Hari Rabu, 27 Juli 2016, menjadi saksi nyata atas terlaksananya kegiatan “HEROBOYO GO” yang dilaksanakan oleh stakeholder Rumah Kepemimpinan Regional 4 Surabaya. Nama yang terinspirasi dari sebuah game terkini yaitu POKEMON GO adalah kegiatan untuk mengenal daerah Surabaya secara mendalam begitupun sejarahnya. Agenda yang namanya berasal dari kata “HEROBOYO” yang berarti nama inisial dari Regional Surabaya ini dikhususkan untuk para peserta angkatan 8 regional Surabaya.

Adapun kegiatannya dimulai dari pagi hari, tepatnya pukul 07.00 para peserta sudah siap dengan kondisi sudah makan dan diberi kode yang menandakan “HERO STOP” yaitu setiap spot atau pos yang ada di Surabaya untuk dikunjungi. Istilah POKE STOP pada game Pokemon berarti sebuah tempat untuk mengisi kebutuhan yang diperlukan monster.

Contoh salah satu dari kelompok, mendapat kode yang didapat dari sistem QR CODE oleh salah satu kelompok yaitu “MERAH PUTIH BIRU”. Setelah di interpretasi, kelompok ini menyimpulkan bahwa tempat yang dikunjungi menurut kode ini adalah Hotel Majapahit (dulunya Hotel Yamato) yang menjadi saksi sejarah) atas dirobeknya bendera Belanda menjadi bendera Indonesia.

Kelompok lain juga mendapat tempat yang berbeda-beda pada pos pertama, ada yang ke Bambu Runcing, Makam Pahlawan, dan lain sebagainya.

Perjalanan pun tidak difasilitasi kendaraan, semua inisiatif kelompok untuk bisa “survive” dengan uang yang dibatas hanya 35.000 rupiah per kelompok (1 kelompok 6-7 orang). Sehingga, ada kelompok yang berjalan sampai 7km, ada juga yang mencari-cari tumpangan “mobil bak” yang melewati jalan. Bahkan ada salah satu kelompok yang sudah menipis keuangannya, jadi tak sungkan-sungkan untuk “ngamen” di lampu merah yang ada di sudut-sudut kota. Tapi, kejadian yang menarik yang bisa diambil adalah nilai moralnya, ketika uang sudah terkumpul (sekitar 8.000 rupiah) tiba-tiba ada seorang ibu yang mengendarai motor bersama anaknya terhenti di persimpangan lampu merah. Ketika kelompok ini dekati ternyata sang Ibu kehabisan bensin sehingga motor tidak bisa berjalan. Akhirnya, dari kelompok tersebut berinisiatif membeli bensin di pom terdekat dan memberikannya ke ibu itu, tentunya dengan memakai uang hasil “ngamen” tadi.

Bisa disimpulkan, perjalanan ini tidak hanya sebatas pergi dari satu pos ke pos yang lain dan sekadar memecahkan kode. Tapi, disini juga diajarkan bahwa masih banyak pelajaran yang diambil baik moral atau sosial dari jalanan di kota besar. Bahkan, dari seorang pengamen atau pemulung sekalipun kita dapat belajar apa arti hidup dan perjuangan.

Sesampai di pos, setiap kelompok memperlihatkan yel-yel kelompok dan menghafal Idealisme Kami, mars, dan hymne Rumah Kepemimpinan. Selain itu, yang tak kalah menarik, di setiap tempat yang dikunjungi dijelaskan bagaimana sejarah dari lokasi yang ada di tempat tersebut dan nilai apa yang bisa diambil disana. Sehingga, para peserta mendapat wawasan baru dan kepekaan lingkungan terhadap lokasi yang dikunjunginya.

Pada akhirnya, dari setiap kelompok pada pos selanjutnya, menghubungkan semuanya untuk datang ke masjid Cheng Hoo untuk isitrahat dan sholat, sekaligus wisata religi dan penjelasan para pejuang Islam seperti Muhammad Cheng Hoo. Setelah itu, barulah melanjutkan perjalanan terakhir yaitu ke Tugu Pahlawan yang sampai pada pukul 14.30. Tempat yang menjadi ikon utama Surabaya, kebanggaan untuk para pahlawan. Disana peserta Rumah Kepemimpinan regional 4 Surabaya melaksanakan apel di Tugu Pahlawan, tepat didepan kantor gubernur Jawa Timur. Disana, para peserta dengan semangatnya mengumandangkan Idealisme Kami, mars, dan hymnenya. Serta, dengan gagahnya para peserta berbaris tanpa ada keraguan sedikit pun, meski badan sudah mulai lelah karena perjalan panjang seharian. Disitupun, Manajer Regional juga memberi “wejangan” saat apel berlangsung apa makna yang bisa diambil dari “safar” ini.

Setelah selesai apel, barulah dikumandangkan jargon penyemangat angkatan 8 regional 4 HEROBOYO, yaitu “SATU NYALI, WANI!” (Satu nyali, berani!), lalu dilanjutkan de

ngan perjalan pulang ke asrama dengan bahagia.

Intinya, sebuah pembelajaran dapat diambil dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun. Meski hanya dari daun yang jatuh dari pohonnya.

Salam Pemimpin Muda!