Walaupun hujan deras sudah mengguyur Bogor sejak pagi, tapi kegiatan hari ini akan tetap berjalan. Bahkan sungai samping asrama pun ikut meluap saking derasnya hujan hari ini. Sharing Alumni dan Open House yang diselenggarakan oleh Rumah Kepemimpinan (RK) Regional V Bogor tetap berlangsung dengan euforia dan antusiasme.

 

Kali ini Kak Gugi Yosgaswara alumni RK angkatan V yang akan berbagi inspirasi pada para calon alumni dan calon peserta RK yang ikut Open House hari ini. Gayanya yang santai serta humoris membawa suasana mendung pagi ini menjadi cerah. Ditambah dengan materi yang lebih mencerahkan.

 

Beliau mengawalinya dengan kisahnya saat menjadi peserta RK. Angkatan V adalah angkatan yang pertama kali menempati asrama yang benar benar milik RK. Karena dulu asrama yang benar-benar milik RK hanya ada di dua regional yaitu di Bogor dan di Jakarta dari lima regional yang ada. Hal ini patut disyukuri namun juga menjadi tantangan sendiri karena mendapatkan fasilitas yang lebih baik.

 

Walaupun asrama baru, belum tentu kehidupannya akan tenang. Kak Gugi Yogaswara menceritakan sisi gelap asrama baru ini. Mulai dari kelakuan oknum penghuninya yang merugikan penghuni lain sampai ada beberapa motor hilang saat malam hari. Bahkan dari asrama baru ini ada saja yang menjadi alumni tanpa kabar.

 

Meskipun demikian perjuangan serta usaha mayoritas penghuninya tidak bisa diremehkan. Dari angkatan beliau lahir alumni yang sukses sebagai sociopreneur. Para peneliti dan dosen yang handal. Bahkan seorang presma yang juga mapres. Hasil ini bukanlah hasil yang biasa saja.

 

Lanjut ke materi utama hari ini yang membahas tentang mindset. Mindset merupakan sebuah dasar dalam pengambilan suatu keputusan dalam hidup. Mindset juga merupakan latar belakang terbentuknya sebuah character. Mindset juga yang akan membentuk sebuah kebiasaan seseorang. Akhirnya mindset akan menentukan nasib hidup seseorang bahkan menentukan nasib sebuah bangsa.

 

Kak Gugi menghubungkan mindset dengan fase kehidupan dan tujuan kehidupan. Mindset akan berubah seiring dengan fase kehidupan yang akan berpengaruh terhadap tujuan yang ingin dicapai. Contoh kasus perubahan mindset terjadi pada saat fase pasca kampus. Di kampus seorang mahasiswa akan dengan mudah memegang idealisme. Namun pada saat pasca kampus idealisme tersebut akan terasa terbentur dengan realita yang ada. Misalnya idelisme sang mahasiswa yang setelah lulus ingin bekerja sesuai bidang. Namun nyatanya di lapangan mereka sulit mendapat kerja di bidangnya sehingga melepas idealismnya demi memenuhi kebutuhan primer mereka.

 

Padahal menurut beliau bisa saja idealisme dan realita tidak ada hubungannya sehingga tidak perlu untuk dibenturkan. Yang perlu dilakukan adalah membuat idelisme realistis. Ataupun membuat idealisme yang dapat bertahan menghadapi realita. Sehingga istilah idealisme vs realita akan segera sirna.

 

Kak Gugi juga membuat model kehidupan seseorang dalam mendapatkan hasil dari sebuah mindset. Diawali seseorang tersebut mendefinisikan fase kehidupannya. Fase tersebut dia telah mendapatkan idealisme atau mindsetnya sendiri. Kemudian akan datang ancaman pertama yang menggoyahkan mindset awal dia. Lalu bertemu dengan wrong mindset atau pikiran yang salah. Hal ini akibat dari miskin referensi maupun motivasi. Sehingga perlu memperkaya hal tersebut. Lalu beralih pada tahap transisi, tahap ini juga adalah tahap kontemplasi seseorang yang akan menemukan right mindset. Right mindset telah berhasil jika kondisi dirinya sudah dapat mengontrol ancaman pertama. Setelah itu akan muncul ancaman kedua yang akan menghambat tujuan yang telah dibuat. Setelah ini hasil akan terlihat. Sesudah ancaman kedua seseorang akan menentukan jalan mindset selanjutnya, wrong or right. Kak Gugi memberikan kasus seseorang yang menjadi socioprener. Kak Alfi Founder Agrisocio adalah contoh yang telah melewati jalur model tersebut dan mendapatkan right mindset.

 

Demikian sharing alumni dengan Kak Gugi Yogaswara, seorang pribadi yang humoris. Perilaku humorisnya tidak mengurangi makna dibalik materinnya. Mindset seperti pisau bermata dua, dapat mengalahkan hambatan atau justru membunuh pemiliknya sendiri.

 

Sharing Alumni ditutup dengan foto bersama. Lalu dilanjutkan dengan Open House. Peserta Open House selain mendapatkan materi yang unik tadi juga diberi kesempatan mengelilingi sudut asrama RK. Peserta berdiskusi bersama RK sehingga dapat menguatkan niat mereka untuk ikut berkontribusi dan sukses bersama Rumah Kepemimpinan untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.