hidup dalam kecukupan; cukup beli motor, cukup bikin rumah, cukup beli makan dan minum, serta segala kecukupan lainnya.

Saya mulai berpikir, warga Temajuk adalah orang yang pandai berikhtiar dan bersyukur; sangattawadhu dengan gemar hidup dalam kecukupan.

Bukan hanya itu, berbatasan langsung dengan negeri tetangga, Malaysia, merupakan satu anugerah tersendiri bagi Temajuk. Selain karena Teluk Melano yang selama ini berperan besar dalam menunjang kebutuhan mendasar, juga karena akses yang lebih dekat dan mudah jika dibandingkan dengan pergi ke Kabupaten Sambas. Sama halnya dengan Malaysia yang juga bergantung pada perekonomian Temajuk. Hubungan timbal balik ini sudah berlangsung lama.

Barangkali, inilah yang disebut sebagai saudara.

Kemudian, berbicara tentang Temajuk tak lengkap tanpa mengetahui seluk beluk sejarahnya. Menurut Pak Farhad, tetua desa, ada setidaknya dua versi, pertama, Temajuk berasal dari kata ‘majuk’ dalam bahasa Sambas Kuno yang artinya makan. Di sini, Temajuk dahulu dijadikan sebagai tempat persinggahan para nelayan Indonesia untuk beristirahat dan makan sehabis menjual barang dagangan berupa hasil bumi ke Malaysia; atau kedua, Temajuk merupakan akronim dari “Tempat Masuk Jalur Komunis”. Dahulu sekitar tahun 1980an, Temajuk menjadi tempat persembunyian Pusat Gerakan Rakyat Serawak (PGRS) yang berideologikan komunis. 

Temajuk yang merupakan zona netral, di mana tidak diklaim sebagai jajahan milik Inggris atau pun Belanda menjadi tempat persembunyian yang paling aman. Sehingga tak heran, Temajuk kemudian dijadikan tempat latihan perang dan markas PGRS.

Terlepas dari latar belakangnya, Temajuk kini sudah berganti wajah. Temajuk semakin dikenal sebagai tempat yang tenang-menenangkan sekaligus senang-menyenangkan. Banyak wisatawan dari penjuru Kalimantan Barat, bahkan luar provinsi yang mulai memadati Temajuk. Menurut Pak Pandri, Sekertaris Desa yang juga menjabat sebagai Wakil Karang Taruna, setiap tahun selalu terjadi peningkatan jumlah wisatawan sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya.

Bersamaan dengan itu, homestay bertumbuh pesat, kebersihan semakin diperhatikan, dan tata kelola tanaman pekarangan semakin diperindah. Nah, keterlibatan mahasiswa terletak pada upaya mengembangkan sarana pendukung pariwisata, terutama di bidang Teknologi dan Informasi.

Penggunaan media sosial, website, termasuk kerjasama dengan berbagai komunitas dalam menggelorakan pariwisata Temajuk menjadi prioritas selanjutnya, disamping dengan ditunjangnya  infrastruktur jalan dan penerangan.  

Pembangunan non-fisik juga tak boleh dilupakan. Manusia sebagai subyek membutuhkan pendidikan yang layak serta berkualitas. Untuk membentuk peserta didik yang cerdas akal budi diperlukan peningkatan kapasitas dari pendidik, pemenuhan sarana dan prasarana, perhatian orangtua, serta gizi dan kesehatan yang memadai. Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Di titik ini, Temajuk bak anak kucing yang mengeong seolah merengek, kekurangan makan dan minum. Tapi, anak kucing ini seperti menemukan pengasuh yang baik hati. Pengasuh memberikan kasih dan sayangnya setulus hati sehingga anak kucing tak lagi merasa kekurangan. Adalah mereka yang peduli dengan tumbuh kembangnya Temajuk. Perwajahan baru coba diperkenalkan oleh pamong desa, pengunjung, komunitas, dan juga mahasiswa KKN.

Dengan begitu, Temajuk dapatlah kita sebut sebagai surga bagi para petualang, tempat bulan madu paling menantang, dan rumah bagi mahasiswa KKN-PPM UGM. Sungguh, bagiku hidup bersama mereka merupakan pengayaan bathin dan petualangan kemanusiaan yang tak terlupakan.

Sesekali, jika dilanda rindu orang-orang tersayang, senja di Temajuk menjadi penawarnya. Jika kutemukan tanya dari rancangan kerja program Kuliah Kerja Nyata, maka jawabannya dapat kutemui dari teriknya sinar mentari, dan lautan bintang, serta purnama ketujuh. Suatu kebahagiaan bisa duduk dan berdiam diri ditepi pantai dalam gelap yang tanpa orang mengutuknya. Menapaki bumi yang lain, yang mungkin saja suatu hari nanti dapat kau pijaki.

Selamat menikmati semua kebaikan dari Temajuk. Surga di ekor Kalimantan.

Ditulis oleh :

Alfath Bagus Panuntun

Angkatan 7 Rumah Kepemimpinan

Regional 3 Yogyakarta

dimuat di https://www.selasar.com/budaya/tentang-temajuk-surga-di-ekor-kalimantan